Tampilkan postingan dengan label Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Nanoteknologi untuk Bangsa

Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano




1.1 Sub Pendahuluan

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025, pemerintahan Indonesia telah mendefinisikan rancangan pembangunan jangka panjang (RPJP) nasional, visi, misi dan arah pembangunan nasional dari tahun 2005 hingga 2025. Visi pembangunan nasional tahun 2005-2025 adalah INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR. Sebagian visi tersebut dapat ditempuh melalui 2 (dua) dari 8 (delapan) misi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan bangsa yang berdaya-saing dan mewujudkan Indonesia asri dan lestari. Untuk mewujudkan bangsa yang berdaya-saing, arah pembangunan adalah membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas; memperkuat perekonomian domestik dengan orientasi dan berdaya saing global; penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi; sarana dan prasarana yang memadai; serta reformasi hukum dan birokrasi. Sedangkan arah pembangunan untuk mewujudkan Indonesia asri dan lestari, yaitu: mendayagunakan sumber daya alam yang terbarukan, mengelola sumber daya alam yang tidak terbarukan, menjaga keamanan ketersediaan energi, menjaga dan melestarikan sumber daya air, mengembangkan potensi sumber daya kelautan, meningkatkan nilai tambah atas pemanfaatan sumber daya alam tropis yang unik dan khas, memerhatikan dan mengelola keragaman jenis sumber daya alam yang ada di setiap wilayah, mitigasi bencana alam sesuai dengan kondisi geologi Indonesia, mengendalikan kerusakan dan pencemaran lingkungan, meningkatkan kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan hidup.

Rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) tahun 2005-2009 mengarahkan peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada 6 (enam) bidang prioritas,yaitu:

pembangunan ketahanan pangan,

penciptaan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan,

pengembangan manajemen dan teknologi transportasi,

pengembangan teknologi informasi dan komunikasi,

pengembangan teknologi pertahanan, dan

pengembangan teknologi kesehatan dan obat-obatan


11. Bidang lain yang bukan prioritas adalah teknologi air bersih, teknologi kelautan, sistem informasi spasial, mitigasi bencana, teknologi dirgantara dan antariksa, bidang politik, sosial,budaya, dan hukum dan bidang tematis lain. Ke enam bidang prioritas membutuhkan Sains Dasar dan Ilmu Sosial dan Kemanusiaan yang dikembangkan untuk:

(i) memperkuat basis keilmuan dari ke enam bidang fokus;

(ii) memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dari ke enam bidang fokus dan

(iii) mempererat keterkaitan lintas-disiplin dan lintas-bidang diantara ke enam bidang fokus tersebut 12. Salah satu kategori sasaran pengembangan Sains Dasar adalah kelompok formulasi kompleksitas yang didalamnya tercakup ilmu dan teknologi nano. Riset dan perkembangan di bidang sosial dan kemanusiaan diarahkan untuk memperkaya dan memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dalam pengembangan di ke enam bidang prioritas. Ilmu dan teknologi nano di Indonesia baru ditempatkan dalam kelompok Sains Dasar yang menitikberatkan pada ilmu Pemodelan Matematika, Kimia, Fisika, dan Biologi. Peranan Ilmu Sosial dan Kemanusiaan terhadap perkembangan ilmu dan teknologi nano di Indonesia belum menjadi prioritas paling tidak hingga tahun 2009.

2 Permasalahan

Beberapa permasalahan yang akan di bahas dalam tulisan ini, antara lain :
1. Bagimana strategi pengembangan ilmu dan teknologi nano di Indonesia ?.
2. Apa manfaat ilmu dan teknologi nano bagi Indonesia?.

3 Metode Penyelesaian

Metode deskriptif kualitatif melalui survei dokumen-dokumen sekunder (tulisan ilmiah, buku, laporan resmi, dan halaman website) dijadikan metode untuk mendeskripsikan secara umum ilmu dan teknologi nano dilihat dari aspek definisi, ruang lingkup dan produk komersial. Tujuannya adalah memberikan pengenalan kepada pembaca perihal ilmu dan teknologi nano. Selanjutnya, studi kasus perkembangan ilmu dan teknologi nano di Indonesia dan di Uni Eropa dideskripsikan dengan studi survei dan perbandingan dalam hal strategi berbagai institusi (pemerintah, lembaga penelitian, lembaga pendidikan, dan advokasi), dana dan topik penelitian, publikasi tulisan ilmiah, pengajuan hak paten, pendirian perusahaan “start-up”, dan sumber daya. Manfaat ilmu dan teknologi nano bagi pembangunan Indonesia akan terlihat dengan mengetahui potensi ilmu dan teknologi nano dan posisi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara maju.

Di Indonesia

• Pemerintah
Pemerintah indonesia belum menempatkan ilmu dan teknologi nano sebagai prioritas arah pembangunan 11. Ilmu dan teknologi nano dikelompokkan sebagai ilmu dasar yang memperkuat bidang-bidang prioritas 12. Hal ini tercermin dengan mengamati kebijakan-kebijakan di Kementerian Riset dan Teknologi 28, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 29 dan Dirjen Pendidikan Tinggi 30. Tidak diprioritaskannya ilmu dan teknologi nano di Indonesia merupakan cermin kekurangsiapan pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi masa kini dan mendatang.

Kebijakan pemerintah dalam bidang ilmu dan teknologi nano masih menempatkan bidang tersebut ke dalam kerangka kebijakan yang sudah ada. Belum ada keberanian pemerintah Indonesia untuk secara khusus membuat kebijakan mendirikan pranata institusi dan program penelitian teknologi nano. Kementerian Riset dan Teknologi mendorong riset teknologi nano dengan memasukkan ilmu dan teknologi nano pada program insentif. Di tahun 2009, program insentif menitikberatkan pada penelitian terapan. Cukup jelas bahwa di tahun 2009, penelitian ilmu dasar nano belum dijadikan prioritas. Penerapan teknologi nano di Indonesia diperkirakan masih sangat rendah karena ilmu dasarnya belum kuat dan mungkin hanya segelintir ilmuwan dan lembaga yang bisa melakukan langkah aplikasi teknologi nano. Profil BPPT belum jelas menampilkan keberpihakan mereka pada teknologi nano. Melihat struktur organisasinya, tidak ada deputi, balai pengkajian dan unit pelaksana teknis khusus teknologi nano. Kebijakan Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) untuk mendukung pendidikan ilmu dan teknologi nano juga belum jelas. Dari penelusuran website DIKTI, beberapa penelitian ilmu dan teknologi nano telah didanai oleh DIKTI. Namun, program yang dikhususkan untuk pengembangan teknologi nano belum dilakukan. Integrasi ilmu dan teknologi nano ke dalam struktur pendidikan tinggi mungkin sudah dilakukan melalui berbagai program studi yang sudah ada.

• Lembaga penelitian, pendidikan tinggi dan advokasi
Organisasi dan struktural LIPI memperlihatkan bahwa penelitian ilmu dan teknologi nano masih dinaungi berbagai bidang ilmu yang sudah mapan 31. Kegiatan penelitian ilmu dan teknologi nano masih di bawah pusat penelitian fisika, kimia, metalurgi, dan biologi. Di Indonesia belum banyak lembaga publik atau privat yang fokus pada penelitian atau advokasi teknologi nano. Lembaga privat yang melakukan riset dan advokasi teknologi nano adalah Mochtar Riady Institute for Nanotechnology 32. Mereka fokus pada penelitian tentang molecular epidemilogy, proteomic, single nucleotide polymorphism, immunology, dan genomyc. Mereka bekerjasama dengan Universitas Pelita Harapan, berbagai lembaga penelitian kesehatan di Indonesia, Cina, Hongkong dan Singapur. Pada April 2005, Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) dideklarasikan di LIPI Serpong 33. Visi MNI adalah menjadikan Indonesia berkemampuan iptek berdaya saing secara global melalui jejaring teknologi nano. Lembaga ini diharapkan menjadi forum komunikasi berbagai pihak yang tertarik atau bergerak dalam bidang sains dan teknologi nano. Melalui penelusuran website lembaga di atas, tidak mudah mencari kebijakan dan arah penelitian secara mendetail di Indonesia. LIPI dan MNI belum secara transparan menentukan arah perkembangan ilmu dan teknologi nano di Indonesia.

Pendidikan tinggi favorit di Indonesia belum membentuk program studi khusus di bidang ilmu dan teknologi nano. Mungkin mata kuliah ilmu dan teknologi nano telah diberikan pada program studi di departemen teknologi dan sains. Mengingat keterbatasan sumber daya di perguruan tinggi di Indonesia, sulit dibayangkan kemajuan transfer ilmu dan teknologi nano kepada para mahasiswa. Lembaga advokasi yang terlibat dalam ilmu dan teknologi nano belum nampak di Indonesia. Kegiatan advokasi lebih banyak dilakukan pemerintah,lembaga riset dan lembaga pendidikan melalui kegiatan seminar-seminar. Kegiatan-kegiatan penelitian dan advokasi terlihat belum tertata rapi dan jelas sehingga terkesan belum ada kepedulian yang signifikan akan resiko ilmu dan teknologi nano bagi masyarakat dan lingkungan. Penulis berpendapat, berbagai pihak di Indonesia masih mengandalkan informasi dari luar negeri menyangkut dampak dan resiko ilmu dan teknologi nano.

4.3. Manfaat ilmu dan teknologi nano bagi Indonesia
Beberapa kemajuan penting ilmu dan teknologi nano di Indonesia telah dicapai oleh beberapa ilmuwan di Indonesia. Peneliti LIPI telah membuat nano silika menggunakan teknik ball milling 34. Dengan teknik mechanical alloying, Bi2O3 nanotube dapat di sintesis untuk aplikasi penyimpanan data 34. Peneliti LIPI lainnya mampu membuat atomic force microscopy (AFM) dengan biaya yang lebih murah walaupun perlu penelitian lebih lanjut untuk optimalisasi 31. Di tahun 2005, Kementerian Negara Riset dan Teknologi melakukan suatu program yang memfokuskan pada studi trend teknologi nano dan pemetaan 3 bidang sintesis yaitu peralatan partikel nano, prototype devais-mikro (sensor MEMS untuk CO2, glukosa dalam darah,dll) dan prototype bahan pelapis 35.

Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam mineral dan hayati. Beberapa sumber daya mineral yang ada di Indonesia adalah nikel, emas, perak, mangan, besi dan tembaga 36. Minyak dan gas alam juga sumber daya alam yang memberikan devisa bagi Indonesia. Kekayaan yang sangat penting adalah keanekaragaman hayati di Indonesia. Kekayaan laut Indonesia perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah Indonesia mengingat sebagian besar wilayah Indonesia adalah perairan laut.

Sumber daya mineral, minyak dan gas alam dapat disintesis menjadi bahan nano 18. Partikel nano besi dapat digunakan untuk bahan magnetik, katalis kimia dan elektroda. Nano tembaga digunakan sebagai filter, elektroda dan pelapis. Nano nikel juga diaplikasikan untuk filter, elektroda, katalis dan pelapis. Sedangkan nano mangan digunakan sebagai elektroda, kapasitor, katalis dan pemisah. Nano perak digunakan untuk filter, elektroda, pelapis dan bahan bio medis. Minyak dan gas alam merupakan bahan baku membuat nano polimer dan kompositnya.

Sumber:

Masyarakat Nano Indonesia

Jumat, 18 Mei 2012

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

Nanoteknologi dan Penjelajahan Antariksa dimasa yang Akan Datang



nanoFET propulsion system

nanoFET characteristic size scales
(Image: University of Michigan Department of Aerospace Engineering)


Nanotechnology & Space



Applications of Nanotechnology in Space Developments and Systems April 2003

NSS Position Paper on Space and Molecular Nanotechnology

Space Colony Art from the 1970s

Orbital Space Settlements

A Futurist Perspective For Space (pdf file) Dr. Kenneth J. Cox, June 2001.

Space Settlement Video Library

Space Settlement Contest Highlights

Living in a Ring World JAVA Applet

Lewis One Space Colony

Space Shuttle External Tank Applications - Sept 2000

International Space University

Wisconsin Center for Space Automation and Robotics (WCSAR) a NASA sponsored Commercial Space Center (CSC) located in the College of Engineering at the University of Wisconsin - Madison. WCSAR is under the management of the Space Product Development (SPD) Office at Marshall Space Flight Center (MSFC). The mission of the CSC program is to make the unique attributes of space available to American industry in order to support economic growth, increase employment opportunities and enhance the quality of life on Earth.

National Space Society

American Institute of Aeronautics and Astronautics (AIAA) For more than 65 years, the American Institute of Aeronautics and Astronautics (AIAA) and its predecessors, has been the principal society of the aerospace engineer and scientist. Officially formed in 1963 through a merger of the American Rocket Society (ARS) and the Institute of Aerospace Sciences (IAS), the purpose was, and still is, "to advance the arts, sciences, and technology of aeronautics and astronautics, and to promote the professionalism of those engaged in these pursuits."


Space Studies Institute (SSI) The Space Studies Institute's primary activity is the development of tools and techniques to harvest space resources. SSI's plan calls for the use of resources already in space.

Don Davis "High Frontier" Artshow at SSI

A business plan for the development of the Lagrange points: the gateway to the high frontier Jay Thomas & Steven J. Neurauter October 2000

Foundation for the International Non-governmental Development of Space (FINDS) supports space science research, events, and development with financial grants.

Our Future in the Cosmos--Space A speech given by Isaac Asimov at Rutgers University
Space Art Part 2 Seeing above & beyond ...

