Senin, 02 Juli 2012

Membangunkan Sains Indonesia



Oleh: Prof. Bambang Hidayat, Ph.D.

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Peta hasil kemampuan akademis kita dapat ditera dari akumulasi publikasi ilmiah serta sumbangannya pada kemajuan perekonomian dan pembukaan lapangan kerja. Namun, masa hibernasi yang lama membuat banyak sektor pendidikan dan penelitian terbengkalai.

Indeks yang dicitrakan oleh metrik pertama, publikasi ilmiah, tidak dapat dihindari karena merupakan pencerminan kemampuan mengungkap rahasia alam, baik di bidang sains murni maupun terapan.

Metrik kedua merupakan ukuran komitmen kita pada pembangunan bangsa sekaligus unjuk watak pendidikan dan kemampuan lembaga penelitian, baik di lingkup perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Lembaga seperti ini merentang pengertian sains, teknologi, dan budaya dalam medan sosial bangsanya. Yang pertama menumbuhkan tantangan pada alur kecerdasan dan intelektualitas. Yang kedua menghadirkan daya dorong laju penciptaan intelektual, keprigelan, dan kejelian memandang kesempatan.

Kesempatan adalah peluang yang tidak pernah bermata. Oleh karena itu, kejelian kita diperlukan untuk menangkap kesempatan lewat pembaruan dan ekonomi (Rahardi Ramelan, Kompas, 1 Juni 2012).

Studi baru dari peneliti Australia memanfaatkan data Institute for Science Information (ISI) menunjukkan berita gembira: ke-10 anggota ASEAN menghasilkan makalah ilmu pengetahuan tiga kali lebih banyak selama dekade terakhir daripada dekade sebelumnya.

Menggembirakan, tetapi runutan rinci akan membuat kita berkerut dahi: 45 persen produk ilmiah ini dihasilkan Singapura, diikuti Thailand 21 persen dan Malaysia 16 persen pada lapisan kedua. Baru pada lapisan ketiga terlihat sumbangan Vietnam 6 persen, Indonesia 5 persen, dan Filipina 5 persen.

Ini jelas gambaran kurang menyenangkan dari perspektif Indonesia, apalagi ada dua hal lagi yang seharusnya menjadi cambuk bagi kita. Pertama, Thailand dan Malaysia menunjukkan peningkatan terbesar, sedangkan Indonesia dan Filipina peningkatannya terkecil.


Kedua, Vietnam sangat kuat di bidang fisika dan matematika, Singapura pada sains materi dan nanoteknologi, Thailand pada ilmu pengetahuan gizi dan makanan. Malaysia berjaya pada rekayasa dan Filipina pertanian.

Berada pada lapisan ketiga, apalagi di bawah Malaysia dan Thailand tanpa keunggulan ilmu pengetahuan, tentu tidak membanggakan. Sedikitnya ada dua argumen yang mengakibatkan unjuk kerja kita terpuruk. Pertama, riset di perguruan tinggi (PT) serta lembaga pemerintah kurang efisien-efektif. Terutama karena sistemik penyelenggaraan penelitian kurang mendukung, di samping melemahnya kemauan dan kemampuan sumber daya manusia.

Membangun asa

Ibarat komputer, elemen pembangkit sistem ilmu pengetahuan di negara kita nyaris hang dan perlu segera di-bootulang. Maka, yang harus diubah pertama kali adalah pemahaman para pemangku kepentingan akademis mengenai hakikat pendidikan tinggi.

PT adalah sasana tempat pengalihan dan pengembangan ilmu yang bisa melahirkan ilmu-ilmu baru atau terapan yang membangun. Jadi, selain sebagai tempat penyemaian kemampuan intelektual, PT adalah tempat mengkaji pemikiran. Riset yang dilakukan secara terintegrasi dengan pendidikan (pascasarjana) tentu saja merupakan cita-cita Tri Dharma PT. Pendidikan dan riset akan secara interaktif menguatkan kontribusi PT dalam menghasilkan produk sadar kebutuhan masyarakat.

Karena jumlah dana penelitian terbatas, dibutuhkan strategi pendanaan. Konsekuensinya, penetapan area dan topik riset unggulan di PT tidak hanya sah, tetapi merupakan suatu keharusan kalau hasil hendak dipertandingkan dengan sumbangannya. Maka, mekanisme pemilihan tema jelas berbeda dengan agenda riset nasional (ARN).

Jika ARN bersifat top-down, di PT mekanisme harus bersifat bottom-up, yakni mengakomodasi bakat, minat, dan tujuan khas peneliti. Hal ini penting karena seperti hasil studi di atas, setiap negara hanya mampu mencuatkan satu atau beberapa keunggulan hasil penelitian. Kaidah ”ambeg parama arta” sangat penting sebagai wawasan, bukan mendiskriminasi unggulan.

Keunggulan SDM dapat diketahui dengan cermat dari basis data yang sudah ada, seperti ISI Thomson. Penentuan kualitas dan kuantitas sumber daya alam (SDA) dapat dilakukan melalui pemetaan kekayaan nasional. Keunggulan SDA, mulai dari keanekaan hayati, kedudukan Indonesia dalam lingkup ring of fire, sampai ke panjang pesisir kita, zoonis, dan peri kebinatangan tropika, merupakan energi potensial untuk bersaing dalam kancah riset internasional.

Tentu saja kita tidak boleh menelantarkan bidang lain karena akan terjadi pengerdilan suatu bidang ilmu. Porsi 30 persen dana penelitian yang dicanangkan pemerintah untuk dikompetisikan akan masuk ke sini. Di samping itu, pemerintah memikul kewajiban luhur mencarikan dana alternatif bagi bidang-bidang langka. Perlu kepekaan sistemik memilah tema keilmuan dan rekayasa yang memberi kegunaan pada masa depan.

Unsur penentu

Penggunaan indeks ISI sebagai patokan kinerja pengembangan sains memerlukan redefinisi pengertian jurnal internasional. Hakikat penulisan ilmiah adalah peneliti memasarkan hasil risetnya. Proses ini akan dinilai berhasil jika ada ”pembeli”.

Sebuah makalah dianggap ”dibeli” jika ada yang membaca, mengutip, dan menindaklanjuti makalah tersebut. Definisi impact factor (IF) penting untuk dipahami. Sebuah jurnal dengan IF tinggi menunjukkan bahwa jurnal tersebut sering dikutip sehingga harus memiliki IF.

Baru-baru ini kolega dari Malaysia menginformasikan jika negaranya hanya mendefinisikan dua jenis publikasi, dengan IF dan tanpa IF. Hanya yang pertama yang mendapat insentif!

