Jumat, 16 Maret 2012

Nuklir Indonesia

Kekuatan keberanian


"Keberanian" merupakan aset yang sangat berharga bagi pribadi kita. Keberanian bisa menjadikan sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Keberanian bisa mejadikan sikap negatif menjadi positif, loyo menjadi semangat, takut jadi berani, pesimis menjadi optimis, miskin menjadi kaya, gagal menjadi sukses.

Dengan menyadari akan besarnya kontribusi KEKUATAN KEBERANIAN bagi kita, mari pastikan untuk memanfaatkan KEBERANIAN semaksimalnya dengan:


  • Berani menentukan cita-cita yang tinggi
  • Berani bangkit lagi dari kegagalan
  • Berani belajar dari kelemahan dan kesalahan
  • Berani membayar harga untuk keberhasilan
  • Berani memastikan untuk berjuang sampai sukses!!!

Salam sukses luar biasa!!


Katakan Pasti Bisaaa!

PLTN Akan Dikontrol oleh IAEA, Semenanjung Muria Dinilai Aman


Jangka Menengah/Panjang,
Tahun Pencapaian


2.

Science and Technology Base (STB) bidang energi nuklir, 2010

3.

Reaktor daya nuklir pertama dioperasikan di Indonesia (Sistem Jaringan Jawa-Bali), 2016

4.

Fasilitas Nasional Pelayanan Pengelolaan Limbah Radioaktif (non PLTN), 2007;
Persiapan Design Fasilitas Pengelolaan Limbah Terpadu PLTN, 2008;
Pengoperasian Fasilitas, 2016

5.

Tersedianya data cadangan Uranium kategori terukur yang signifikan, 2015



Keselamatan operasional pembangkit listrik tenaga nuklir di tiap negara—dimulai sejak perencanaan hingga pembangunannya—kini dikontrol oleh Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA. Pengontrolan tersebut dimaksudkan untuk menjamin perlindungan atas risiko operasionalnya.


"Kesepakatan internasional memungkinkan IAEA mengontrol dari berbagai kemungkinan, termasuk dari segi teknologi maupun lokasi yang akan digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di setiap negara. IAEA juga memberikan rekomendasi untuk mendukung keselamatan operasional PLTN," kata Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat pada Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Ferhat Azis di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Ferhat, kini teknologi PLTN sudah jauh berkembang sejak terjadi beberapa kecelakaan reaktor nuklir, termasuk di Chernobyl, Uni Soviet, tahun 1986. Perkembangan teknologi reaktor nuklir sekarang yang membedakan dengan reaktor nuklir Chernobyl adalah pada kapasitas teknologi pengukung radiasi bahan radio-aktifnya.


Teknologi pengukung memungkinkan untuk mengadang radiasi radioaktif manakala terjadi kecelakaan reaktor nuklir. Teknologi ini tidak diterapkan pada reaktor nuklir Chernobyl.


Ferhat mengakui, jaminan keselamatan teknologi PLTN memang berbeda dengan jaminan kemampuan pemerintah untuk memberikan perlindungan risiko mengingat kedua hal tersebut memang berbeda. Kemampuan untuk menjamin perlindungan risiko melibatkan lebih banyak pihak lagi.


Secara terpisah, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, risiko bukan hanya pada pembangunan dan pengoperasian PLTN. Setiap proyek yang melibatkan orang, barang, dan uang pasti mengandung risiko. Karena itu, tambahnya, pemerintah tetap akan mewujudkan PLTN sesuai dengan rencana, yakni bisa beroperasi pada 2016-2017.

Lokasi aman

Ferhat menambahkan, calon lokasi di Semenanjung Muria, Jawa Tengah, sudah disetujui IAEA sebagai lokasi yang aman untuk pembangunan PLTN. Saat ini memang masih ada prasyarat yang harus dilengkapi berupa penelusuran pengaruh vulkanologi terhadap sesar/patahan gempa.

