Senin, 23 Mei 2011

Bagaimana Korsel Mengakali Pasar Bebas?

Presiden SBY menggelar kuliah kepresidenan (presidential lecture), di Istana Negara, Kamis (19/5) pagi, dengan pembicara Prof Ha-Joon Chang dari Universitas Cambridge, Inggris. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY menggelar kuliah kepresidenan (presidential lecture), di Istana Negara, Kamis (19/5) pagi, dengan pembicara Prof Ha-Joon Chang dari Universitas Cambridge, Inggris. (foto: abror/presidensby.info)
Prof Ha-Joon Chang adalah salah satu pengajar di Universitas Cambridge, Inggris. Ia merupakan ekonom heterodoks terkemuka dan ekonom kelembagaan yang mengkhususkan diri dalam ekonomi pembangunan. Pria kelahiran Seoul, Korea Selatan, 7 Oktober 1963 ini datang ke Inggris sebagai mahasiswa pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Politik, Universitas Cambridge pada 1986 dan mendapatkan gelar PhD tahun 1992.

23 Things They Don’t Tell You About Capitalism adalah judul buku terlawas yang pernah ditulis Ha-Joon Chang. Sepanjang karirnya, tercatat ia telah menulis 13 judul buku. Selain itu, Ha-Joon Chang pernah menjabat sebagai konsultan untuk Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia dan Bank Investasi Eropa, Oxfam, serta berbagai badan PBB. Ayah dua orang anak ini juga pernah aktif di Pusat Riset Ekonomi dan Kebijakan di Washington, DC.

Dalam situs pribadinya, www.hajoonchang.net disebutkan bahwa meskipun ia berkewarganegaraan Korea Selatan, namun saat ini ia tinggal di Cambridge, Inggris dengan istrinya, Hee-Jeong Kim, dan dua anak, Yuna, dan Jin-Gyu. Prof Chang, begitu sapaan akrabnya, dikenal karena pengaruh akademis penting pada ekonom Rafael Correa yang saat ini menjabat sebagai Presiden Ekuador.

Hari Kamis (19/5) pagi, Prof Chang menjadi pembicara dalam kuliah kepresidenan atau presidential lecture yang digelar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Tema yang diangkat adalah 'Indonesia Toward an Emerging Economy: Lessons from Korea and Beyond'. Tema ini dipilih karena sesuai dengan kondisi Indonesia yang berambisi menjadi emerging economy dalam 15-20 tahun mendatang.

Di awal paparannya, Ha-Joon Chang mengungkapkan rasa kagumnya terhadap Indonesia yang di tahun 1998 terpuruk karena krisis ekonomi, namun saat ini menjadi anggota G 20. Hal lain yang dikaguminya adalah demokrasi Indonesia yang tumbuh pesat dewasa ini.

Usai mendengarkan kuliah Prof Chang, Presiden SBY mengucapkan terima kasih dan yakin apa yang didapat dari paparan Prof Chang akan menjadi hasil positif pula bagi Indonesia. “Semoga apa yang menjadi pembahasan tadi dapat diberdayakan kepada akademisi, swasta, pelaku bidang pembangunan ekonomi nasional, hingga mencapai suatu kerangka ekonomi berkelanjutan dan berimbang,” ujar Presiden SBY.

“Itulah semangat yang kita miliki, dimiliki pula oleh perusahaan, dan ini yang dibahas ditingkat global terutama setelah resesi bebrapa tahun lalu,” jelas SBY.

INILAH.COM, Jakarta - Ekonom Universitas Cambridge Prof Ha-Joon Chang memberi kuliah kepada Presiden SBY dan jajaran menterinya mengenai bagaimana belajar dari Kore Selatan. Ekonom ini terkenal dengan tesisnya bahwa negara berkembang tak akan pernah menjadi negara industri jika mengikuti liberalisasi.

Apa persisnya yang harus dipelajari dari keberhasilan Korea Selatan menjadi negara industri? Berikut pendapat Ha-Joong Chang yang dikutip dari bukunya
Bad Samaritans: The Myth Of Free Trade and The Secret History of Capitalism.

Tahun 1961, delapan tahun setelah perang saudara dengan Korea Utara, pendapatan per kapita Korea Selatan US$82, kurang dari setengahnya dibandingkan dengan pendapatan tahunan orang Ghana di Afrika, US$179.

Betapa miskinnya orang Korea Selatan saat itu. Warganya pun tak memiliki etos kerja untuk maju. Kala itu istilah "jam karet" (ternyata istilah ini bukan dari Indonesia) dipakai untuk menggambarkan betapa warga Korea Selatan tak menghargai waktu.

Ekonomi Korea Selatan saat itu disebut sebagai sumur tampa dasar yang hanya mengandalkan ekspor ikan dan komoditas pertanian lainnya.

Samsung tak lebih dari sebuah perusahaan ekspor sayur dan buah. Bahkan hingga tahun 1970, Samsung hanya mengekspor tekstil dan gula rafinasi.

Lalu tibalah masa dimana Presiden Park Chung-Hee, -- seorang jenderal yang naik ke tampuk kekuasaan dengan kudeta tapi segera bertransformasi menjadi sipil -- menacarkan program industrialisasi. Park memulainya dengan membangun program ambisius industri berat dan kimia pada 1973.

Pabrik baja pertama dan galangan kapal moder dibangun, dan mobil desain lokal diluncurkan. Indusrtri elektronika dan mesin diluncurkan.

Begitu ketatnya Park menjalankan kebijakan industrinya, sampai-samapi dia melarang penggunaan devisa sepeser pun untuk membeli bahan makan, katankalnya cokelat. Semua devisa dipakai untuk membeli mesin-mesindan alat produksi.

Orang Korea Selatan berdasarkan kesaksian Prof Ha-Joon Chan tak bisa merasakan enaknya cokelat, kecuali diberikanoleh tentara Amerika.

Pajak impor barang mewah diberlakukan supertinggi. Barang mewah itu termasuk kue-kue kering buatan luar negeri. Tidak itu saja, Kunjungan keluar negeri juga dilarang ketat tentu saja karena dinilai buang-buang devisa.

Kini, 41 tahun sejak program ambisius itu Korea selatan telah menjadi negara industri dan negara yang paling maju dalam inovasi industrinya.

Sekarang pertanyaanya adalah apakah kunci sukses Korea selatan? Prof Ha-Joon Chan dengan tegas menjawab, "gabungan secara cerdik antara insentif pasar dan campur tangan pemerintah.

Pemerintah Korea Selatan, sambung Ha-Joon Chang, tak menaklukkan pasar sebagaimana negara komunis tapi juga tak meliki keyakinanbuta terhadap liberalisme.

Korea Selatan mengambil jalan "murtad" dari ajaran liberalisme, dan karena dia memilih jalannya snediri itu negara ini justru maju.

Meneurut Ha-Joon Chan, pasar bebas harus dikoreksi denganintervensi pemerintah dan itulah yang dilakukan juga oleh semua negara industri saat ini sebelum mereka menerima pasar bebas secara penuh.

Toyota tak akan menjadi produsen otomotif nomor satu dunia jika pemerintah Jepang, lewat bank sentralnya, tak memberi subsidi kredit.

Nah, apakah Indonesia yang oleh Presiden SBY dalam sambutan pembukaannya pada 'presidential lecture' (Kamis, 19/5), mengatakan dengan tegas tak menganut neoliberalisme bisa mengambil jalan Korea Selatan?

Guru Besar Ekonomi Universitas Cambridge Prof. Ha-Joon Chang. memberikan kuliah dengan tema “Indonesia Toward An Emerging Economy: Lessons from Korea and Beyond".[ram]

Rabu, 18 Mei 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Bagaimana Kerja Peralatan Nanoteknologi

“Today is not a good day to give up”

"Berpikirlah positif bahwa hari ini bukanlah hari untuk menyerah
Karena menurut orang yang sudah sukses, jalan menuju ke sana masih panjang tetap berjuang dan pantang menyerah"

Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano

Dalam periode pada tahun 2010 sampai 2020 akan tejadi percepatan luar biasa dalam penerapan nanoteknologi di dunia industri dan ini menandakan bahwa sekarang ini dunia sedang mengarah pada revolusi nanoteknologi.

Negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Kanada dan negara-negara Eropa, serta beberapa negara Asia, seperti Singapura, Cina, dan Korea tengah giat-giatnya mengembangkan suatu cabang baru teknologi yang populer disebut Nanoteknologi. Mereka berani mengucurkan milyaran dollar dana di berbagai bidang penelitian. Semuanya berlomba-lomba menggunakan kata kunci Nanoteknologi.

Nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer, atau sepersemilyar meter. Indonesia memiliki peluang untuk mengatasi ketertinggalan dari negara lain melalui pengembangan nanoteknologi. Dengan nanoteknologi, kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat diberi nilai tambah guna memenangi persaingan global. Dengan menciptakan zat hingga berukuran satu per miliar meter (nanometer), sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang diinginkan.Dengan nanoteknologi pula, kekayaan alam menjadi tak berarti karena sifat-sifat zat bisa diciptakan sesuai dengan keinginan. Karena itu, kita harus mampu memberi nilai tambah atas kekayaan alam kita.

Negara yang tidak menguasai nanoteknologi akan menjadi penonton atau paling tidak akan semakin jauh tertinggal dari negara lain. Nanoteknologi akan mempengaruhi industri baja, pelapisan dekorasi, industri polimer, industri kemasan, peralatan olah raga, tekstil, keramik, industri farmasi dan kedokteran, transportasi, industri air, elektronika dan kecantikan. Penguasaan nanoteknologi akan memungkinkan berbagai penemuan baru yang bukan sekadar memberikan nilai tambah terhadap suatu produk, bahkan menciptakan nilai bagi suatu produk.

Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng, peneliti pada Pusat Penelitian Fisika LIPI telah mematenkan alat pembentuk nanopartikel. Temuan ini menjadi terobosan penting dalam mencapai kemajuan di bidang industri dan lingkungan, dengan kata lain untuk mencapai kemajuan teknologi yang lebih efisien, hemat, dan ramah lingkungan

Ramah lingkungan karena dengan nanoteknologi sebuah produk dapat dibuat dengan bahan yang sedikit, tetapi berkualitas. Dr. Nurul Taufiqu Rochman mencontohkan hasil penelitian nanopartikel baja yang sedang ditekuninya bahwa nanopartikel baja diarahkan untuk membentuk materi baja yang lebih ringan dan hemat. Tetapi, kualitas baja itu tidak berkurang, bahkan partikel nano dalam baja mampu menambah kekuatannya. Penelitian nanopartikel baja ini dapat mengurangi bobot mobil mencapai 30 persen, tanpa mengurangi kekuatannya. Begitu pula, pengurangan bobot baja tanpa mengurangi kekuatannya sangat bermanfaat seperti pada pengembangan konstruksi-konstruksi bangunan yang terus berkembang saat ini. Di samping itu, bahan dasar pembuat baja yang diperlukan dapat dikurangi setengah dan eksplorasinya dapat ditekan.

Dalam buku yang berjudul Gelombang Nanoteknologi, yang ditulis oleh Dr. Kebamoto, disebutkan bahwa isu lingkungan sangat berkait erat dengan polusi. Di sini, penguasaan nanoteknologi akan memberikan jalan keluar untuk mengatasi polusi.

Menurut buku ini ada delapan keunggulan nanoteknologi untuk mengatasi polusi.
Pertama, dengan penguasaan nanoteknologi akan mengurangi penggunaan bahan bakar di bidang transportasi. Kedua, mengurangi gas buang dan limbah. Ketiga, nanofilter akan mampu menyaring debu, gas dan partikel di bawah orde satu mikron. Keempat, nanoteknologi memungkinan pembuatan barang dengan bahan yang sedikit dengan kualitas baik. Kelima, dengan nanoteknologi akan ditemukan solar sel yang bisa mengurangi sumber energi senyawa karbon. Keenam, nanoteknologi memungkinkan penemuan baterai dengan kapasitas tinggi dan bertahan lama. Ketujuh, nanoteknologi akan memungkinkan penghematan energi karena jaringan listrik tidak lagi menggunakan tembaga sebagai konduktor listrik, tapi akan menggunakan konduktor dengan tingan resistensi nol. Kedelapan, nanoteknologi memungkinkan penggunaan hidrogen sebagai sumber energi baru.

Sebuah majalah ilmiah American Society of Mechanical Engineering melaporkan bahwa beberapa ilmuwan telah berhasil menemukan lampu penerang hasil rekayasa dalam skala nano yang mampu menghemat konsumsi energi lebih dari 10 persen. Lampu penerang ini diperkirakan dapat menghemat sebesar 100 miliar dollar AS per tahun serta mampu mengurangi emisi karbon sebesar 200 juta ton per tahun.

Untuk itu, tidak berlebihan kalau kemajuan teknologi di masa depan akan ditentukan nanoteknologi, rekayasa biologi dan teknologi informasi, dimana ketiganya memiliki saling ketergantungan. Oleh karena itu dengan semakin berkembang pesatnya teknologi saat ini, maka kitapun harus segera menyesuaikan diri agar kita tidak tertinggal dan mempersiapkan diri dari segala aspek. Akhirnya, ketika kita sudah siap, maka sambutlah nanoteknologi itu dengan senyuman yang ramah dan bersegeralah kita berubah. Mari bersama membangun bangsa dengan nanoteknologi.

Referensi :

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0503/05/opi05.html

http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/1743/Menuju_Era_Nanoteknologi

http://www.riauinfo.com/main/news.php?c=7&id=2160

http://arghainc.wordpress.com/2008/09/24/lipi-menemukan-terobosan-dalam-bidang-nanoteknologi/

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0309/29/inspirasi/588634.htm

web nanoteknologi.

http://semangatbelajar.com/tag/keunggulan-nanoteknologi/

Sabtu, 14 Mei 2011

Pendidikan Teknologi Dasar

National Center for Technology Education


Goals

The ultimate goal of the center is to rethink the pedagodgy of technology education programs to include more engineering content and design, problem solving, and analytical skills and to implement those changes in technology teacher education programs around the United States. This will be accomplished through the teaming of engineering and technology education faculty at NCETE sites in a three pronged approach:

  • Graduate student fellowships will create educational leaders engaged in technology teacher preparation and professional development with the skills required to integrate engineering and technology education.
  • Research on how students learn technological concepts, problem solving and how technology teachers can best be prepared for teaching engineering concepts and how such programs can be evaluated will be conducted
  • Professional development for 9-12 grade teachers will be conducted and will focus on instructions techniques that support the science, technology, engineering and mathematics (STEM) initiative.

Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI PUSAT KAJIAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI DASAR
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Kepala Pusat : Dr. Didi Teguh Chandra, M.S.
Sekretaris : Dr. Wahyu Surakusumah, M.Si.

Koordinator Bidang :
1. Penelitian dan Pengembangan : Drs. Wiji, M.Si.
2. Kerjasama dan Kemitraan : Dr. Wawan Setiawan, M.Kom.
3. Forum Ilmiah dan Akademik : Drs. Suhendra, M.Ed.
4. Pendidikan dan Pelatihan : Dr. Parsaoran Siahaan, M.Pd.

Tenaga Ahli :
1. Dr. R. Asep Kadarohman, M.Si. (Kimia)
2. Dr. Agus Setiabudi, M.Si. (Kimia)
3. Topik Hidayat, S.Pd., M.Sc., Ph.D. (Bioteknologi)
4. Dr. rer. nat. Adi Rahmat, M.Si. (Bioteknologi)
5. Prof. Dr. Nuryani Rustaman, M.Pd. (Biologi)
6. Prof. Yaya Sukjaya Kusumah, M.Sc. (Matematika)
7. Prof. Dr. Anna Permanasari, M.Si. (Kimia)
8. Dr. Wawan Setiawan, M.Kom. (Image Processing)
9. Khusnul Novianingsih, M.Si. (Kimia)
10. Turmudi, M.Sc., Ph.D. (Matematika)
11. Aljupri, M.Sc. (Matematika)
12. Rini Solihat, M.Si. (Biologi)
13. Heli Siti, M.Si. (Kimia)
14. Jajang Kusnandar, MT. (Teknologi Informasi)
15. Diah Kusumawati, M.Si. (Biologi)
16. Dr. Munir, MIT. (Multimedia)
17. Arif Hidayah. M.Si. (Fisika)
18. Dr. Any Fitriani, M.Si. (Biologi)
19. Dr. Setiya utari, M.Si. (Fisika)
20. Ridwan efendi, M.Si. (Fisika)
21. Dr. Selly Feranie, M.Si. (Fisika)
22. Dr. Andi Suhandi, M.Si. (Fisika)
23. Dr. Dadi Rusdiana, M.Si. (Fisika)
24. Kardiawarman, M.Sc., Ph.D. (Fisika)

Senin, 18 April 2011

Nuklir Indonesia

Masyarakat Nuklir Indonesia

"Hidup ini adalah pilihan. Aku memilih menjadi orang yang bahagia ….

