Sabtu, 24 Desember 2011

Lima Prioritas Solusi Membangun Technopreneurship




Oleh: Prof. Carunia Mulya Firdausy, Ph.D.

Guru Besar dan profesor riset bidang ekonomi Pusat Penelitian Ekonomi LIPI


Rendahnya pemanfaatan inovasi bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kembali disoroti harian ini, beberapa waktu lalu. Penyebabnya, menurut Menteri Riset dan Teknologi dalam sambutannya pada kuliah perdana creative technopreneurship bagi mahasiswa baru tahun ajaran 2011/2012 di Kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN), yakni tidak jalannya iklim technopreneurship sehingga perlu dibenahi. Ninok Leksono sebagai Rektor UMN juga mendukung pernyataan Menristek dan mengatakan agar inovasi iptek sukses, diperlukan semangat entrepreneurship yang melibatkan banyak anggota masyarakat.

Bagi negara di Asia Timur seperti Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Jepang, membangun technopreneurship bukan pekerjaan sulit. Paling tidak enam sektor yang menjadi perhatian utama dan dijalankan secara sistematis, padu, dan konsisten. Keenam sektor tersebut ialah sektor pendidikan, penelitian, perdagangan, investasi, industri, dan keunngan. Keberhasilan pembangunan keenam faktor tersebut didukung pula oleh kondisi umum ekonomi, pemerintahan, dan infrastruktur yang memadai (baca Brahmbhatt dan Hu: 2007 dan Bank Dunia: 2010).

Selain faktor makro tersebut, faktor mikro yang berkaitan dengan ukuran dan berfungsinya pasar di negara tersebut juga kondusif. Faktor pasar itu, menurut hasil penelitian Adam Szirmai dkk (2010), memiliki korelasi signifikan terhadap perkembangan inovasi dan spesialisasi oleh entrepreneurs. Pentingnya faktor pasar itu tentunya bukan temuan baru karena telah dinyatakan Adam Smith pada abad 18 dalam bukunya, Wealth of Nations, dan Schumpeter (1934) dalam bukunya, The Theory of Economic Development. Lantas, mengapa di Indonesia sulit? Apa akar masalahnya?
. '
Akar masalah
Pengalaman menunjukkan akar masalah utama di sini bukan terletak pada ketidaktahuan kita terhadap komponen atau faktor apa yang menjadi prasyarat dan syarat yang dibutuhkan dalam membangun technopreneurship. Begitu pula dengan konsep, kebijakan, program regulasi, dan apalagi institusi untuk membangun technopreneurship. Singkatnya, nyaris semua supply, side factors yang diperlukan dalam membangun technopreneurship tersebut telah dibangun di sini.

Yang belum ada atau berkinerja buruk ialah pemaduan dan pelaksanaan keterkaitan faktor supply yang telah dibangun dengan upaya menumbuhkan dan menciptakan permintaan (demand side) pasar domestik terhadap technopreneurship. Contoh yang paling nyata kegagalan pasar itu ialah 'mandeknya' pelaksanaan Peraturan Pemerintah No 35 Tahun 2007 tentang Alokasi Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan, Inovasi, dan Difusi Teknologi. Peraturan pemerintah itu sampai kini nyaris tidak mendapat respons dari pelaku usaha baik pelaku usaha besar, dan apalagi pelaku usaha menengah.

Demikian pula dengan pelaksanaan Agenda Riset Nasional (ARN) 2010-2014 yang disusun Dewan Riset Nasional (DRN) dan telah ditandatangani Presiden yang sampai kini juga masih merupakan dokumen belaka dan belum dilaksanakan baik oleh LPNK (lembaga penelitian nonkementerian) dan LPK (lembaga penelitian kementerian), apalagi oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang di daerah.

Lebih parah lagi dengan adanya gonta–ganti kebijakan dan program pembangunan iptek sebagai akibat berubahnya pimpinan di Kementerian Riset dan Teknologi maupun di kementerian atau institusi terkait lainnya, lembaga litbang yang 'dibawahkan' Kementerian Ristek, perguruan tinggi, industri, dan para pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya menjadi 'bingung' dalam menjalankan fokus kebijakan dan program pembangunan dan penguasaan iptek. Institusi itu kini cenderung berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan selera masing-masing.

Belum lagi bicara soal penggunaan fasilitas technopreneurship yang masih berjalan dengan prinsip 'ini punya gue dan elu kagak boleh pake'. Padahal, sumber dana dari alat dan perlengkapan iptek tersebut berasal dari satu sumber dana, yaitu APBN atau APBD. Kalau begitu, bagaimana prioritas solusinya?

Prioritas solusi

Untuk mengurai 'benang kusut' pembangunan technopreneurship, paling tidak terdapat lima prioritas solusi yang harus dilakukan. Pertama, pemerintah harus memiliki komitmen dan kepemimpinan yang kuat untuk membangun technopreneurship. Grand design yang berisi visi, misi, strategi, kebijakan, program dan regulasi, serta kelembagaan technopreneurship yang terintegrasi memang mutlak perlu. Namun, semua itu harus diikuti komitmen dan kepemimpinan yang kuat untuk melaksanakannya. Jika tidak, hasilnya pasti nihil atau berjalan di tempat.