Baik di PT maupun lembaga penelitian ujung tombak riset adalah para senior yang sering dimanifestasikan dalam sosok guru besar atau profesor riset. Mereka adalah elite dalam masyarakat pendidikan dan penelitian yang diharapkan menjadi ujung tombak kemajuan sains.

Jadi, sistem harus ”memaksa” kelompok elite ini melaksanakan tugas luhurnya untuk publikasi riset ataupun wawasan pemikiran akademik yang bermakna. Salah satu tugas senior di PT adalah membimbing mahasiswa S-3 dan menanamkan jiwa keilmiahan. Jadi, tidak salah jika kualitas pendidikan strata S-3 hendak disejajarkan dengan kualitas global.

Di beberapa universitas, baik di dalam maupun di luar negeri (Malaysia, misalnya), publikasi internasional bukan merupakan barang asing, baik bagi promotor maupun mahasiswa S-3. Sudah semestinya hal ini merupakan cetak biru program PT.

Tidak kurang penting adalah sistem insentif dan pemberian hibah penelitian. Sistem insentif yang berasas ”bagi rata” harus diganti dengan asas meritologi dan kepentingan keilmuan. Dana penelitian yang diberikan tepat-tempo membuat peneliti memiliki kepastian awal dan akhir kerjanya. (Kompas, 29 Juni 2012/ humasristek)

Senin, 18 Juni 2012

Nanoteknologi

Nanoteknologi Hijau



Green nanotechnology refers to the use of nanotechnology to enhance the environmental-sustainability of processes currently producing negative externalities. It also refers to the use of the products of nanotechnology to enhance sustainability. It is about doing things right in the first place—about making green nano-products and using nano-products in support of sustainability.

Contents


Green Nanotechnology

Environmental degradation is a serious problem with many sources and causes. One of the biggest causes is farming. Greenhouses can greatly reduce water use, land use, runoff, and topsoil loss. Mining is another serious problem. When most structure and function can be built out of carbon and hydrogen by molecular manufacturing, there will be far less use for minerals, and mining operations mostly can be shut down. Manufacturing technologies that pollute can also be scaled back.

In general, improved technology allows operations that pollute to be more compact and contained, and cheap manufacturing allows improvements to be deployed rapidly at low cost. Storable solar energy will reduce ash, soot, hydrocarbon, NOx, and CO2 emissions, as well as oil spills. In most cases, there will be strong economic incentives to adopt newer, more efficient technologies as rapidly as possible. Even in areas that currently do not have a technological infrastructure, self-contained molecular manufacturing will allow the rapid deployment of environment-friendly technology.

GREENHOUSES - Moving agriculture into greenhouses can recover most of the water used, by dehumidifying the exhaust air and treating and re-using runoff. Additionally, greenhouse agriculture requires less labor and far less land area than open-field agriculture, and provides greater independence from weather conditions including seasonal variations and droughts. Greenhouses, with or without thermal insulation, would be extremely cheap to build with nanotechnology. A large-scale move to greenhouse agriculture would reduce water use, land use, and weather-related food shortages.

WATER - A few basic problems create vast amounts of suffering and tragedy. According to this World Bank document, water is a major concern of the U.N. Almost half the world's population lacks access to basic sanitation, and almost 1.5 billion have no access to clean water. Of the water used in the world, 67% is used for agriculture, and another 19% for industry. Residential use accounts for less than 9%. Much industry can be directly replaced by molecular manufacturing. Agriculture can be moved into greenhouses. Residential water can be treated and recycled. Adoption of these steps could reduce water consumption by at least 50%, and probably 90%. Water-related diseases kill thousands, perhaps tens of thousands, of children each day. This is entirely preventable with basic technology, cheap to manufacture—if the factories are cheap and portable.

PURIFICATION - Much water today is wasted because it is almost but not entirely pure. Simple, reliable mechanical and electrical treatment technologies can recover brackish or tainted water for agricultural or even domestic use. These technologies require only initial manufacturing and a modest power supply. Physical filters with nanometer-scale pores can remove 100% of bacteria, viruses, and even prions. An electrical separation technology that attracts ions to supercapacitor plates can remove salts and heavy metals.

The ability to recycle water from any source for any use can save huge amounts of water, and allow the use of presently unusable water resources. It can also eliminate downstream pollution; a completely effective water filter also permits the generation of quite "dirty" waste streams from agricultural and industrial operations. As long as the waste is contained, it can be filtered, concentrated, and perhaps even purified and used profitably. As with anything built by nanotechnology, initial manufacturing costs for a water treatment system would be extremely low. Power will be cheap (see below). Well-structured filter materials and smaller actuators will allow even the smallest filter elements to be self-monitoring and self-cleaning. Self-contained, small, completely automated filter units can be integrated in systems scalable over a wide range.

SOLAR POWER - The main source of power today is the burning of carbon-containing fuels. This is generally inefficient, frequently non-renewable, and dumps carbon dioxide and other waste products (including radioactive substances from coal) into the atmosphere. Solar energy would be feasible in most areas of the globe if manufacturing and land were sufficiently cheap and energy storage were sufficiently effective. Solar electricity generation depends on either photovoltaic conversion, or concentrating direct sunlight. The former works, although with reduced efficiency, on cloudy days; the latter can be accomplished without semiconductors. In either case, not much material is required, and mechanical designs can be made simple and fairly easy to maintain.

With molecular manufacturing, sun-tracking designs can benefit from cheap computers and compact actuators. Energy can be stored efficiently for several days in relatively large flywheels built of thin diamond and weighted with water. Smaller energy storage systems can be built with diamond springs, providing a power density similar to chemical fuel storage and much higher than today's batteries. Water electrolysis and recombination provide scalable, storable, transportable energy. However, there is some cost in efficiency and in complexity of technology to deal safely with large-scale hydrogen storage or transportation.

Solar solutions can be implemented on an individual, village, or national scale. The energy of direct sunlight is approximately 1 kW per square meter. Dividing that by 10 to account for nighttime, cloudy days, and system inefficiencies, present-day American power demands (about 10 kW per person) would require about 100 square meters of collector surface per person. Multiplying this figure by a population of 325 million (estimated by the US Census Bureau for 2020) yields a requirement for approximately 12,500 square miles of area to be covered with solar collectors. This represents 0.35% of total US land surface area. Much of this could be implemented on rooftops, and conceivably even on road surfaces.

Senin, 11 Juni 2012

Inovasi Indonesia


Buku Panduan KIN



Download




Oleh: Prof. Dr. Ir. Zuhal MSc EE. (lahir di CirebonJawa Barat5 Mei 1941; umur 71 tahun) adalah mantan Menteri Riset dan Teknologi era Kabinet Reformasi Pembangunan dan mantan Direktur Utama PLN.
Juga sebagai Guru Besar Elektro Teknik yang meniti karier sebagai dosen dan peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI). Pendidikan tingginya ditempuh di ITB, University of Southern California, dan University of Tokyo. Di bidang Riset dan Pengembangan Teknologi, ia pernah menjabat Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) dan Ketua Dewan Riset Nasional (DRN). 

Di bidang korporat, ia pernah bertugas menjadi Direktur Utama (CEO) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), saat terjadi krisis listrik tahun 1992–1995. Sedangkan sebagai Pejabat Negara, ia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Meneg Ristek) pada Kabinet Reformasi, setelah sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur Jendral Listrik dan Pengembangan Energi. Dengan pengalamannya berkiprah di ranah akademis, bisnis, dan pemerintahan (triple helix) itu,ia merupakan salah seorang pendorong kuat terwujudnya Sistem Inovasi Nasional (SINAS) di Indonesia. 

Saat ini ia adalah Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) dan Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN). Zuhal adalah Guru Besar Elektroteknik pada Fakultas Teknik, Universitas Indonesia (FT-UI).



Indonesia adalah negara kepualauan terbesar di dunia terdiri lebih dari 13.000 pulau membentang seperti zamrud khatulistiwa, dan dikenal sebagai satu-satunya Benua Maritim di dunia. Benua maritim dengan sumber daya alam yang berlimpah ini adalah anugrah dan merupakan keuntungan komparatif untuk mendukung negara indonesia yang makmur.

Namun, kita harus mengelola anugrah ini secara berkesinambungan ekonomi indonesia sangant bergantung kepada eksplotasi sumber daya alam (keunggulan komparatif) dan sedikit sekali menggunakan keunggulan kompetitif. Padahal untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, kita harus menggembangkan keunggulan kompotitif dengan selalu berinovasi. Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, merespon tantangan di atas dengan membentuk Komite Inovasi nasional pada tanggal 15 Juni 2010. KIN- sebuah badan independen yang terdiri dari 30 orang intelektual yang dipilih secara langsung oleh Presiden- diharapkan dapat memacu inovasi dengan: 

1) memberikan rekomendasi tentang kebijakan inovasi dengan prinsip "out of the box, but within the system", 

2) memperkuat kerja sama inter-sektoral antara aktor-aktor inovasi; 

3) memonitor implementasi kebijakan pemerintah tentang inovasi. Tugas- tugas ini dilaksanakan untuk memperkuat Sistem Inovasi Nasional yang pada saat ini belum berjalan dengan baik.



Tidak ada resep yang sederhana bagi indonesia untuk mengubah posisinya dari factor driven economy menjadi innovation driven economy. Pada tahun pertama, KIN secara strategis telah memposisikan dirinya sebagai organisasi kunci untuk mempromosikan pentingnya inovasi di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dengan memperkenalkan inisiatif inovasi 1-747. 

Inisiatif ini menekankan pada empat aspek utama, yaitu: meningkatkan dana R&D sebesar 1% dari GDP secara bertahap sampai tahun 2014 untuk membangkitkan inovasi; tujuh strategi untuk memperbaiki ekosistem inovasi; empat wahana industri untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi; dan tujuh sasaran visi indonesia 2025. 

Pemerintah menargetkan indonesia menjadi negara maju pada tahun 2025 dengan meluncurkan Master Plan Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Ekonomi Indonesia(MP3EI) sebagai pelengkap RPJPN. KIN berkepentingan untuk menjamin semua aspek inovasi tercakup dalam seluruh program MP3EI sehingga terjadi perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat yang berkesimambungan. 

Ketika kita berjuang mencapai kesejahteraan yang merata, tantangan utamanya adalah kita haru menjaga kesinambungan lingkungan. di sinilah inovasi menjadi sangat penting. Masa depan indonesia pada akhirnya bergantung kepada kemampuan kita berinovasi, bukan mengeksplotasi. KIN bertanggung jawab untuk menjadikan hal ini menjadi salah satu kebijakan nasional indonesia.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa merestui usaha kita mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi negara yang kita cintai.

INDONESIA   

Jumat, 18 Mei 2012

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

Nanoteknologi dan Penjelajahan Antariksa dimasa yang Akan Datang



nanoFET propulsion system

nanoFET characteristic size scales
(Image: University of Michigan Department of Aerospace Engineering)


Nanotechnology & Space



Applications of Nanotechnology in Space Developments and Systems April 2003

NSS Position Paper on Space and Molecular Nanotechnology

Space Colony Art from the 1970s

Orbital Space Settlements

A Futurist Perspective For Space (pdf file) Dr. Kenneth J. Cox, June 2001.

Space Settlement Video Library

Space Settlement Contest Highlights

Living in a Ring World JAVA Applet

Lewis One Space Colony

Space Shuttle External Tank Applications - Sept 2000

International Space University

Wisconsin Center for Space Automation and Robotics (WCSAR) a NASA sponsored Commercial Space Center (CSC) located in the College of Engineering at the University of Wisconsin - Madison. WCSAR is under the management of the Space Product Development (SPD) Office at Marshall Space Flight Center (MSFC). The mission of the CSC program is to make the unique attributes of space available to American industry in order to support economic growth, increase employment opportunities and enhance the quality of life on Earth.

National Space Society

American Institute of Aeronautics and Astronautics (AIAA) For more than 65 years, the American Institute of Aeronautics and Astronautics (AIAA) and its predecessors, has been the principal society of the aerospace engineer and scientist. Officially formed in 1963 through a merger of the American Rocket Society (ARS) and the Institute of Aerospace Sciences (IAS), the purpose was, and still is, "to advance the arts, sciences, and technology of aeronautics and astronautics, and to promote the professionalism of those engaged in these pursuits."


Space Studies Institute (SSI) The Space Studies Institute's primary activity is the development of tools and techniques to harvest space resources. SSI's plan calls for the use of resources already in space.

Don Davis "High Frontier" Artshow at SSI

A business plan for the development of the Lagrange points: the gateway to the high frontier Jay Thomas & Steven J. Neurauter October 2000

Foundation for the International Non-governmental Development of Space (FINDS) supports space science research, events, and development with financial grants.

Our Future in the Cosmos--Space A speech given by Isaac Asimov at Rutgers University
Space Art Part 2 Seeing above & beyond ...

Space Future "Space Future is for everyone who wants to go to space."

General Public Space Travel and Tourism Summary of a Space Act Agreement Study, including a workshop held at Georgetown University, Washington, D.C. February 19-21, 1997


Selasa, 01 Mei 2012

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025



Abstrak

Mempertimbangkan berbagai potensi dan keunggulan yang dimiliki,serta tantangan pembangunan yang harus dihadapi, Indonesia memerlukan suatu transformasi ekonomi berupa percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi menuju negara maju sehingga Indonesia dapat meningkatkan daya saing sekaligus mewujudkan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia. 

Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan langkah awal untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju dan termasuk 10 (sepuluh) negara besar di dunia pada tahun 2025 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut, diharapkan pertumbuhan ekonomi riil rata-rata sekitar 7-9 persen per tahun secara berkelanjutan. 

Pengembangan MP3EI dilakukan dengan pendekatan breakthrough yang didasari oleh semangat “Not Business As Usual”, melalui perubahan pola pikir bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya tergantung pada pemerintah saja melainkan merupakan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD, dan Swasta. Pihak swasta akan diberikan peran utama dan penting dalam pembangunan ekonomi terutama dalam peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja, sedangkan pihak pemerintah akan berfungsi sebagai regulator, fasilitator dan katalisator. 

Dari sisi regulasi, pemerintah akan melakukan deregulasi (debottlenecking) terhadap regulasi yang menghambat pelaksanaan investasi. Fasilitasi dan katalisasi akan diberikan oleh pemerintah melalui penyediaan infrastruktur maupun pemberian insentif fiskal dan non fiskal. Pelaksanaan MP3EI dilakukan untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan 8 (delapan) program utama yang terdiri dari 22 (dua puluh dua) kegiatan ekonomi utama. 

Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu:

(1) mengembangkan potensi ekonomi wilayah di 6 (enam) Koridor Ekonomi Indonesia, yaitu: Koridor Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali–Nusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi Papua– Kepulauan Maluku; 

(2) memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasisecara lokal dan terhubung secara global (locally integrated, globally connected); 

(3) memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan program utama disetiap koridor ekonomi. Penyusunan MP3EI dimaksudkan bukan untuk mengganti dokumen perencanaan pembangunan yang telah ada seperti RPJPN dan RPJMN, namun akan menjadi dokumen yang terintegrasi dan komplementer,serta penting dan khusus untuk melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia. 

Implementasi MP3EI ini akan dikoordinasikan oleh Tim Pelaksana yang dipimpin langsung oleh Presiden RI. Tim tersebut merupakan kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah. Tim ini akan melakukan koordinasi, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan MP3EI.

Rabu, 18 April 2012

Nuklir Indonesia

Disusun Ulang Oleh:

Arip Nurahman & Deden Anugrah H.

Pendidikan Fisika, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia

&

Follower Open Course Ware at MIT-Harvard University, Cambridge. USA.

Nuclear Science

A Teachers Guide to the Nuclear Science Wall Chart

Credits

  1. Overview
  2. The Atomic Nucleus
  3. Radioactivity
  4. Fundamental Interactions
  5. Symmetries and Antimatter
  6. Nuclear Energy Levels
  7. Nuclear Reactions
  8. Heavy Elements
  9. Phases of Nuclear Matter
  10. Origin of the Elements
  11. Particle Accelerators
  12. Tools of Nuclear Science
  13. "... but What is it Good for?"
  14. Energy from Nuclear Science
  15. Radiation in the Environment

Appendix A Glossary of Nuclear Terms
Appendix B Classroom Topics
Appendix C Useful Quantities in Nuclear Science
Appendix D Average Annual Exposure
Appendix E Nobel Prizes in Nuclear Science
Appendix F Radiation Effects at Low Dosages

Please send comments on these chapters to Howard Matis


Kita dilahirkan untuk menjadi PEMENANG.

Keyakinan pertama yang harus Kita miliki sebagai anak manusia adalah keyakinan bahwa Kita dilahirkan untuk menjadi Pemenang. Kita harus percaya bahwa tidak mungkin Allah menciptakan Kita ke dunia ini, tanpa alasan apapun. Tidak mungkin! Pasti ada alasannya, bukan? (tarik nafas perlahan sebentar). Teriakan Semangat Pasti Bisaaaa!!



NEO (Nuclear Education Online)


Lesson Plan

Sekolah Menengah Kejuruan Nuklir Indonesia

(Indonesian Nuclear Cyber school)

by: Bambang Achdiyat (UPI & MIT)

Nuclear Education for K-12 Student

Subject : Physics

Class/Semester : XII/2 (two)

Meeting : 2 Times in a Week

Period : 2 lesson hour (2 x 45 minutes)

Competence Standard : Understanding Concept and principle Electromagnetic wave.

Basic Competence : Understanding and calculation defect mass and binding energy

Indicator :– Identify and explain the characteristic of atom’s compose.

– Explain and formulate defect mass concept.

- Calculate defect mass and binding Energy

- Application of atom energy in the world what for.

I. Objectives

Student can explain about the compose of atom, calculate defect mass and binding energy, make a summery in mind map by working group, and can more attractive in learning process with presentation mind map in front of others, and give question answer each other.

II. Subject Material

1. Atom’s Component

2. Defect Mass

3. Binding energy

III. Model: Cooperative learning (Jigsaw)

Methods:

1. Direct Instruction

2. Discussion

3. Mind Mapping

4. Presentation

5. Simulation

IV. Learning Steps

(Introduction)

1] First Meeting (10 minute)

Teacher begins learning process with greetings and prays. Then open the learning process and then start apperception and prior conception.

A. Apperception. (5 minute)

1. Teacher: as you know that first assumption about atom was expose by Democritus firstly. Finally we know that atom is not the most little matter in this world and atom it appears still consist of others little matter, what is it?

Student’s answer: electron, proton, and neutron

2. Teacher: what will be happening, if there are 2 same charges in a short distance?

Student’s answer: will be repulsive

3. Teacher: who can write in the board the formula of Coulomb force?

Students’ answer me,

4. So, how if there are 2 same charge, and the distance is decreased to be more close, what will be happened to the force?

Student’s answer: the force will increase

Teacher Show Animation

B. First Conception (5 minute)

1. Who is people, you remember when I say, “E=mc2”?

Student’s answer: Albert Einstein

2. What do you know about that formula?

Student’s answer: the equivalence between mass and energy.

3. Do you know that one reason why our country could be freedom is when Nagasaki and Hiroshima is fallen bomb atom by America?

Student’s answer: yes Mr.