Aku tahu memang sebuah pilihan yang tidaklah mudah, namun aku harus mulai belajar berani memilih dan memutuskan kemana arah hidupku. Apa pilihan

hidupku? Akulah yang harus menentukan arah jalan hidupku"

Kita Pasti Bisa dan Bahagia!

Indonesian Nuclear Society


The Indonesian Nuclear Society was launched in the mid-1960s,

(when first reactor in Indonesia launched [Triga Mark II at Bandung] a time of growing interest in employing peaceful applications of nuclear science and technology for bettering the lives of people in the Indonesian and around the world.

Diaktifkan kembali karena kebutuhannya untuk memenuhi tantangan sekarang dan di masa depan khususnya penyediaan energi dan pemanfaatan ilmu seta teknologi Nuklir untuk Perdamaian



Visi


Pendukung dan Pengembang Program IPTEK Nuklir untuk Perdamaian di Indonesia

18 Reaktor Nuklir Indonesia tahun 2040

Tersedianya sarana pendamping disetiap reaktor

1. Pusat Pendidikan dan Latihan

2. Pusat Inovasi, Penelitian dan Pengembangan


Misi


1. Wahana Edukasi masyarakat mengenai IPTEK Nuklir

2. Sarana penampung aspirasi masyarakat mengenai IPTEK Nuklir


Program

1. Pertemuan Rutin Pertahun

2. Publikasi dan Edukasi Masyarakat


Fokus


5 Tahun Pertama

(2010-2015)



5 Tahun Kedua

(2015-2020)


5 Tahun Ketiga

(2020-2025)


5 Tahun Keempat

(2025-2030)


5 Tahun Kelima

(2030-2035)


5 Tahun Keenam

(2035-2040)


Bagaimana Prinsip Kerja PLTN?
Prinsip kerja PLTN sebenarnya mirip dengan pembangkit listrik lainnya, misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Uap bertekanan tinggi pada PLTU digunakan untuk memutar turbin. Tenaga gerak putar turbin ini kemudian diubah menjadi tenaga listrik dalam sebuah generator.



Perbedaan PLTN dengan pembangkit lain terletak pada bahan bakar yang digunakan untuk menghasilkan uap, yaitu Uranium. Reaksi pembelahan (fisi) inti Uranium menghasilkan tenaga panas (termal) dalam jumlah yang sangat besar serta membebaskan 2 sampai 3 buah neutron

Kamis, 14 April 2011

Pendidikan Teknologi Dasar

Technology education is a study of technology, which provides an opportunity for students to learn about the processes and knowledge related to technology. As a study, it covers the human ability to shape and change the physical world to meet needs, by manipulating materials and tools with techniques. As education, the goal is to teach the knowledge and techniques to develop technological literacy which is accomplished by bringing laboratory activities to students. Technology education is an innovative approach to technology education in Australia, which differs in that it is accomplished by situating students in the context of the need. The term "technology education" is frequently shortened to "tech ed".

Objectives of Technology Education

Technology education allows learners to explore a variety of activities related to many areas where science, technology, engineering, and math intersect with society. Learners can develop problem solving strategies and work habits that will be useful in almost any career and or occupation. Learners should develop a greater appreciation for the work of craft workers and the skills required of that work.

Within the scope of this educational program is the effort to develop “soft skills” within the learner, as well as an opportunity for the learner to see how systems work together and the chance to put much of the academic class instruction to work in an applied way.

Many of the skils that are to be taught in technology education classes are identified in the 1991 SCANS Secretary's Commission on Achieving Necessary Skills Report. Many of these soft skills may be better developed in a lab, problem solving setting than in a typical academic classroom in any sort of better environment.



Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI PUSAT KAJIAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI DASAR
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Kepala Pusat : Dr. Didi Teguh Chandra, M.S.
Sekretaris : Dr. Wahyu Surakusumah, M.Si.

Koordinator Bidang :
1. Penelitian dan Pengembangan : Drs. Wiji, M.Si.
2. Kerjasama dan Kemitraan : Dr. Wawan Setiawan, M.Kom.
3. Forum Ilmiah dan Akademik : Drs. Suhendra, M.Ed.
4. Pendidikan dan Pelatihan : Dr. Parsaoran Siahaan, M.Pd.

Tenaga Ahli :
1. Dr. R. Asep Kadarohman, M.Si. (Kimia)
2. Dr. Agus Setiabudi, M.Si. (Kimia)
3. Topik Hidayat, S.Pd., M.Sc., Ph.D. (Bioteknologi)
4. Dr. rer. nat. Adi Rahmat, M.Si. (Bioteknologi)
5. Prof. Dr. Nuryani Rustaman, M.Pd. (Biologi)
6. Prof. Yaya Sukjaya Kusumah, M.Sc. (Matematika)
7. Prof. Dr. Anna Permanasari, M.Si. (Kimia)
8. Dr. Wawan Setiawan, M.Kom. (Image Processing)
9. Khusnul Novianingsih, M.Si. (Kimia)
10. Turmudi, M.Sc., Ph.D. (Matematika)
11. Aljupri, M.Sc. (Matematika)
12. Rini Solihat, M.Si. (Biologi)
13. Heli Siti, M.Si. (Kimia)
14. Jajang Kusnandar, MT. (Teknologi Informasi)
15. Diah Kusumawati, M.Si. (Biologi)
16. Dr. Munir, MIT. (Multimedia)
17. Arif Hidayah. M.Si. (Fisika)
18. Dr. Any Fitriani, M.Si. (Biologi)
19. Dr. Setiya utari, M.Si. (Fisika)
20. Ridwan efendi, M.Si. (Fisika)
21. Dr. Selly Feranie, M.Si. (Fisika)
22. Dr. Andi Suhandi, M.Si. (Fisika)
23. Dr. Dadi Rusdiana, M.Si. (Fisika)
24. Kardiawarman, M.Sc., Ph.D. (Fisika)


Jumat, 18 Maret 2011

Nuklir Indonesia


"Semakin Kita fokus pada impian kita. Semakin cepat kita mencapai impian itu.

Fokus menghasilkan energi yang besar, bahkan semakin lama semakin dahsyat. Fokus membuatku bersemangat, berenergi, berkeringat, tetap panas karena membantu aku untuk selalu bergerak. Bergerak melangkah, bergerak lari, bergerak ke arah silau sinar berlian yang memimpinku."

Kita Bisaa!!!

Disusun Ulang Oleh:

Arip Nurahman & Deden Anugrah

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia

&

Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, Cambridge. USA.


Introduction to Applied Nuclear Physics


The Rutherford-Bohr model of the atom with nucleus and orbits labeled.

The Rutherford-Bohr model of the atom. (Courtesy of EPA.)


Level:

Undergraduate

Instructors:

Prof. Kim Molvig

Assignments

Problem Sets Solutions
Problem Set 1 (PDF) (PDF)
Problem Set 2 (PDF) (PDF)
Problem Set 3 (PDF) (PDF)
Problem Set 4 (PDF) (PDF)
Problem Set 5 (PDF) (PDF)
Problem Set 6 (PDF) (PDF)
Problem Set 7 (PDF)

Course Description

This course concentrates on the basic concepts of nuclear physics with emphasis on nuclear structure and radiation interactions with matter. Included: elementary quantum theory; nuclear forces; shell structure of the nucleus; alpha, beta, and gamma radioactive decays; interactions of nuclear radiations (charged particles, gammas, and neutrons) with matter; nuclear reactions; and fission and fusion.

The course is divided into three main sections:

  1. Quantum Mechanics Fundamentals
  2. Nuclear Structure and Nuclear Decays
  3. Interactions in Nuclear Matter and Nuclear Reactions

Syllabus

Course Meeting Times

Lectures: 2 sessions / week, 1.5 hour / session

Course Prerequisites

8.02, 18.02, 22.01

Textbooks

Krane, K.S. Introductory Nuclear Physics. Wiley, 1988.

Liboff, R. L. Introductory Quantum Mechanics. Addison-Wesley, 2003.

Problem Sets

The weekly problem sets are an essential part of the course. Working through these problems is essential to understanding the material.

Problem sets will generally be assigned once every week and will be due the same day in the following week. All problem sets will be posted on the course web site.

Problem set solutions will be posted on the web site following the due date. No problem sets will be accepted after the solutions have been posted.

Exams

There will be a two hour mid term and a comprehensive final exam. The final exam will emphasize material from the entire course, and will be a mixture of factual questions and problems.

Term Paper

There is no term paper required for this course.

Grading

The final grade for the course will be based on the following:


ACTIVITIES PERCENTAGES
Weekly Problem Sets 30%
Mid Term Exam 30%
Final Exam 40%



Calendar

SES # Topics Readings & Handouts
1

Intro Lectures: Basic Nucleus Concepts


2

Intro Lectures: Wave-Particle Duality & Historical Background


3

Quantum Mechanics #1, #2

  • New Concepts
  • Postulate 1 (Observables & Operators)
  • Eigenvalue Problem, Compare Classical State, Free Particles
  • Postulate 2 (Quantum State, psi)
  • Postulate 3 (measurement probabilities)

Liboff 3.1-3.3

Postulates Handout

4

Quantum Mechanics #3, #4

  • Free Particle in Box, Quantization of Energy Levels
  • Interpretation of the Wave Function
  • Solutions in Classically Allowed and Disallowed Regions
  • 1D Scattering Problem, Outgoing B.C.
  • Normalization of psi, Flux Interpretation,
  • Transmission and Reflection Coefficients.
  • Particle in Square Well Energy Eigenvalue Problem
  • Graphical Solution - Fitting Wavelength in Well

Liboff 4.1, 4.2, 4.3

Liboff 7.5, 7.6, 7.7

5

Quantum Mechanics #5, #6

  • Commutators
  • Heisenberg Uncertainty Principle
  • Degenerary, Complete Sets of Commuting Observables

Liboff 5.1-5.5

6

Quantum Mechanics #7, #8

  • Postulate 4 (Time Evolution)Conservation Laws
  • d <>/ dt Expression
  • Ehrenfest Principle and Classical Limit
  • Quantum Mechanical Angular Momentum
  • Eignevalue Problem (for L) via Commutator Algebra
  • Algebraic Possibility of 1/2 Integer l Values
  • Orbital Angular Momentum
  • Spin Angular Momentum
  • Coupled and Uncoupled Representations

Liboff 3.4, 3.5, 6.2

Liboff 9.1-9.3

7

Quantum Mechanics #9

  • Many Particle Wave Functions
  • Symmetries of the Many Particle psi Function
  • Fermions and the Pauli Exclusion Principle
  • Bosons

8

Mid-Term Exam


9

Nuclear Structure #1, #2

  • Essential Features of Nuclear Force
  • Guess the Potential, Vnuc
  • Center of Mass, Remove Degree of Freedom
  • Deuteron Eigenvalue Problem, Ground State
  • Physical Picture of Deuteron
  • Spin Dependence of the Nuclear Force
  • "Tensor" Interaction

Krane 3

Krane 4

10

Nuclear Structure #3, #4

  • Nuclear Shell Model, Oscillator Levels
  • Nuclear Shell Model #2, Spin-Orbit Coupling, Magic Numbers

Krane 5

11

Nuclear Structure #5 -Radioactive Decay, Alpha Decay

Krane 8

12

Gamma Decay

Liboff 10.7

Krane 10

13

Nuclear Interactions #1, - Charged Particle Interactions

Krane 9

Krane 7

14

Beta Decay Nuclear Interactions #1, - Charged Particle Interactions (Cont'd)

Liboff 10.7

Krane 10

15

Nuclear Interactions #2, #3

  • Gamma Ray Iteractions
  • Neutron Interactions

Krane 12

16

Nuclear Interactions #4, #5

  • Fission
  • Fusion

Krane 13

Krane 14



Related Resources

The following is a list of Plasma and Fusion related resources. Some of the web sites have excellent links. You are invited to visit them.

Minggu, 13 Maret 2011

Pendidikan Teknologi Dasar


Artikel:

SELAYANG PANDANG PENDIDIKAN TEKNOLOGI DASAR (BASIC TECHNOLOGY EDUCATION) PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA (SLTP) DI INDONESIA.

Oleh : Didi Teguh Chandra
Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI

ABSTRAK
Seperti kita ketahui saat ini, terasa atau tidak terasa, suka atau tidak suka, kita sedang terbawa oleh perubahan zaman yang sangat besar yang menyangkut segala aspek kehidupan menuju suatu era yang disebut dengan era globalisasi. Sejauh mana kita berperan serta dalam era globalisasi tersebut.

Sebenarnya yang diinginkan bangsa Indonesia adalah kita sebagai bangsa yang besar harus dapat berperan serta positif dalam era globalisasi ini, kita tidak ingin hanya menjadi obyek dan bulan-bulanan bangsa lain.Oleh sebab itu kita harus mempersiapkan diri sedini mungkin untuk menyongsong era tersebut, salah satu alternatif adalah mempersiapkan sumber daya manusia melalui proses pendidikan. Jadi masalah utama yang harus dijawab dalam adalah model pengajaran apa yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam rangka menyongsong era globalisasi. Salah satu alternatif adalah memperkenalkan IPTEK secara dini dalam pendidikan formal karena siswa-siswi kita adalah sumber daya manusia dimasa yang akan datang.

A. Pendahuluan.

Basic Technology Education atau Pendidikan Dasar Teknologi merupakan materi pelajaran yang mengacu pada bidang IPTEK, dimana siswa diberi kesempatan untuk membahas dan mempelajari masalah teknologi di masyarakat, memahami dan menangani peralatan teknologi serta membuat produk teknologi sederhana melalui kegiatan merancang, membuat, menggunakan dan menganalisa dengan menggunakan metoda pemecahan masalah .

Kompetensi-kompetensi seperti mampu memecahkan masalah, mampu berpikir alternatif dan mampu mengevaluasi sendiri hasil pekerjaannya, dapat dikembangkan melalui BTE. Artinya BTE dapat mempersiapkan peserta didik memiliki kemampuan khusus agar dapat bekerja mandiri dalam kebersamaan serta berhasil di masa depannya.

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, kita akan dihadapkan pada perubahan dan perkembangan IPTEK yang sangat cepat, demikian juga halnya dengan kebudayaan juga akan berkembang seiring dengan perkembangan IPTEK. Menghadapi keadaan ini masyarakat perlu diarahkan pada sikap "sadar teknologi" atau "melek teknologi".

Oleh karena itu langkah yang paling baik adalah IPTEK perlu diperkenalkan secara dini melalui pendidikan formal. Sehingga sangat relevan jika Pendidikan Teknologi Dasar diperkenalkan di sekolah khususnya SLTP, karena para siswa-siswi kita adalah aset sember daya manusia di masa yang akan datang. Melalui kegiatan Pendidikan Teknologi Dasar para tamatannya dapat lebih menyadari masalah teknologi seperti mamapu menangani produk teknologi, mampu membuat produk teknologi sederhana serta dapat menyadari bahwa produk teknologi sangat erat erat kainnya dengan masyarakat. Selain itu para siswa-siswi memiliki motivasi yang kuat untuk mempelajari teknologi lebih lanjut, misal sampai perguruan tinggi.

Di negara-negara yang telah maju seperti Amerika, Inggris, Jerman, Belanda, Australia, Belgia dan sebagainya, pendidikan teknologi sudah diperkenalkan sejak akhir dasa warsa yang lalu dan saat ini telah dijadikan bagian dari kurikulum pokok pada sekolah dasar dan sekolah lanjutan, selain itu di Afrika Selatan sudah dipersiapkan kurikulum yang disebut "kurikulum Afrika Selatan menuju tahun 2005" dan memasukkan pendidikan teknologi sebagai mata pelajaran pokok.

Di Indonesia sebenarnya telah ada gagasan untuk memperkenalkan pendidikan teknologi sebagai mata pelajaran yang terpisah, yaitu pada saat penyuusunan kurikulum tahun 1990-1991, tetapi akhirnya diputuskan oleh pemerintah, bahwa teknologi diintegrasikan kedalam mata pelajaran yang sudah ada seperti Fisika, Kimia, Biologi dan sebagainya seperti yang kita lihat dalam kurikulum tahun 1994, misanya seperti pada mata pelajaran IPA telah diperkenalkan kegiayan merancang dan membuat dengan mengaplikasikan konsep Fisika dengan kebutuhan siswa di masyarakat. Di SLTP terdapat 10 %-15 % kegiatan teknologi dalam bentuk merancang dan membuat.