Kedua, 'gonta-ganti' kepemimpinan memang bisa saja dilakukan. Namun, semestinya tidak selalu harus diikuti dengan perubahan fokus strategi dan kebijakan pembangunan technopreneurship jangka menengah dan panjang. Demikian pula dengan menjamurnya institusi seperti Komite Inovasi Nasional (KIN) dan Komite Ekonomi Nasional (KEN), yang terjadi belakangan ini semestinya tidak menambah 'kesemrawutan' dalam koordinasi dan sinergi kebijakan dan program pembangunan iptek nasional secara umum.

Ketiga, pengembangan supply side factors yang ada dan yang akan dikembangkan untuk membangun technopreneurship harus diikuti dengan kebijakan dan program berserta implementasi dari sisi permintaannya. Pasalnya, hukum yang menyatakan supply creates its own demand (Say's Law) tidak dapat diharapkan bekerja dalam konteks membangun technopreneurship di sini. Hal itu terutama karena fungsi pasar di sini tidak berjalan dengan baik seperti halnya di negara-negara industri dan maju. Padahal, berjalannya fungsi pasar merupakan syarat mutlak bagi pelaku usaha untuk memperoleh laba.

Keempat, bangunan technopreneurship yang didirikan tidak mesti bergantung pada hasil litbang (R&D) semata. Selain mahal, memerlukan waktu dan proses yang lama untuk mencapai pasar. Oleh karena itu, upaya keras untuk menemukenali dan kemudian memanfaatkan kemampuan sumber daya dan teknologi lokal yang tersedia harus diutamakan. Namun jika hal ini masih sulit untuk dilaksanakan, upaya transfer teknologi baik melalui penanaman modal asing, lisensi, bantuan teknis, penyalinan dan reverse engineering, maupun kerja sama dengan pihak asing tidak boleh diharamkan.

Kelima, reformasi sistem pendidikan tinggi formal yang tidak berimbang antara pengembangan disiplin ilmu sosial dan pengembangan ilmu-ilmu dasar, perekayasaan dan aplikasi teknologi. Demikian pula perbaikan dalam hal pelaksanaan penelitian yang dilakukan pergurunan tinggi dan lembaga penelitian yang masih berat tekanannya pada penelitian murni untuk menghasilkan konsep belaka dan kurang diarahkan untuk memberikan kontribusi ekonomi, kesejahteraan dan kemanfaatan bagi masyarakat secara eksplisit. Semoga. (Media Indonesia, 12 Oktober 2011/ humasristek)

Minggu, 18 Desember 2011

Pendidikan Nanoteknologi

Pendidikan Nanoteknologi

"Menyediakan tenaga dan waktu ekstra melebihi apa yang dilakukan rata-rata orang. Kadang menggunakan waktu libur dan waktu di luar jam kerja resmi untuk terus berkarya. Hasil yang lebih besar hanya dapat dicapai dengan meluangkan tenaga dan waktu lebih banyak."
~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)

Nanotechnology Educational Resources and Activities for K-12 Teachers

Nanotechnology in the Curriculum


So where does Nanotechnology fit in the curriculum? On one hand, it is not Physics, Biology, or Chemistry. On the other hand, it is all of them ! It is where engineering and science meet. Is nanotechnology a subject of its own, or is it just a way of thinking about other subjects?



More Info >


Guide to Nanotechnology Demonstrations


The NNIN has developed this guide to assist others in how to use some nanotechnology education materials from NNIN and other nano education programs as short demonstrations. These are not full scale lessons but short 5-10 minute demos suitable for use with groups of all ages.


Link to pdf document >

Research Experience for Teachers


NNIN does not have its own network-wide RET program. Five NNIN Sites do, however, have an RET program funded by the National Science Foudnation. Participants conduct cutting edge research and develop classroom materials related to nanotechnology.


More info>

Teacher Workshops in Nanotechnology


The NNIN offers and is further developing teacher workshops for middle and high school teachers. The duration varies by site but typically run from one to three days. Workshop content explores how to incorporate standards-based instructional units related to nanotechnology into the science classroom. Some sites offer nanofabrication workshops where teaches explore the fundamentals of nanofabrication processes. This section will provide information on how you can learn about workshops at the various sites

More Info >


Jumat, 16 Desember 2011

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonsia 2011-2025

Details

Mempertimbangkan berbagai potensi dan keunggulan yang dimiliki, serta tantangan pembangunan yang harus dihadapi, Indonesia memerlukan suatu transformasi ekonomi berupa percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi menuju negara maju sehingga Indonesia dapat meningkatkan daya saing sekaligus mewujudkan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia

Versi FlipBook (Versi Indonesia)

Versi FlipBook (Versi Inggris)

PDF (indonesia)

PDF (Inggris)

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonsia 2011-2025

Details

Mempertimbangkan berbagai potensi dan keunggulan yang dimiliki, serta tantangan pembangunan yang harus dihadapi, Indonesia memerlukan suatu transformasi ekonomi berupa percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi menuju negara maju sehingga Indonesia dapat meningkatkan daya saing sekaligus mewujudkan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia

Versi FlipBook (Versi Indonesia)

Versi FlipBook (Versi Inggris)

PDF (indonesia)

PDF (Inggris)

Kamis, 24 November 2011

SBY : Menguji Strategi Triple Tracks via Bioenergi



Oleh:

Prof. Kusmayanto Kadiman, Ph.D.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah seorang sosok jenderal TNI-AD dengan intelektualistas tinggi. Citra ini yang membuat SBY saat menjabat Menko Polhukam semasa kepresidenan GusDur senantiasa mendapat sambutan antusias dari kalangan kampus.


Kesan TNI yang keras dan bernuansa vertikal ala komando dilembutkannya melalui tampilan bersahabat dan pidato yang cerdas. Bak sebuah anomali dalam citra TNI. SBY juga sosok pembelajar. Dari guru sekaligus panutannya, Presiden dan Jenderal Besar HM Soeharto, SBY belajar bahwa pendekatan dan strategi pembangunan the trickle down effect gagal dalam memenuhi janji kemerdekaan yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Strategi mendahulukan pembangunan ekonomi yang kemudian dipercaya berdampak positif pada pemerataan ekonomi dan peningkataan kesejahteraan rakyat tidak tepat sasaran.

Ditengarainya, hanya yang kaya yang bertambah kaya, sedang kemiskinan tetap bahkan semakin menghantui. SBY sejak akhir 2004 kemudian menawarkan sebuah pendekatan baru (a new deal) yaitu strategi the trpiple tracks.

The Triple Tracks: Pro-growth, Pro-job, Pro-poor

Pendekatan tiga jalur pembangunan yang digemakan oleh SBY dilakukan secara simultan agar satu kiat pembangunan tidak mendahului dua kiat lainnya. Sasaran utama the new deal ini adalah untuk menyeimbangkan sasaran dan upaya pembangunan ekonomi (pro growth) dengan dua jalur lain yaitu penciptaan lapangan kerja baru (pro job) dan mengentaskan rakyat dari kemiskinan (pro poor).

Dalam situs pribadinya, SBY menjelaskan:

Dengan triple tracks strategy ini, pembangunan ekonomi nasional dilakukan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melalui peningkatan investasi dan perdagangan dalam dan luar negeri. Pembangunan ekonomi juga ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja dengan memutar sektor riil, dan bersamaan dengan itu, pembangunan ekonomi di fokuskan untuk mengurangi kemiskinan melalui kebijakan revitalisasi pertanian dan pedesaan, serta program-program pro-rakyat.

Sebuah pendekatan pembangunan yang menjanjikan.
BBN: Menyandingkannya Dengan Trio Petahana Fosil

Trio fosil adalah istilah umum untuk tiga jenis sumber energi yang berasal dari proses jutaan bahkan milyaran tahun yang terjadi secara alami (fisikokimia) dalam perut bumi dimana flora dan fauna masuk kedalam perut bumi tertarik gravitasi bumi dan tertekan oleh bebatuan dan mineral dalam fenomena geologi. Fosil flora dan fauna ini lazim dikenal sebagai fosil dan menjadi sumber energi yang menjadi andalan umat manusia sejak dekade 60. Sumber energi itu kini popular kita kenal sebagai minyak bumi, gas dan batubara dan sering kali juga dituding sebagai trio petahana (incumbent). Khusus untuk keperluan transportasi, industri dan rumah tangga, minyak bumi diproses di kilang penyulingan untuk menghasilkan beragam produk dan utamanya menghasilkan bahan bakar minyak (BBM).


Pada perioda akhir dekade 60 sampai akhir dekade 90, Indonesia surplus sehingga setiap kenaikan harga minyak bumi dengan satuan USD/barrel berdampak positif terhadap perekonomian kita. Sejak RI berstatus nett-importer kondisi berbalik, kenaikan harga minyak bumi senantiasa memukul sistem perekonomian kita, mengingat belanja kita akan minyak impor telah melampaui pendapatan kita dari ekspor.

Oktober 2005 adalah kondisi tersulit bagi SBY dari perspektif BBM akibat meroketnya harga minyak mentah. Sumber energi gas tidak bisa menjadi andalan karena selain belum besar produksinya, juga akibat perjanjian perdagangan jangka panjang yang telah dibuat Pemerintah RI dalam melakukan ekspor gas, khususnya dengan China dan Singapore. Sedangkan cadangan batubara yang begitu besar belum siap menjadi alternatif pengganti BBM. Menaikkan harga BBM adalah keputusan non-populer yang dengan tegas diambil SBY. Terjadi gejolak politik namun berhasil distabilkannya.

Sambil menghadapi dinamika politik akibat keputusan tegas menaikkan harga BBM, SBY menggagas sebuah pemikiran dan inisiatif strategis, yaitu mengeksploitasi sumber energi biologi yang kemudian popular dengan istilah bioenergi. Para pembantunya di kementerian, lembaga pemerintah non-kementerian dan BUMN diajak melakukan “Losari Retreat” yaitu pertemuan atau rapat terbatas yang tidak terlalu formal namun membahas isu penting dan menetapkan sederet langkah strategis.

Banyak berita tentang petermuan di Desa Grabag ini. Salah satu yang sahih adalah blog Presiden RI yang memuat berita seperti berikut:

Minggu, 2 Juli 2006, 09:07:33 WIB

Presiden SBY menjelaskan, “bahwa tadi malam (Sabtu, 1/7), saya telah membuka pertemuan dengan suasana alam yang sejuk, udara segar, dan hari ini kita lanjutkan lagi secara maraton, sampai malam, membahas bagaimana memanfaatkan bioenergi untuk kesejahteraan masyarakat di masa akan datang. Sayang kalau kita tidak memanfaatkannya,” kata SBY yang mengenakan baju olahraga berwarna kuning.

“Di Losari ini, kita khusus membahas upaya pengembangan bio energi, untuk menciptakan lapangan kerja, dan akhirnya mengurangi kemiskinan, meningkatkan suplai energi dalam negeri, mengurangi devisa, dan menggerakkan ekonomi lokal. Wilayah yang akan kita bangun adalah daerah pedesaan, daerah yang sektor pertaniannya luas. Dengan demikian tentu banyak hal dapat kita lakukan pada sentra-sentra wilayah itu,”

Pada rapat di Losari, lanjutnya, “Kita telah putuskan empat komoditas yang akan kita bangun, kita tumbuhkan dalam sebuah perkebunan yang akhirnya kita olah dan kita produksi menjadi bahan bakar nabati. Pertama adalah tebu untuk etanol, kedua singkong untuk etanol, ketiga kelapa sawit untuk biodiesel, dan terakhir jarak-pagar untuk biodiesel. Itu yang telah kita susun. Untuk itu kita berharap bisa menggunakan lahan yang tersedia, harapan kita bisa mencapai 3 – 5 juta hektar di seluruh tanah air,” tambahnya.

“Untuk mencapai keberhasilan penggunaan bahan bakar nabati ini, ada lima faktor penentu yang kita juga bahas secara mendalam. Pertama, ketersediaan lahan di seluruh tanah air. Untuk itu mengapa kita juga mengundang beberapa Gubernur, Menteri Kehutanan serta Kepala Badan Pertanahan, agar dapat dipastikan bahwa data yang ada tentang lahan kritis, lahan tidur dan lahan tandus datanya benar. Kedua, karena kita mengolah, maka kita membutuhkan mesin-mesin, pabrik-pabrik, dan saya bersyukur karena dari PT Pindad dan PT PAL tadi menyampaikan bahwa secara nasional kita memiliki kemampuan untuk itu.”

Ketiga, lanjut Presiden, infrastruktur sebahagian sudah ada, sebahagian barangkali kita bangun. “Keempat adalah pasar, jaminan bahwa produksi itu akan diserap. Dan kelima, pendanaan. Segi pendanaan ini tidak mungkin semua kita tanggung melalui APBN kita. Dan memang tidak harus begitu. Kita melakukan usaha, bisa melibatkan swasta, baik dalam maupun luar negeri, dengan kerangka kerjasama yang baik,” kata Presiden mengakhiri keterangannya.

Mengingat keempat jenis tanaman untuk menghasilkan dua jenis bahan bakar yang ditetapkan dalam Losari Retreat itu semua berasal dari sumber nabati maka kedua jenis bahan bakar: bioetanol dan biodiesel itu dipopulerkan dengan nama generik Bahan Bakar Nabati (BBN).

Kesungguhan SBY dalam mendorong pertumbuhan produksi nasional menghasilkan BBN ini kemudian ditunjukkannya dengan menerbitkan sebuah keputusan yang merupakan hak prerogative Presiden yaitu Instruksi Presiden (InPres) tentang Penyediaan dan Pemanfaatan BBN. Kebijakan SBY ini dikenal sebagai InPres nomor 1, 2006.

BBN ini sungguh merupakan sebuah niat luhur SBY dalam memenuhi janji kemerdekaan yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat dan ketahanan nasional, khususnya dari perspektif kemandirian bahan bakar cair. Penyandingan serasi BBN dengan BBM.

Tidak berhenti disitu, SBY juga telah dengan tegas menetapkan Kebijakan Bauran Energi (Energy Mix Policy) di 2006 yang menjadi panduan bagi semua pemangku kepentingan energi nasional. Ketergantungan pada trio petahana dikurangi dan dibarengi dengan mendorong pertumbuhan produksi energi dari sumber terbarukan (renewable energy) termasuk BBN serta konservasi energi melalui peningkatkan efiseinsi penggunaan energi.

Perjuangan luhur SBY menuju kemandirian bahan bakar cair BBN dan BBM dengan menerapkan strategi The Triple Tracks ini mengalami banyak kerikil dan jurang penghalang bahkan perjalanannya melalui jalanan berkelok dan terjal. Tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, membuka banyak lapangan kerja baru dan peningkatan kesejahteraan seperti masih jauhnya panggang dari api.

Ide besar telah digagasnya dan kebijakan telah pula ditelorkannya. Namun mengapa BBN masih seperti si-kerdil jika dibandingkan dengan si-raksasa BBM? BBM masih jaya sebagai petahana.

Beberapa hal berikut masih menjadi pekerjaan rumah:

1. Komitmen alokasi anggaran (APBN dan APBD) yang mengikuti Losari Retreat, Inpres dan Kebijakan Bauran Energi.

2. Affirmative Action yang menunjukkan keberpihakan pada BBN. Dan, tidak membiarkan BBN bertanding dengan BBM mengikuti mekanisme pasar.

3. Kepemimpinan Efektif dalam mengawal implementasi strategi The Triple Tracks khususnya untuk bioenergi.


Semoga perjuangan luhur SBY ini menjadi gading warisan sang gajah.