"Pengeboran sedalam 300 meter akan ditempuh untuk memastikan sesar yang timbul akibat aktivitas vulkanologi Gunung Muria," kata Ferhat.

Menurut Ferhat, Gunung Muria sendiri diperkirakan sudah tidak aktif lagi sejak sekitar 300.000 tahun yang lalu. Keberadaan magma yang ada di perut Bumi di bawah Gunung Muria sudah ditelusuri hingga kedalaman 13 kilometer.

"Pada kedalaman 13 kilometer, magma di Gunung Muria tidak ditemukan. Lain halnya di Gunung Merapi, di mana magma ditemukan pada kedalaman tujuh kilometer," kata Ferhat.

Mengenai kedekatan calon lokasi PLTN dengan jalur sesar yang timbul akibat aktivitas vulkanologi Gunung Muria, menurut Ferhat, diperkirakan berjarak sekitar 11 kilometer. Namun, tambahnya, ini pun tidak menyalahi rekomendasi dari IAEA yang menetapkan jarak lokasi PLTN dengan sesar gempa vulkanologi berjarak minimal 5 kilometer. (NAW)


Sumber: Kompas, Senin, 6 Agustus 2007


Masyarakat Nuklir Indonesia


Indonesian Nuclear Society


The Indonesian Nuclear Society was launched in the mid-1960s,

(when first reactor in Indonesia launched [Triga Mark II at Bandung] a time of growing interest in employing peaceful applications of nuclear science and technology for bettering the lives of people in the Indonesian and around the world.

Diaktifkan kembali karena kebutuhannya untuk memenuhi tantangan sekarang dan di masa depan khususnya penyediaan energi dan pemanfaatan ilmu seta teknologi Nuklir untuk Perdamaian



Visi


Pendukung dan Pengembang Program IPTEK Nuklir untuk Perdamaian di Indonesia

18 Reaktor Nuklir Indonesia tahun 2040

Tersedianya sarana pendamping disetiap reaktor

1. Pusat Pendidikan dan Latihan

2. Pusat Inovasi, Penelitian dan Pengembangan


Misi


1. Wahana Edukasi masyarakat mengenai IPTEK Nuklir

2. Sarana penampung aspirasi masyarakat mengenai IPTEK Nuklir


Program

1. Pertemuan Rutin Pertahun

2. Publikasi dan Edukasi Masyarakat


Fokus


5 Tahun Pertama

(2010-2015)



5 Tahun Kedua

(2015-2020)


5 Tahun Ketiga

(2020-2025)


5 Tahun Keempat

(2025-2030)


5 Tahun Kelima

(2030-2035)


5 Tahun Keenam

(2035-2040)


MODAL DASAR

Modal dasar yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian, pengembangan dan rekayasa yang berlandaskan pada sistem inovasi nasional, antara lain adalah

• Potensi sumber daya manusia dan sumber daya IPTEK lainnya;
• Variasi pilihan pemanfaatan, pengembangan, penguasaan IPTEK;
• Keanekaragaman sumber daya alam;
• Dunia usaha skala besar, menengah dan kecil;
• Potensi pasar dalam negeri;
• Keanekaragaman budaya dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge);
• Proses demokrasi politik.

Semua modal dasar dapat didayagunakan apabila pembangunan IPTEK ditunjang oleh perangkat kelembagaan dan iklim yang kondusif bagi pengembangan sistem inovasi nasional. Sistem inovasi nasional ini merupakan landasan pemikiran yang menyeluruh untuk pembangunan IPTEK yang mencakup pilar-pilar utama seperti sumber daya manusia, teknologi dan modal yang berinteraksi secara harmonis, yang dikemas dalam sektor-sektor produksi, lembaga-lembaga litbang; perguruan tinggi; dunia usaha; lembaga keuangan dan lain-lain yang mempunyai kesamaan pemahaman, keserempakan tindak dan keterpaduan yang menyeluruh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar