Minggu, 23 Oktober 2011

Sinergi Iptek-Pemda untuk Kemandirian Bangsa


Selama ini ada kesalahan mengenai paradigma pembangunan di Indonesia. “Kita masih tergantung dengan impor, mempunyai kebiasaan lebih baik beli. Perlu peningkatan kapasitas mandiri supaya tidak tergantung luar negeri,” ujar Wakil Kepala LIPI Prof. Dr Endang Sukara saat menyampaikan kuliah umum bertema “Peran Sektor Iptek dalam Percepatan Proses Pembangunan Daerah” di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) , Jatinangor, Sumedang, pada Rabu (28/9) lalu.

Kemandirian ini, lanjut Endang, dapat dicapai jika peran Iptek dan pemerintah daerah dimaksimalkan. “Paradigma harus dirubah Iptek adalah solusi. Pemerintah daerah juga berperan penting mewujudkan masyarakat sejahtera,”. Dirinya juga menitipkan pesan untuk para praja yang akan lulus dan kembali ke daerah. “Kita mempunyai sumber daya alam tapi manajemennya belum ada. Praja-praja yang akan ke daerah dapat berperan serta untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi,” pesannya.

Bertempat di Aula MAPD, acara yang merupakan bagian dari kegiatan Diseminasi Kemampuan LIPI ini diikuti oleh 114 praja dari Fakultas Manajemen Pemerintahan IPDN serta jajaran dekanat dan dosen. “Kegiatan ini dapat memperkarya wawasan para praja untuk menyongsong di masa yang akan datang,” ujar Rektor IPDN Prof. Dr. Drs. H. I Nyoman Sumaryadi, M.Si dalam sambutannya.

LIPI juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan IPDN. “LIPI termasuk kelompok riset terbaik di dunia. Akan lebih bagus jika bermitra dengan IPDN,” terang Kepala Biro Kerja Sama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI Dr. Ir. Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, M. Sc. Menurut Bogie, para praja IPDN bisa memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada di tiap satuan kerja LIPI yang tersebar di seluruh Indonesia. “Jurnal-jurnal di bidang politik ada di P2 Politik. Sedangkan jika ingin belajar teknologi tepat guna bisa dilakukan di UPT Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna di Subang,” paparnya.
(Fakhri Zakaria)

Sumber:
Humas BKPI LIPI

Rabu, 19 Oktober 2011

Indonesian University of Sciences & Technology (Aerospace)


Kampus Riset Inovasi Pengembangan Kedirgantaraan dan Keluarangkasaan Indonesia

Aerospace engineering is the primary branch of engineering concerned with the design, construction and science of aircraft and spacecraft.[1] It is divided into two major and overlapping branches: aeronautical engineering and astronauticalengineering. The former deals with craft that stay within Earth's atmosphere, and the latter with craft that operate outside it.

Aerospace Engineering deals with the design, construction, and application of the science behind the forces and physical properties of aircraft, rockets, flying craft, and spacecraft. The field also covers their aerodynamic characteristics and behaviors, airfoil, control surfaces, lift, drag, and other properties. Aerospace engineering is not to be confused with the various other fields of engineering that go into designing these complex craft. For example, the design of aircraft avionics, while certainly part of the system as a whole, would rather be considered electrical engineering, or perhaps computer engineering. Thelanding gear system on an aircraft may fall into the field of mechanical engineering, and so forth. It is typically a large combination of many disciplines that makes up aeronautical engineering.


Selasa, 18 Oktober 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Obat-obatan Ajaib dengan Nanoteknologi

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

"Memiliki mental untuk menjadi yang terbaik atau yang pertama."

~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)

Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano

Ternyata manfaat dan dampak positif teknologi nanosangat banyak ya. Teknologi partikel nano mulai dikembangkan untuk kemajuan dunia kedokteran, farmasi dan obat-obatan. Kemajuan teknologi memang memiliki dua sisi yang berseberangan, bagaikan sisi gelap dan terangnya seorang Jedi. Kita bisa memetik manfaat positifnya atau terkena imbas negatif perkembangan teknologi.

Produk obat yang dihasilkan dari teknologi nano lebih unggul dibanding obat biasa. Obat-obatan hasil teknologi nano tersebut dinilai, lebih mudah diserap tubuh dan tidak mudah rusak.

"Obat teknologi nano sebagian besar obat luar, kan kalau partikel semakin kecil, semakin mudah terserap tubuh," ujar peneliti Pusat Teknologi Farmasi dan Media, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Sjaikhurrizal, dalam pameran Ritech Expo 2010, Jakarta Convention Center, Jumat (20/8/2010).

Produk obat yang dibungkus partikel nano, kata Sjaikhurrizal akan semakin terlindungi, sehingga stabil dan tidak mudah rusak. "Misalnya obat diabetes kan insulin, kan nggak ada yang ditelan, kita kembangin insulin yang bisa ditelan dengan teknologi nano. Karena kalau dengan nano, insulin yang ditelan nggak rusak karena asam lambung," katanya.

Sayangnya, lanjut Sjaikhurrizal, bahan baku nano untuk obat-obatan yang beredar di Indonesia sebagian besar adalah bahan impor. Istilah teknologi nano itu sendiri di Indonesia belum terlalu dikenal. "Baru booming 2-3 tahun lah," ujar Sjaikhurrizal.

Selain itu, biaya pembuatan bahan baku nano bagi laboratorium lokal-pun dinilai masih tinggi. Misalnya, untuk membeli alat ukur partikel nano, kata Sjaikhurrizal dibutuhkan biaya tinggi, dan alat tersebut sulit dicari.

"Kalau sekarang masih dalam perkembangan. Di laboratorium kita, sedang dalam bertahap program-program penelitian bareng, jalin hubungan pemerintah dengan swasta," katanya.

Adapun contoh obat yang menggunakan teknologi nano adalah seperti obat luka bakar yang diolah dari daun pegagan dan kitosan atau limbah udang. Obat-obatan nano tersebut menurut Sjaikhurrizal dapat dijual lebih murah dibanding obat biasa.

"Misalnya kan kalau obat luka bakar biasanya bahannya plasenta. Dengan teknologi nano, kita ciptakan dari daun pegagan yang lebih murah dari plasenta," imbuhnya.

manfaat teknologi, dampak positif negatif perkembangan teknologi, kemajuan teknologi nano di bidang kedokteran, obat berteknologi nano rekayasa farmasi, manfaat teknologi nano, perkembangan teknoligi bagi kehidupan.