2014 masih jauh dan jangan lupakan semboyan — Indonesia Bisa !
(kompasiana.com/kusmayantokadiman/ humasristek)

Jumat, 18 November 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

Memproduksi Energi Secara Efisien dengan Nanoteknologi


Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

Motto:
Nano Teknologi Indonesia untuk Dunia
"Berpikir secara parallel, yaitu kemampuan memecahkan sejumlah masalah pada saat yang bersamaan. Walaupun awalnya sulit, dengan berlatih terus-menerus kita akan memiliki kemampuan berpikir parallel dan dapat mencapai hasil yang beragam secara maksimal pada saat yang hampir bersamaan."
~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)
Visi


Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano



Teknologi nano dapat digunakan untuk mengembangkan sistem energi yang berkelanjutan sambil mengurangi efek berbahaya dari bahan bakar fosil sebagai mereka bertahap berakhir sampai abad berikut. Skenario optimis akan datang mendekati kenyataan sebagai teknologi baru seperti biomimetika dan peka Sel surya Dye (DSCs) muncul dengan janji besar untuk menangkap atau menyimpan energi matahari, dan nanocatalysis mengembangkan katalis yang efisien untuk menyimpan proses-industri energi. Eropa siap untuk mempercepat pengembangan teknologi ini, sebagai delegasi mendengar di sebuah konferensi baru-baru ini, Nanoteknologi untuk Energi Berkelanjutan, diselenggarakan olehEuropean Science Foundation (ESF) dalam kemitraan dengan Fonds zur Förderung wissenschaftlichen der Forschung di Österreich (FWF) dan Leopold- Franzens-Universität Innsbruck (LFUI).

Konferensi ini berfokus pada surya kita daripada sumber energi berkelanjutan seperti angin, karena di situlah nanoteknologi paling berlaku dan juga karena konversi energi matahari memegang janji terbesar sebagai pengganti jangka panjang bahan bakar fosil. Energi surya dapat dipanen secara langsung untuk menghasilkan listrik atau untuk menghasilkan bahan bakar seperti hidrogen untuk digunakan pada mesin. bahan bakar tersebut pada gilirannya juga dapat digunakan langsung untuk membangkitkan listrik di pembangkit listrik konvensional.

"Potensi tenaga surya jauh, jauh lebih besar dalam jumlah mutlak daripada angin," kata Profesor Bengt Kasemo dari Chalmers University of Technology dan kursi dari konferensi ESF. Namun, seperti angin, potensi pembangkit listrik tenaga surya sangat bervariasi di seluruh waktu dan geografi, yang terbatas pada siang hari dan kurang cocok untuk daerah di lintang yang lebih tinggi, seperti Skandinavia dan Siberia. Untuk alasan ini ada tumbuh bunga dalam gagasan tentang jaringan listrik global sesuai Kasemo.

"Jika energi surya adalah dipanen mana yang paling melimpah, dan didistribusikan pada jaring global (mudah untuk mengatakan - dan, tapi bukan tidak mungkin tugas yang sulit untuk dilakukan) akan cukup untuk mengganti sebagian besar pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil hari ini, "kata Kasemo. "Hal ini juga akan menyelesaikan hari / masalah malam dan karena itu mengurangi kebutuhan penyimpanan karena matahari selalu bersinar di suatu tempat."

Dalam waktu dekat, teknologi solid state berdasarkan silikon cenderung mendominasi produksi (manufaktur) sel surya, namun DSC dan lainnya "pelari up" kemungkinan untuk menurunkan biaya dalam jangka panjang, menggunakan bahan semikonduktor lebih murah untuk menghasilkan kuat fleksibel contoh lembar cukup kuat untuk menahan hentakan dari hujan es untuk. Walaupun kurang efisien dari yang terbaik silikon sangat atau sel lapisan tipis menggunakan teknologi saat ini, harga mereka lebih baik / kinerja telah memimpin Uni Eropa untuk memprediksi bahwa DSCs akan menjadi kontributor yang signifikan untuk produksi energi terbarukan di Eropa pada tahun 2020.

DSC diciptakan oleh Michael Grätzel, salah satu pembicara dan kursi wakil pada konferensi ESF. Titik kunci untuk muncul dari konferensi ESF, meskipun, adalah bahwa akan ada pilihan yang tumbuh dan kompetisi antar muncul nanoteknologi berbasis teknologi konversi solar. "Saya kira fakta penting adalah bahwa ada persaingan kuat dan yang terpasang tenaga surya berkembang sangat pesat, meskipun dari basis yang kecil," kata Kasemo "." Ini akan mendorong harga turun dan matahari menghasilkan listrik lebih banyak dan lebih kompetitif.

Beberapa yang paling menarik dari alternatif ini terletak pada bidang biomimetika, yang melibatkan proses meniru yang telah disempurnakan dalam organisme biologis melalui ribuan tahun evolusi. Tumbuhan dan kelas bakteri, cyanobacteria, telah berevolusi fotosintesis, yang melibatkan panen cahaya dan pemisahan air menjadi elektron dan proton untuk menyediakan aliran energi yang pada gilirannya menghasilkan molekul kunci kehidupan. Fotosintesis potensial dapat dimanfaatkan baik di-rekayasa genetik organisme, atau benar-benar sistem buatan manusia buatan yang meniru proses, untuk menghasilkan karbon bebas bahan bakar seperti hidrogen,. Atau bisa tweak fotosintesis untuk menghasilkan bahan bakar seperti alkohol atau bahkan hidrokarbon yang memang mengandung molekul karbon tetapi recycle mereka dari atmosfer dan oleh karena itu tidak membuat kontribusi bersih ke tingkat karbon dioksida di atas tanah.