Pada saat ini di Indonesia Pendidikan Teknologi Dasar (BTE) mulai diperkenalkan dalam mata pelajaran yang terpisah dan masih merupakan proyek rintisan dan percontohan, kegiatan ini di perkenalkan di Indonesia atas kerjasam . Departement Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dan Departement Pendidikana dan Kebudayaan pemerintah Kerajaan Belanda, secara operasional kegiatan ini di laksanakan oleh SLO ( Pusat kurikulum Belanda ) dan Direktorat Sekolah Swasta ( Ditsiswa ) Depdikbud Indonesia. Dan di tunjuk 4 sekolah swasta percontohan yaitu SLTP Taruna Bakti Bandung, SLTP Al-Kautsar Bandar Lampung, SLTP Hang Tuah Ujung Pandang dan SLTP Katolik Ambon, semua nya adalah SLTP_SLTP swasta. Kurikulumnya dikembangkan oleh Balitbang Depdikbud, PPPG teknologi Bandung dan SLO ( Pusat Kurikulum Belanda ), sedangakan pengembangan materi dan metodeloginya dilakukan oleh PPPG Teknologi Bandung bekerja sama dengan Hoogeschool Van Utrecht ( Hvu ) Belanda.

B. Peluang Pendidikan Teknologi Dasar dalam Kurikulum SLTP Tahun 1994 ( Kurikulum Pendidikan Dasar 1994 ).

Dalam era globalisasi, yang seperti telah dicanangkan oleh Presiden terdahulu bahwa Indonesia tahun 2003 - 2010akan memasuki pasar bebas, diaman setiap orang dapat melakukan aktifitas di Indonesia dengan kompetisi objektif, tanpa melihat asal usul kewarga negaraannya, hal itu berarti siap tidak siap, suka tidak suka, mau tidak mau semua masyarakat Indonesia harus berhadapan dan terlibat langsung dengan perkembangan Ilmu Perngetahuan dan Tenologi ( IPTEK ) yang sangat pesat, bagaikan "Air Bah" yang dapat menerjang siapa saja.

Kondisi terssebut dapat memberi peluang yang sanagt besar bagi kita, tetapi juga dapat menimbulkan tantangan yang besar pula. Hanya saja tantangan yang besar itu jangann sampai menjadi ancaman, karen kita bangsa Indonesia tidak mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Untuk mengantisipasi keadaaan itu, pemerintah sejak tahun 1984 telah wajib belajar sembilan tahun oleh presiden Soeharto waktu itu, sehingga pada tahun 2003 di harapkan masyarakat Indonesia serendah-rendahnya berpendidikan SLTP.Pada kondisi tersebut, merupakan tonggak yang amat kritis karena ke majuan negara sangat bergantung kepda kwalitas sumber daya manusianya agar kita dapat bersaing secara global dengan cara kompotitf atau kooperatif.

Selain itu masyarakat indonesia harus "melek teknologi" (sadar teknologi), sehingga wawasan IPTEK perlu diperkenalkan secara dini kepada para siswa-siswi kita. Persoalannya sekarang adalah, apakah sistimm pendidikan yang sudah ada sekarang memungkinkan dapat meningkatkan wawasan IPTEK siswa ?, Apakah masih ada peluang lain untuk meningkatkan wawasan IPTEK siswa ?.

Kita tinjau kurikulum tentang Pendidikan Dasar yang telah disiapkan oleh pemerintah, dalam buku kurikulum pendidikan tahun 1994 tentang Pendidikan Dasar, penyajian mata pelajaran dimaksudkan agar lulusannya memperoleh bekal kemampuan dasar untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, warga negara dan anggota masyarakat serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah (PP no 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar).

Selanjutnya dalam buku Kurikulum Pendidikan Dasar : Landasan, Program dan Pengembangan dijelaskan bahwa "Kurikulum di SLTP lebih menekankan pada kemampuan siswa untuk menguasai dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan lingkungan. Pengauasaan tersebut akan memudahkan siswa untuk mengembangkan kemampuannya secara bertahap seperti berpikir teratur, kritis dalam memecahkan masalah sederhana serta sanggup bersikap mandiri dalam kebersamnaan" makna dari ungkapan tersebut diatas, mengisaratkan bahwa peluang memperkenalkan wawasan IPTEK sudah tersirat dalam kurikulum tahun 1994 dan wawasan IPTEK sudah seharusnya mulai diperkenalkan sjak di SLTP.

C. Apa Pendidikan Teknologi Dasar itu ?

Pendidikan Teknologi Dasar menurut HJ. Grover dapat didefinisikan sebagai pendidikan untuk massa depan yang memberi anak-anak muda kesempatan untuk mempelajari berbagai jenis bahan, proses, produk industri dan permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan dan pekerjaan dalam dunia teknologi (SLO, basic Technology Education, Nov. 1995). Definisi secara acurat sulit untuk diberikan karena teknologi berubah secara cepat.

Pendidikan Teknologi Dasar bertujuan memperkenalkan dan membiasakan para siswa-siswi terhadap dunia teknologi dengan aspek-aspek penting yang memungkinkan siswa dapat :
1. Mengembangkan berpikir kritis terhadap teknologi.
2. Mengembangkan kemampuan berpendapat tentang teknologi dan mampu menggambarkannya pada orang lain.
3. Mengidentifikasi dampak teknologi baik yang positif maupun yang negatif terhadap masyarakat dan lingkungan.
4. Memiliki wawasan dalam memilih profesi dalam bidang teknologi sehingga memiliki peran yang berarti di dalam masyarakat.
5. Memiliki motivasi untuk belajar lebih lanjut tentang teknologi.
6. Membiasakan diri bekerja sendiri dalam kebersamaan.

Teknologi bagi setiap anak dan masyarakat tidaklah sama, sebagai contoh anak yang berada di Jakarta mempunyai pandangan tentang teknologi yang sangat berbeda dengan anak yang berada di kota Menado, akan tetapi adan teknologi yang bersifat umum. Selain itu pada saat ini dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat anak akan mempunyai pandangan dasar tentang teknologi yang hampir sama dan menyadari bahwa teknologi berkembang sangat pesat.

Dalam pendidikan teknologi dasar setiap siswa akan memperoleh pengetahuan dan pemahaman terhadap tiga pilar teknologi yaitu :
1. Penangan produk teknologi.
Para siswa dapat menggunakan produk teknologi secara tepat dan benar, baik berupa alat untuk memproduksi, maupun alat-alat ukur (instrumen), sehingga memberi kesempatan kepada para siswa untuk memahami kemampuan dan minatnya dalam bidang teknologi. Pada bagian ini para siswa belajar tentang teknologi dengan praktek dan praktikum dengan metoda pemecahan masalah dan pendekatan sistim.
2. Pembuatan produk teknik.
Para siswa diharapkan dapat menyadari bahwa teknologi sebagai suatu proses kegiatan yang dapat membuat sesuatu benda kerja yang dapat berfungsi dan bermanfaat baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain.Dalam bagian ini para siswa belajar bagaimana membuat produk teknik atau benda kerja yang dapat berfungsi dengan cara terlibat selama proses pembuatannya dan menggunakan produk teknologi sebagai alatnya. Benda yang dibuat oleh siswa adalah benda yang dapat berfungsi karena benda yang berfungsi akan memberikan motivasi yang tinggi pada diri para siswa untuk belajar lebih lanjut. Pada bagian ini para siswa akan belajar teknologi dasar dengan metoda : alur produksi, kunjungan industri, pemecahan masalahdan pendekatan sistim.
3. Teknologi dan masyarakat.
Teknologi sebagai suatu alat untuk memecahkan permasalahan manusia. Disini terdapat hubungan yang erat antara teknologi dengan ilmu pengetahuan lain di dalam masyarakat. Pada bagian ini para siswa belajar dengan metoda kunjungan industri, pemecahan masalah, alur produksi dan bekerja tematis.

Berdasarkan ketiga pilar tersebut diatas materi umum pendidikan dasar teknologi dikembangkan, dengan koposisi sebagai berikut : (a) Penanganan produk teknologi memerlukan waktu 30 %; (b) Pembuatan produk teknologi, meerlukan waktu 35 %; (c) Hubungan antara teknologi dengan masyarakat, memerlukan alokasi waktu 10 %. Sedangkan waktu yang tersisa sekitar 25 % dicadangkan untuk diisi dengan teknologi yang sifatnya lokal atau sesuai dengan perkembangan teknologi yang yang ada didekat lingkungan para siswa.

D. Buku Sumber.
1. ................., (1997) Basic Technology Education Curriculum Indonesia, Educaplan, Enschede, The Netherlands.
2. Doornekamp, B.G. (1995). Technology in Dutch Primary Education, National Institut for Curriculum Devellopment, The Netherlands.
3. Griffith, Alan K & Health, Nancy Parson, (1996), Student Secondary view about Technology, Journal Research in Science & Technology Education, Vol. 14, No. 2.
4. Sukadinata, Prof. Dr. Nana Syaodih, (1997) Pengembangan Kurikulum, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Organisasi

STRUKTUR ORGANISASI PUSAT KAJIAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI DASAR
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Kepala Pusat : Dr. Didi Teguh Chandra, M.S.
Sekretaris : Dr. Wahyu Surakusumah, M.Si.

Koordinator Bidang :
1. Penelitian dan Pengembangan : Drs. Wiji, M.Si.
2. Kerjasama dan Kemitraan : Dr. Wawan Setiawan, M.Kom.
3. Forum Ilmiah dan Akademik : Drs. Suhendra, M.Ed.
4. Pendidikan dan Pelatihan : Dr. Parsaoran Siahaan, M.Pd.

Tenaga Ahli :
1. Dr. R. Asep Kadarohman, M.Si. (Kimia)
2. Dr. Agus Setiabudi, M.Si. (Kimia)
3. Topik Hidayat, S.Pd., M.Sc., Ph.D. (Bioteknologi)
4. Dr. rer. nat. Adi Rahmat, M.Si. (Bioteknologi)
5. Prof. Dr. Nuryani Rustaman, M.Pd. (Biologi)
6. Prof. Yaya Sukjaya Kusumah, M.Sc. (Matematika)
7. Prof. Dr. Anna Permanasari, M.Si. (Kimia)
8. Dr. Wawan Setiawan, M.Kom. (Image Processing)
9. Khusnul Novianingsih, M.Si. (Kimia)
10. Turmudi, M.Sc., Ph.D. (Matematika)
11. Aljupri, M.Sc. (Matematika)
12. Rini Solihat, M.Si. (Biologi)
13. Heli Siti, M.Si. (Kimia)
14. Jajang Kusnandar, MT. (Teknologi Informasi)
15. Diah Kusumawati, M.Si. (Biologi)
16. Dr. Munir, MIT. (Multimedia)
17. Arif Hidayah. M.Si. (Fisika)
18. Dr. Any Fitriani, M.Si. (Biologi)
19. Dr. Setiya utari, M.Si. (Fisika)
20. Ridwan efendi, M.Si. (Fisika)
21. Dr. Selly Feranie, M.Si. (Fisika)
22. Dr. Andi Suhandi, M.Si. (Fisika)
23. Dr. Dadi Rusdiana, M.Si. (Fisika)
24. Kardiawarman, M.Sc., Ph.D. (Fisika)