4. Do you know how big that bomb, so that could make 2 city asundered?

Student’s answer: not too big, I think.

Teacher show picture or video about that bomb.

5. And do you know, why that bomb have energy as big as like that, could asundered 2 city?

Student’s answer: why…?

Show simulation about benefit of nuclear energy

6. And do you know that if there are same charges in short distance will be there big repulsive force, and closer the distance the repulsive force will be bigger. Why in nucleus, repulsive force between protons is not making it broken, whereas the distance is very short?

Student’s answer: …..

Teacher show Coulomb force simulation

2] Mind Activity (70 minute)

1. Teacher make group of 4, by counting 1 to 4, the same number is one group, which we called as a expert group.

2. Teacher give article about 4 different chapters, 1 chapter for one group. They (students) must to discuss the article in each group till all group members understand.

3. Then all members in group, counting again from 1 to 4 and make new group, all same number in one group new, which we called as Group A, B, C, and D.

* The Chapters to discuss are:

1) Identification and explain the characteristic of atom’s component

2) Explain and formulate defect mass concept.

3) Calculate defect mass and binding Energy

4) Application of atom energy in daily life

4. All members must to explain about they article to others till all member understand in his/her group.

5. Make a summary and relationship between all materials from each article, with mind map.

6. Teacher give work paper each group, like this :

a. What is atom?

b. Is atom truly the most particle in the world, why?

c. What is the composer of atom? How much the composer of atom do you know?

d. Please draw the picture for atom which you know!

e. Could you arrange to the most weight for the composer of atom?

f. Have mass 4,003 amu, mass 1 proton = 1,008 amu, and mass 1 neutron = 1,009 amu.

Search defect mass and binding energy of . (Mass of electron is not respected)

g. What is the sample for using atom energy ever or now is using, which you know?

h. Write here, all information you know about atom beside information from the question above! All you know.

7. Afterward, all answer and mind map is gathered to teacher.

8. Each group delivers 1 member to stand up in front of class to explain the mind map.

9. Each else group give minimal 2 question to every group who presentation, and who must answer is member group presentation beside presenter.

10. Teacher adds information and makes true some knowledge if still there are some misconceptions from the student.

3] Final Activity (10 minute)

Teacher repeat lesson rapidly and short about that lesson (by Power Point) and gives conclusion for each group about what they get today. With this answer teacher can really know how the progress of student cognitive and it’s concept is true or false finally teacher make a self conclusion to cover all answer, and calculate the score for each group in answer the question then give appreciation to all group with certificate.

Then Teacher say to students about material for next lesson

Final Conclusion:

1. Defect mass is difference mass between mass atom and calculating mass the atoms composer.

2. Defect mass is used for binding energy, to keep proton and neutron stay in nucleus.

3. Like when you eat, so will be some mass change to energy, for your grow, repair your body sell, moving, and else.

4. The value of Binding Energy can be show by E=mc2

5. Today the benefit from this energy can use for PLTN, and other source energy.

V. Equipments and substance

Equipments : -

Source : Fisika Dasar SMA 3B, internet.

Media : Power Point and Flash

VI. Assesment

- Student activities when they are discussed, questioning, and answer the question

– Final score from question-answer group in front of class.

- Task (Group and Individual)

- Examination

……………, …………….. 2010

Acknowledging,

Head Master Physics Teacher

____________ ______________

NIP. NIP.

-Articles-

1) Explain the characteristic of atom’s component

Dalam sejarahnya berdasar manuscript yang ditemukan bahwa orang pertama yang mencetuskan materi terkecil adalah demokritus pada abad 4 SM.

Demokritus menyatakan bahwa, atom adalah materi terkecil yang tidak bisa dipecah lagi. Setelah itu sekian abad kemudian konsep atom ini mulai tercetus oleh John Dalton yang menyatakan bahwa atom adalah seperti bola pejal yang tidak bisa di bagi lagi.

1. Atom merupakan bagian terkecil dari materi yang sudah tidak dapat dibagi lagi

2. Atom digambarkan sebagai bola pejal yang sangat kecil, suatu unsur memiliki atom-atom yang identik dan berbeda untuk unsur yang berbeda

3. Atom-atom bergabung membentuk senyawa dengan perbandingan bilangan bulat dan sederhana. Misalnya air terdiri atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen

4. Reaksi kimia merupakan pemisahan atau penggabungan atau penyusunan kembali dari atom-atom, sehingga atom tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.

Penelitian terus berlanjut, dan kemudian J.J Thompson dengan percobaan tabung sinar katodanya, menemukan fakta bahwa ternyata atom bukan materi penyusun terkecil, malahan tersusun oleh materi lain yang kemudian di sebut elektron dan karena atom netral, maka perlu ada anggapan bahwa ada muatan yang bersipat positif untuk mengimbangi sipat kenegatifannya. Oleh karena itu, muncul konsep proton yang pada model ajuan Thompson ini model atomnya adalah seperti “kue onde” dimana atom yang bermuatan positif dengan elektron tersebar merata saling menetralkan. Kelemahan model ini tidak bisa menjelasakn mengenai susunan proton dan elektron pada atom.

Thompson menggunakan tabung katoda penemuan William Crookers , yang menghasilkan pancaran partikel yang disebut elektron. Thompson membuktikan bahwa apapun logamnya sebagai katoda, jika diberi tegangan tinggi maka ia akan memancarkan partikel, ini dibuktikan dengan berputarnya kincir (karena tumbukan momentum partikel), yang dipasang antara katoda dan anoda saat sinar katoda dinyatalan. Dan pernyataan bahwa partikel itu negatif dengan mendekatkan medan magnet pada tabung sinar katoda itu, dan perilakunya yang membelok itu menunjukan bahwa ia memang bermuatan negatif.

"Atom merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan di dalamya tersebar muatan negatif elektron"

Penelitian selanjutnya, ilmuan Rutherford dengan percobaannya yang berusaha menembaki atom pada lempeng tipis emas dengan sinar α (bermuatan positif), menemukan bahwa partikel sinar α yang bermuatan positif itu sebagian besar ada yang diteruskan, sebagian dibelokan, dan sebagian lagi balik arah. Ia menyatakan bahwa ada ruang kosong dalam atom yang menyebabkan sebagian partikel alpha diteruskan, ini artinya atom tidak pejal, dan ada yang bermuatan positif massif yang membuat partikel α dibalikan, artinya ada muatan muatan positif di dalam atom. Ia kemudian menyimpulkan bahwa atom tidaklah pejal, melainkan terdiri dari kulit dan inti yang terpisah oleh suatu ruang kosong, di mana elektron menempati kulit dan proton menempati inti yang jumlah proton dan elektron saling menetralkan karena atom yang netral. Hanya saja kelemahan model Rutherford ini tidak bisa menjelaskan kenapa elektron tidak tertarik ke inti, berdasar fisika klasik seharusnya jika elektron itu bergerak mengelilingi inti seharusnya ia memancarkan energi, semakin lama energinya semakin berkurang, dan karena ada gaya elektrostatis dengan inti seharusnya elektron tertarik ke inti, tapi ternyata tidak.

Kemudian Neils Bohr memberikan perbaikan pada model atom Rutherford, dengan percobaannya pada atom hydrogen, dengan menyatakan bahwa elektron menempati daerah kesetimbangannya yang tidak akan memancarkan energi meskipun ia bergerak berputar selama ia tetap berada di tingkatan energi yang sama. Kelemahan model Niels Bohr ini tidak bisa menjelasakan untuk atom berkelektron banyak, berhubung pernyataan Bohr itu baru untuk kasus atom hydrogen dengan 1 elektron saja. Kelebihan model Bohr adalah mampu menerangkan adanya tingkatan energy dalam atom. Kelemahannya, tidak bisa menjelaskan untuk atom dengan elektron banyak, efek Zeeman, dan efek Strack.

Atom kemudian di ketahui bahwa ia tersusun oleh 3 partikel utama yang kita kenal dengan proton, electron, dan neutron. Hampir seluruh massa atom terkonsentrasi di inti. Walaupun sekarang diketahui bahwa, ada partikel lain yang menyusun ketiga partikel itu.

2) Explain and formulate defect mass concept.

Dalam inti atom terdapat 2 jenis partikel penyusun, yaitu proton dan neutron. Hampir seluruh massa atom diwakili oleh seluruh partikel ini yang terkumpul di inti yang ukurannya sangat kecil. Dalam bab listrik statis kita memperlajari bahwa jika ada 2 muatan sejenis maka ia akan saling tolak menolak. Semakin dekat jaraknya maka semakin besar gaya tolakan antara 2 muatan itu. Kemudian bagaimana kalau ternyata dalam inti atom yang sangat kecil itu terdapat sejumlah proton, tentunya gaya tolak menolaknya akan sangat besar, kenapa inti tidak pecah? Hal ini dikarenakan ada gaya lain yang lebih besar yang menahan proton tetap berada di inti, itu yang disebut dengan gaya ikat inti.

Gaya dasar di alam semesta ini ada 4, yaitu : gaya gravitasi, gaya listrik, gaya lemah, dan gaya kuat inti. Gaya kuat inilah penyebab inti tidak pecah. Ternyata, Ia hanya bekerja pada jarak yang sangat pendek, dan keadaan proton di inti telah memenuhi syarat tersebut, sehingga gaya tolak coloumb menjadi tidak terlalu berepengaruh karena gaya ikat inti yang sangat kuat. Berdasarkan eksperimen berikut adalah data menganai massa penyusun atom.: proton 1,6726 .10-27 kg, elektron 9,31.10-31 kg, dan neutron 1,6749 .10-27 kg

Ternyata nilai dari massa atom keseluruhan berbeda dengan jumlah massa total semua partikel penyusunnya, kenapa dan kemana massa yang hilang itu? Ternyata selisih massa (∆m) total penyusun dengan massa atomnya sendiri digunakan sebagai energi ikat dengan perumusan Einstein yang menyatakan E=∆m.c2. seperti massa istotop C-12 yaitu 12 amu (atom mass unit), dan jumlah seluruh penyusunnya (proton, elektron, dan neutron) dalam amu ternyata adalah 12,101627 amu. ada selisih 0,101627 amu. Begitupun untuk atom-atom yang lainnya, selalu ada selisih massa penyusun atom dengan atomnya sendiri berdasar spekrtometer yang disebut dengan defect massa.

3) Calculate defect mass and binding Energy

Berdasar penelitian didapat nilai massa untuk proton 1,6726 .10-27 kg, elektron 9,31.10-31 kg, dan neutron 1,6749 .10-27 kg. Ternyata ada selisih massa (∆m) antara massa total penyusun atom dengan massa atom itu sendiri, ini yang disebut dengan defect massa. Misal isotop atom C-12 memiliki massa 12. 10-3 kg, artinya untuk 1 mol atom C-12, memiliki massa 12 gram, artinya juga massa untuk satu partikel di dapat, = 1,99.10-26 kg. Diketahui nilai dari massa atom isotop C-12 adalah 12 u. Berdasar perhitungan massa untuk 1 amu isotop C-12 di peroleh = 1,66 . 10-27 kg/u. jika dirunut mengenai nilai massa dari penyusun atom C-12 didapat,

6 elektron = 6 . 9,31.10-31 kg

6 Proton = 6 .1,6726 .10-27 kg

6 Neutron = 6.1,6749 .10-27 kg +

20, 0887 . 10 – 27 kg

Massa dalam (u)

= 20, 0887 . 10 – 27 kg = 12,101627 u

1, 66 . 10-27 kg

Sedangkan massa atom C-12-nya sendiri diketahui adalah 12 u, maka ada selisih massa (∆m) sebesar = 12,101627 u – 12 u = 0,101627 u

Nilai massa inilah yang digunakan sebagai energi ikat inti dengan perumusan Einstein (E=mc2)

Maka E = 0,101627 u . c2

= 0,101627 u . 931 MeV/u

= 94,61 MeV

Energi tersebut adalah energi yang digunakan untuk mengikat seluruh komponen inti, sehingga meskipun ada gaya tolak coulomb tidak menyebabkan inti pecah.

4) know the application of atom energy in the world what for.

Sejarah menunjukan salah satu bukti penggunaan energi ikat inti ini (energi yang digunakan untuk mengikat inti) yaitu berhubungan dengan salah satu sebab mengapa negara kita bisa merdeka. Saat Amerika menjatuhkan bom atom di negara jepang tepatnya di kota Nagasaki dan Hirosima, menyebabkan Jepang yang saat itu mendominasi pemerintahan Indonesia memutuskan untuk pulang, dan saat kekosongan dimana pihak jepang pulang maka pihak Indonesia memutuskan untuk memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Padahal atom yang dijatuhkan berukuran kecil, tapi menghasilkan energi yang bisa menghancurkan 2 kota.

Selain itu di zaman modern ini penggunaan energi nuklir (energy inti) semakin meluas, salah satunya bermanfaat untuk menjawab krisis energi yang selama ini didominasi oleh miyak bumi dan batu bara yang merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan pengolahannya menimbulkan polusi yang berdampak pada pemanasan global. Berbeda dengan penggunaan energi nuklir, dengan pasokan yang sedikit bisa menghasilkan energi yang begitu besar dan tergolong emisinya bersih, hanya saja biayanya masih mahal dan perlu dukungan sumber daya manusia sehingga bisa mengantisipasi kecelakaan yang mungkin terjadi seperti adanya kebocoran dan lainnya.

Untuk mendapatkan gambaran tentang besarnya energi yang dapat dilepaskan oleh reaksi nuklir mari kita contohkan lebih sederhana. Dengan 1 gr bahan bakar nuklir 235U. Jumlah atom di dalam bahan bakar ini adalah : N = (1/235) x 6,02 x 1023 = 25,6 x 1020 atom 235U.. Karena setiap proses fisi bahan bakar nuklir 235U. disertai dengan pelepasan energi sebesar 200 MeV, maka 1 gr 235U. yang melakukan reaksi fisi sempurna dapat melepaskan energi sebesar : E = 25,6 x 1020 (atom) x 200 (MeV/atom) = 51,2 x 1022 MeV Jika energi tersebut dinyatakan dengan satuan Joule (J), di mana 1 MeV = 1.6 x 10-13 J, maka energi yang dilepaskan menjadi : E = 51,2 x 1022 (MeV) x 1,6 x 10-13 (J/MeV) = 81,92 x 109 J Dengan menganggap hanya 30 % dari energi itu dapat diubah menjadi energi listrik, maka energi listrik yang dapat diperoleh dari 1 gr 235U. adalah : Elistrik = (30/100) x 81,92 x 109 J = 24,58 x 109 J. Karena 1 J = 1 W.s ( E = P.t),


maka peralatan elektronik seperti pesawat TV dengan daya (P) 100 W dapat dipenuhi kebutuhan listriknya oleh 1 gr 235U. selama : t = Elistrik / P = 24,58 x 109 (J) / 100 (W) = 24,58 x 107 s. Angka 24,58 x 107 sekon (detik) sama lamanya dengan 7,78 tahun terus-menerus tanpa dimatikan. Jika diasumsikan pesawat TV tersebut hanya dinyalakan selama 12 jam/hari, maka energi listrik dari 1 gr 235U bisa dipakai untuk mensuplai kebutuhan listrik pesawat TV selama lebih dari 15 tahun.

Selamat dan Terus Maju

Untuk Kelompok A

Dengan Anggota :

1. 6.

2. 7.

3. 8.

4. 9.

5 10.

Atas keberhasilanya mendapatkan predikat terbaik, Untuk Bab ………………….

Maju Terus, tingkatkan selalu prestasi

Contoh Sertifikat,

Group Assessment

Student Worksheet

Member of Group :

1. .

2. .

3. .

4. .

5. .

6. .

7. .

8. .

Questions

1) What is atom?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

2) Is atom truly the least particle in the world, why?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

3) What is the composer of atom? How much the composer of atom do you know?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

4) Please draw the picture for atom which you know!

5) Could you arrange to the most weight for the composer of atom?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

6) have mass 4,003 amu, mass 1 proton = 1,008 amu, and mass 1 neutron = 1,009 amu.

Search defect mass and binding energy of . (Mass of electron is not respected)

7) What is the sample for using atom energy ever or now is using, which you know?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

8) Write here, all information you know about atom beside information from the question above! All you know.

Nuclear Education, Research, and Careers

This site provides students from middle school through college with the opportunity to explore the challenges and opportunities presented in selecting nuclear science and engineering as a field of study and career. It is expected that for most individuals the words "nuclear engineering" will immediately imply nuclear power electrical production, but that is only part of the story.

Nuclear Engineering An academic degree program offered by approximately forty universities in the United States at the Bachelor's, Master's and Doctoral levels. The nuclear engineering curriculum includes reactor systems studies, fuel cycle, materials science, radiation interaction, space reactors, and advanced concepts.

Health Physics An academic degree program offered by approximately twenty universities in the United States at the Bachelor's, Master's and Doctoral levels. The health physics curriculum includes radiation interaction and detection, dosimetry, radiation protection and standards, risk assessment, radiation emergency management, environmental monitoring and assessment, and nuclear waste management.

Nuclear Energy Fission is produced through the splitting of a heavy atom. Fusion occurs when light atoms collide.

Medical Applications Over the past few years great strides have been made by nuclear engineers and health physicists in the production of radioisotopes that are used for medical diagnostics and treatments.

National Security Nuclear engineers have been involved in the policies associated with nuclear non-proliferation.

Naval Propulsion Nuclear power is used to propel aircraft carriers and submarines.

Space Propulsion Nuclear reactors may be used to propel the next mission to Mars and beyond. Read a detailed interview with a nuclear engineer involved in the research related to this project.

Helpful Nuclear Education Links

U.S. Nuclear Regulatory Commission

(NRC) http://www.nrc.gov/

Nuclear Energy Institute

http://www.nei.org/

The American Nuclear Society Teacher Workshop Schedule

http://www.ans.org/pi/teachers/workshops/

The American Nuclear Society

http://www.ans.org/

U.S. Department of Energy

http://www.energy.gov/

Nuclear Energy Agency

http://www.nea.fr/

U.S. Energy Information Administration

http://www.eia.doe.gov/

World Nuclear Association

http://www.world-nuclear.org/



Jumat, 16 Maret 2012

Nuklir Indonesia

Kekuatan keberanian


"Keberanian" merupakan aset yang sangat berharga bagi pribadi kita. Keberanian bisa menjadikan sesuatu yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. Keberanian bisa mejadikan sikap negatif menjadi positif, loyo menjadi semangat, takut jadi berani, pesimis menjadi optimis, miskin menjadi kaya, gagal menjadi sukses.

Dengan menyadari akan besarnya kontribusi KEKUATAN KEBERANIAN bagi kita, mari pastikan untuk memanfaatkan KEBERANIAN semaksimalnya dengan:


  • Berani menentukan cita-cita yang tinggi
  • Berani bangkit lagi dari kegagalan
  • Berani belajar dari kelemahan dan kesalahan
  • Berani membayar harga untuk keberhasilan
  • Berani memastikan untuk berjuang sampai sukses!!!

Salam sukses luar biasa!!


Katakan Pasti Bisaaa!

PLTN Akan Dikontrol oleh IAEA, Semenanjung Muria Dinilai Aman


Jangka Menengah/Panjang,
Tahun Pencapaian


2.

Science and Technology Base (STB) bidang energi nuklir, 2010

3.

Reaktor daya nuklir pertama dioperasikan di Indonesia (Sistem Jaringan Jawa-Bali), 2016

4.

Fasilitas Nasional Pelayanan Pengelolaan Limbah Radioaktif (non PLTN), 2007;
Persiapan Design Fasilitas Pengelolaan Limbah Terpadu PLTN, 2008;
Pengoperasian Fasilitas, 2016

5.

Tersedianya data cadangan Uranium kategori terukur yang signifikan, 2015



Keselamatan operasional pembangkit listrik tenaga nuklir di tiap negara—dimulai sejak perencanaan hingga pembangunannya—kini dikontrol oleh Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA. Pengontrolan tersebut dimaksudkan untuk menjamin perlindungan atas risiko operasionalnya.


"Kesepakatan internasional memungkinkan IAEA mengontrol dari berbagai kemungkinan, termasuk dari segi teknologi maupun lokasi yang akan digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di setiap negara. IAEA juga memberikan rekomendasi untuk mendukung keselamatan operasional PLTN," kata Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat pada Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Ferhat Azis di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Ferhat, kini teknologi PLTN sudah jauh berkembang sejak terjadi beberapa kecelakaan reaktor nuklir, termasuk di Chernobyl, Uni Soviet, tahun 1986. Perkembangan teknologi reaktor nuklir sekarang yang membedakan dengan reaktor nuklir Chernobyl adalah pada kapasitas teknologi pengukung radiasi bahan radio-aktifnya.


Teknologi pengukung memungkinkan untuk mengadang radiasi radioaktif manakala terjadi kecelakaan reaktor nuklir. Teknologi ini tidak diterapkan pada reaktor nuklir Chernobyl.


Ferhat mengakui, jaminan keselamatan teknologi PLTN memang berbeda dengan jaminan kemampuan pemerintah untuk memberikan perlindungan risiko mengingat kedua hal tersebut memang berbeda. Kemampuan untuk menjamin perlindungan risiko melibatkan lebih banyak pihak lagi.


Secara terpisah, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan, risiko bukan hanya pada pembangunan dan pengoperasian PLTN. Setiap proyek yang melibatkan orang, barang, dan uang pasti mengandung risiko. Karena itu, tambahnya, pemerintah tetap akan mewujudkan PLTN sesuai dengan rencana, yakni bisa beroperasi pada 2016-2017.

Lokasi aman

Ferhat menambahkan, calon lokasi di Semenanjung Muria, Jawa Tengah, sudah disetujui IAEA sebagai lokasi yang aman untuk pembangunan PLTN. Saat ini memang masih ada prasyarat yang harus dilengkapi berupa penelusuran pengaruh vulkanologi terhadap sesar/patahan gempa.

"Pengeboran sedalam 300 meter akan ditempuh untuk memastikan sesar yang timbul akibat aktivitas vulkanologi Gunung Muria," kata Ferhat.

Menurut Ferhat, Gunung Muria sendiri diperkirakan sudah tidak aktif lagi sejak sekitar 300.000 tahun yang lalu. Keberadaan magma yang ada di perut Bumi di bawah Gunung Muria sudah ditelusuri hingga kedalaman 13 kilometer.

"Pada kedalaman 13 kilometer, magma di Gunung Muria tidak ditemukan. Lain halnya di Gunung Merapi, di mana magma ditemukan pada kedalaman tujuh kilometer," kata Ferhat.

Mengenai kedekatan calon lokasi PLTN dengan jalur sesar yang timbul akibat aktivitas vulkanologi Gunung Muria, menurut Ferhat, diperkirakan berjarak sekitar 11 kilometer. Namun, tambahnya, ini pun tidak menyalahi rekomendasi dari IAEA yang menetapkan jarak lokasi PLTN dengan sesar gempa vulkanologi berjarak minimal 5 kilometer. (NAW)


Sumber: Kompas, Senin, 6 Agustus 2007


Masyarakat Nuklir Indonesia


Indonesian Nuclear Society


The Indonesian Nuclear Society was launched in the mid-1960s,

(when first reactor in Indonesia launched [Triga Mark II at Bandung] a time of growing interest in employing peaceful applications of nuclear science and technology for bettering the lives of people in the Indonesian and around the world.

Diaktifkan kembali karena kebutuhannya untuk memenuhi tantangan sekarang dan di masa depan khususnya penyediaan energi dan pemanfaatan ilmu seta teknologi Nuklir untuk Perdamaian



Visi


Pendukung dan Pengembang Program IPTEK Nuklir untuk Perdamaian di Indonesia

18 Reaktor Nuklir Indonesia tahun 2040

Tersedianya sarana pendamping disetiap reaktor

1. Pusat Pendidikan dan Latihan

2. Pusat Inovasi, Penelitian dan Pengembangan


Misi


1. Wahana Edukasi masyarakat mengenai IPTEK Nuklir

2. Sarana penampung aspirasi masyarakat mengenai IPTEK Nuklir


Program

1. Pertemuan Rutin Pertahun

2. Publikasi dan Edukasi Masyarakat


Fokus


5 Tahun Pertama

(2010-2015)



5 Tahun Kedua

(2015-2020)


5 Tahun Ketiga

(2020-2025)


5 Tahun Keempat

(2025-2030)


5 Tahun Kelima

(2030-2035)


5 Tahun Keenam

(2035-2040)


MODAL DASAR

Modal dasar yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian, pengembangan dan rekayasa yang berlandaskan pada sistem inovasi nasional, antara lain adalah

• Potensi sumber daya manusia dan sumber daya IPTEK lainnya;
• Variasi pilihan pemanfaatan, pengembangan, penguasaan IPTEK;
• Keanekaragaman sumber daya alam;
• Dunia usaha skala besar, menengah dan kecil;
• Potensi pasar dalam negeri;
• Keanekaragaman budaya dan pengetahuan tradisional (traditional knowledge);
• Proses demokrasi politik.

Semua modal dasar dapat didayagunakan apabila pembangunan IPTEK ditunjang oleh perangkat kelembagaan dan iklim yang kondusif bagi pengembangan sistem inovasi nasional. Sistem inovasi nasional ini merupakan landasan pemikiran yang menyeluruh untuk pembangunan IPTEK yang mencakup pilar-pilar utama seperti sumber daya manusia, teknologi dan modal yang berinteraksi secara harmonis, yang dikemas dalam sektor-sektor produksi, lembaga-lembaga litbang; perguruan tinggi; dunia usaha; lembaga keuangan dan lain-lain yang mempunyai kesamaan pemahaman, keserempakan tindak dan keterpaduan yang menyeluruh.