Biomimetika juga bisa memecahkan masalah lama tentang bagaimana untuk menyimpan sejumlah besar tenaga listrik secara efisien. Ini akhirnya bisa membuka jalan bagi kendaraan bertenaga elektrik dengan memungkinkan mereka akhirnya untuk mencocokkan kinerja dan berbagai bensin atau rekan-rekan berbasis diesel. Satu sorot dari konferensi FEE adalah presentasi oleh Angela Belcher, yang memainkan peran utama dalam merintis kawat nano dibuat dari virus di Institut Teknologi Massachusetts (MIT) di Amerika Serikat. Aneh memang kedengarannya, ada jenis virus yang menginfeksi bakteri E.coli (bakteriofag a) lapisan mampu melakukan sendiri di-elektrik bahan seperti emas. Ini dapat digunakan untuk membangun kapasitas baterai tinggi kompak, dengan keuntungan tambahan yang berpotensi dapat merakit sendiri, mengeksploitasi kemampuan mereplikasi alami virus. Kunci untuk kapasitas yang tinggi dalam ruang kecil terletak dalam ukuran mikroskopis dari kawat nano dibangun oleh virus - ini berarti bahwa luas permukaan yang lebih besar dari biaya membawa kapasitas bisa dimasukkan ke dalam volume tertentu.

Namun, realisasi komersial lainnya muncul teknologi dan biomimetik terletak jauh di masa depan. Tapi Sementara itu, sebagai delegasi mendengar dari beberapa pembicara pada konferensi ESF, nanoteknologi memiliki kontribusi penting untuk membuat, meningkatkan efisiensi sistem energi yang menghasilkan ada selama transisi dari bahan bakar fosil. Sebagai contoh, Robert Schlögl dijelaskan bagaimana skala katalis nano dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dari mesin atau sistem mengkonsumsi bahan bakar fosil.

Terinspirasi oleh presentasi tersebut, delegasi di konferensi dengan suara bulat menyerukan tindak lanjut. "Konferensi ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan nyata dan proposal baru untuk konferensi di 2010 (diketuai oleh Grätzel) akan segera disampaikan," kata Kasemo. "Secara khusus konferensi terinspirasi dan terpelajar orang-orang muda, seperti dokter, mahasiswa, postdocs, peneliti muda, yang akan menjadi orang-orang untuk menyadari potensi nanoteknologi untuk energi yang berkelanjutan."

The-FWF konferensi ESF dalam Kemitraan dengan LFUI pada nanoteknologi UNTUK ENERGI BERKELANJUTAN diadakan di Obergurgl Universitätszentrum, dekat Innsbruck di Austria selama bulan Juni 2008.


Sumber:

http://www.azonano.com/news.aspx?newsID=8044&lang=id (22-11-2010)

Rabu, 16 November 2011

Perkokoh Penguasaan Iptek untuk Kemandirian dan Daya Saing Indonesia

Berbagai persoalan terkait krisis pangan, energi dan air melanda bangsa Indonesia belakangan ini. Krisis itu pada dasarnya disebabkan terbatasnya diversitas berbagai sumber daya tersebut. Kondisi ini diperburuk dengan kebijakan pemerintah yang kurang memanfaatkan hasil penelitian dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) sebagai solusi persoalan. Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) X Tahun 2011 berupaya menjawab beragam permasalahan di atas guna mencapai target rencana pembangunan.

Jakarta, 7 November 2011. Penguasaan Iptek menuju kemandirian dan peningkatan daya saing bangsa dengan sendirinya akan membangkitkan semangat nasionalisme anak bangsa. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Lukman Hakim mengatakan, penguasaan di bidang critical technologyharus dikembangkan guna menghasilkan technology strength, self reliance, dan economic security (Teknologi yang kuat, mandiri dan keamanan ekonomi). “Rencana Program Jangka Menengah (RPJM) II (2010-2014) telah mengakomodasi hal ini, namun masih diperlukan upaya-upaya untuk mempercepat pencapaian target dan realisasi dari berbagai rencana tersebut,” tandasnya. Untuk itu, KIPNAS ini akan membahas empat bidang yaitu energi, ketahanan pangan, air, serta strategi pengembangan Iptek.


Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI sekaligus Ketua Komisi Bidang Ketahanan Pangan, Prof. Dr. Bambang Prasetya menjelaskan bahwa ketahanan pangan sekarang dihadapkan pada berbagai persoalan terkait ketersediaan pangan. Di antaranya, kenaikan konsumsi akibat kenaikan jumlah penduduk dan bergesernya bahan pangan pokok dari non beras ke beras, menurunnya produksi akibat penurunan produktivitas yang disebabkan kerusakan lahan dan perubahan iklim serta peralihan fungsi tanah produktif bagi keperluan sektor lain dan beragam permasalahan lainnya. Masalah pangan di masa mendatang perlu mendapat perhatian yang komprehensif dengan memperhitungkan kecenderungan global dengan tetap menghormati dan memperhatikan kekayaan budaya bangsa serta sumber daya alam yang dimiliki.


Di lain hal, Dr. Ir. Syahrul Aiman, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) sekaligus Ketua Komisi Bidang Energi menjelaskan persoalan lain terkait kedaulatan energi. Dia mengungkapkan, energi tidak hanya terkait dengan penggunaan energi saja, tetapi juga dengan perilaku dan kebiasaan penggunanya. Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan tingkat pendapatannya berdampak pada peningkatan kebutuhan energi untuk kebutuhan rumah tangga, transportasi dan industri. “Strategi pengembangan energi nasional perlu mempertimbangkan hal tersebut sekaligus pola energi dunia dalam jangka menengah dan pendek yang diproyeksikan akan berubah dari economic energy system ke sustainable energy system,” katanya.


Sedangkan terkait pengelolaan sumber daya air, Dr. Ir. Iskandar Zulkarnaen, Ketua Komisi Bidang Air yang juga Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) menerangkan, Indonesia diprediksi akan mengalami krisis air yang serius pada 2015 yang tentu berdampak bagi seluruh sektor kehidupan. “Pengelolaan air secara berkelanjutan, mulai dari konservasi, adaptasi dan mitigasi menjadi faktor yang perlu diperhitungkan,” imbuhnya. Selain itu, juga faktor-faktor hidrologi, manajemen kebutuhan dan sumber daya air serta dampak sosial, ekonomi dan lingkungan yang ditimbulkannya.


Untuk strategi pengembangan Iptek, Dr. Ir. Fatimah S Padmadinata, DEA, Deputi Jasa Ilmiah (Jasil) LIPI dan juga Ketua Komisi Strategi Pengembangan Iptek menuturkan, upaya pengembangan Iptek harus merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kemampuan inovasi nasional yang bertumpu pada potensi sumber daya daerah, kebutuhan daerah dan kondisi sosial-budaya daerah. Kongres akan berlangsung selama tiga hari pada 8-10 November 2011 bertempat di Hotel Bidakara, Jl. Gatot Subroto Kab. 71-73 Pancoran, Jakarta Selatan.

Keterangan Lebih Lanjut:
- Prof. Dr. Bambang Prasetya (Deputi IPH LIPI, hp. 0811 940 329),
- Dr. Ir. Syahrul Aiman (Deputi IPT LIPI, hp. 0811 853 098),
- Dr. Ir. Fatimah S Padmadinata, DEA (Deputi Jasil LIPI, hp. 0816 1934 960)

Masyarakat Nuklir Indonesia




Masyarakat Ilmu dan Teknologi Nuklir Indonesia

Himpunan Mahasiswa Penggemar Ilmu dan Teknologi Nuklir




Profil


Akademik



Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir-BATAN Yogyakarta menyelenggarakan Pendidikan Program D-IV. Program Diploma IV STTN merupakan pendidikan profesional yang bertujuan menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan profesional dalam menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan teknologi nuklir dan atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Program diploma IV diarahkan pada hasil lulusan yang mampu melaksanakan pekerjaan yang kompleks dengan dasar kemampuan potensial tertentu, termasuk ketrampilan merencanakan, melaksanakan kegiatan, memecahkan masalah dengan tanggung jawab mandiri pada tingkat tertentu memiliki keterampilan manajerial, serta mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang keahliannya. Sebutan yang diperoleh setelah menyelesaikan Program D-IV STTN adalah Sarjana Sains Terapan (SST).

http://sttn-batan.ac.id/images/stories/file_unduh/bukupedomanakademiksttn-2009.pdf
(Buku Pedoman Akademik STTN BATAN)

http://jurnal.sttn-batan.ac.id/

Jurnal dan Prosiding Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir. Dalam blog ini Anda dapat mendownload semua makalah yang terbit pada jurnal ilmiah STTN-Batan yaitu Jurnal Forum Nuklir (JFN) dan Prosiding Seminar Nasional SDM Teknologi Nuklir.

1.
http://jurnal.sttn-batan.ac.id/?cat=6

2.
http://jurnal.sttn-batan.ac.id/?cat=7

3.
http://jurnal.sttn-batan.ac.id/?cat=11

4.
http://jurnal.sttn-batan.ac.id/?cat=12

5.
http://jurnal.sttn-batan.ac.id/?cat=3

6.
http://jurnal.sttn-batan.ac.id/?cat=10


Semoga Bermanfaat, dan Terima Kasih


Minggu, 23 Oktober 2011

Sinergi Iptek-Pemda untuk Kemandirian Bangsa


Selama ini ada kesalahan mengenai paradigma pembangunan di Indonesia. “Kita masih tergantung dengan impor, mempunyai kebiasaan lebih baik beli. Perlu peningkatan kapasitas mandiri supaya tidak tergantung luar negeri,” ujar Wakil Kepala LIPI Prof. Dr Endang Sukara saat menyampaikan kuliah umum bertema “Peran Sektor Iptek dalam Percepatan Proses Pembangunan Daerah” di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) , Jatinangor, Sumedang, pada Rabu (28/9) lalu.

Kemandirian ini, lanjut Endang, dapat dicapai jika peran Iptek dan pemerintah daerah dimaksimalkan. “Paradigma harus dirubah Iptek adalah solusi. Pemerintah daerah juga berperan penting mewujudkan masyarakat sejahtera,”. Dirinya juga menitipkan pesan untuk para praja yang akan lulus dan kembali ke daerah. “Kita mempunyai sumber daya alam tapi manajemennya belum ada. Praja-praja yang akan ke daerah dapat berperan serta untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi,” pesannya.

Bertempat di Aula MAPD, acara yang merupakan bagian dari kegiatan Diseminasi Kemampuan LIPI ini diikuti oleh 114 praja dari Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN serta jajaran dekanat dan dosen. “Kegiatan ini dapat memperkarya wawasan para praja untuk menyongsong di masa yang akan datang,” ujar Rektor IPDN Prof. Dr. Drs. H. I Nyoman Sumaryadi, M.Si dalam sambutannya.

LIPI juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan IPDN. “LIPI termasuk kelompok riset terbaik di dunia. Akan lebih bagus jika bermitra dengan IPDN,” terang Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI Dr. Ir. Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, M. Sc. Menurut Bogie, para praja IPDN bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada di tiap satuan kerja LIPI yang tersebar di seluruh Indonesia. “Jurnal-jurnal di bidang politik ada di P2 Politik. Sedangkan jika ingin belajar teknologi tepat guna bisa dilakukan di UPT Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna di Subang,” paparnya.
(Fakhri Zakaria)

Sumber:
Humas BKPI LIPI

Rabu, 19 Oktober 2011

Indonesian University of Sciences & Technology (Aerospace)


Kampus Riset Inovasi Pengembangan Kedirgantaraan dan Keluarangkasaan Indonesia

Aerospace engineering is the primary branch of engineering concerned with the design, construction and science of aircraft and spacecraft.[1] It is divided into two major and overlapping branches: aeronautical engineering and astronauticalengineering. The former deals with craft that stay within Earth's atmosphere, and the latter with craft that operate outside it.

Aerospace Engineering deals with the design, construction, and application of the science behind the forces and physical properties of aircraft, rockets, flying craft, and spacecraft. The field also covers their aerodynamic characteristics and behaviors, airfoil, control surfaces, lift, drag, and other properties. Aerospace engineering is not to be confused with the various other fields of engineering that go into designing these complex craft. For example, the design of aircraft avionics, while certainly part of the system as a whole, would rather be considered electrical engineering, or perhaps computer engineering. Thelanding gear system on an aircraft may fall into the field of mechanical engineering, and so forth. It is typically a large combination of many disciplines that makes up aeronautical engineering.


Selasa, 18 Oktober 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Obat-obatan Ajaib dengan Nanoteknologi

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

"Memiliki mental untuk menjadi yang terbaik atau yang pertama."

~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)

Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano

Ternyata manfaat dan dampak positif teknologi nanosangat banyak ya. Teknologi partikel nano mulai dikembangkan untuk kemajuan dunia kedokteran, farmasi dan obat-obatan. Kemajuan teknologi memang memiliki dua sisi yang berseberangan, bagaikan sisi gelap dan terangnya seorang Jedi. Kita bisa memetik manfaat positifnya atau terkena imbas negatif perkembangan teknologi.

Produk obat yang dihasilkan dari teknologi nano lebih unggul dibanding obat biasa. Obat-obatan hasil teknologi nano tersebut dinilai, lebih mudah diserap tubuh dan tidak mudah rusak.

"Obat teknologi nano sebagian besar obat luar, kan kalau partikel semakin kecil, semakin mudah terserap tubuh," ujar peneliti Pusat Teknologi Farmasi dan Media, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Sjaikhurrizal, dalam pameran Ritech Expo 2010, Jakarta Convention Center, Jumat (20/8/2010).

Produk obat yang dibungkus partikel nano, kata Sjaikhurrizal akan semakin terlindungi, sehingga stabil dan tidak mudah rusak. "Misalnya obat diabetes kan insulin, kan nggak ada yang ditelan, kita kembangin insulin yang bisa ditelan dengan teknologi nano. Karena kalau dengan nano, insulin yang ditelan nggak rusak karena asam lambung," katanya.

Sayangnya, lanjut Sjaikhurrizal, bahan baku nano untuk obat-obatan yang beredar di Indonesia sebagian besar adalah bahan impor. Istilah teknologi nano itu sendiri di Indonesia belum terlalu dikenal. "Baru booming 2-3 tahun lah," ujar Sjaikhurrizal.

Selain itu, biaya pembuatan bahan baku nano bagi laboratorium lokal-pun dinilai masih tinggi. Misalnya, untuk membeli alat ukur partikel nano, kata Sjaikhurrizal dibutuhkan biaya tinggi, dan alat tersebut sulit dicari.

"Kalau sekarang masih dalam perkembangan. Di laboratorium kita, sedang dalam bertahap program-program penelitian bareng, jalin hubungan pemerintah dengan swasta," katanya.

Adapun contoh obat yang menggunakan teknologi nano adalah seperti obat luka bakar yang diolah dari daun pegagan dan kitosan atau limbah udang. Obat-obatan nano tersebut menurut Sjaikhurrizal dapat dijual lebih murah dibanding obat biasa.

"Misalnya kan kalau obat luka bakar biasanya bahannya plasenta. Dengan teknologi nano, kita ciptakan dari daun pegagan yang lebih murah dari plasenta," imbuhnya.

manfaat teknologi, dampak positif negatif perkembangan teknologi, kemajuan teknologi nano di bidang kedokteran, obat berteknologi nano rekayasa farmasi, manfaat teknologi nano, perkembangan teknoligi bagi kehidupan.