Space Future "Space Future is for everyone who wants to go to space."

General Public Space Travel and Tourism Summary of a Space Act Agreement Study, including a workshop held at Georgetown University, Washington, D.C. February 19-21, 1997


Minggu, 18 Desember 2011

Pendidikan Nanoteknologi

Pendidikan Nanoteknologi

"Menyediakan tenaga dan waktu ekstra melebihi apa yang dilakukan rata-rata orang. Kadang menggunakan waktu libur dan waktu di luar jam kerja resmi untuk terus berkarya. Hasil yang lebih besar hanya dapat dicapai dengan meluangkan tenaga dan waktu lebih banyak."
~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)

Nanotechnology Educational Resources and Activities for K-12 Teachers

Nanotechnology in the Curriculum


So where does Nanotechnology fit in the curriculum? On one hand, it is not Physics, Biology, or Chemistry. On the other hand, it is all of them ! It is where engineering and science meet. Is nanotechnology a subject of its own, or is it just a way of thinking about other subjects?



More Info >


Guide to Nanotechnology Demonstrations


The NNIN has developed this guide to assist others in how to use some nanotechnology education materials from NNIN and other nano education programs as short demonstrations. These are not full scale lessons but short 5-10 minute demos suitable for use with groups of all ages.


Link to pdf document >

Research Experience for Teachers


NNIN does not have its own network-wide RET program. Five NNIN Sites do, however, have an RET program funded by the National Science Foudnation. Participants conduct cutting edge research and develop classroom materials related to nanotechnology.


More info>

Teacher Workshops in Nanotechnology


The NNIN offers and is further developing teacher workshops for middle and high school teachers. The duration varies by site but typically run from one to three days. Workshop content explores how to incorporate standards-based instructional units related to nanotechnology into the science classroom. Some sites offer nanofabrication workshops where teaches explore the fundamentals of nanofabrication processes. This section will provide information on how you can learn about workshops at the various sites

More Info >


Jumat, 18 November 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

Memproduksi Energi Secara Efisien dengan Nanoteknologi


Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

Motto:
Nano Teknologi Indonesia untuk Dunia
"Berpikir secara parallel, yaitu kemampuan memecahkan sejumlah masalah pada saat yang bersamaan. Walaupun awalnya sulit, dengan berlatih terus-menerus kita akan memiliki kemampuan berpikir parallel dan dapat mencapai hasil yang beragam secara maksimal pada saat yang hampir bersamaan."
~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)
Visi


Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano



Teknologi nano dapat digunakan untuk mengembangkan sistem energi yang berkelanjutan sambil mengurangi efek berbahaya dari bahan bakar fosil sebagai mereka bertahap berakhir sampai abad berikut. Skenario optimis akan datang mendekati kenyataan sebagai teknologi baru seperti biomimetika dan peka Sel surya Dye (DSCs) muncul dengan janji besar untuk menangkap atau menyimpan energi matahari, dan nanocatalysis mengembangkan katalis yang efisien untuk menyimpan proses-industri energi. Eropa siap untuk mempercepat pengembangan teknologi ini, sebagai delegasi mendengar di sebuah konferensi baru-baru ini, Nanoteknologi untuk Energi Berkelanjutan, diselenggarakan olehEuropean Science Foundation (ESF) dalam kemitraan dengan Fonds zur Förderung wissenschaftlichen der Forschung di Österreich (FWF) dan Leopold- Franzens-Universität Innsbruck (LFUI).

Konferensi ini berfokus pada surya kita daripada sumber energi berkelanjutan seperti angin, karena di situlah nanoteknologi paling berlaku dan juga karena konversi energi matahari memegang janji terbesar sebagai pengganti jangka panjang bahan bakar fosil. Energi surya dapat dipanen secara langsung untuk menghasilkan listrik atau untuk menghasilkan bahan bakar seperti hidrogen untuk digunakan pada mesin. bahan bakar tersebut pada gilirannya juga dapat digunakan langsung untuk membangkitkan listrik di pembangkit listrik konvensional.

"Potensi tenaga surya jauh, jauh lebih besar dalam jumlah mutlak daripada angin," kata Profesor Bengt Kasemo dari Chalmers University of Technology dan kursi dari konferensi ESF. Namun, seperti angin, potensi pembangkit listrik tenaga surya sangat bervariasi di seluruh waktu dan geografi, yang terbatas pada siang hari dan kurang cocok untuk daerah di lintang yang lebih tinggi, seperti Skandinavia dan Siberia. Untuk alasan ini ada tumbuh bunga dalam gagasan tentang jaringan listrik global sesuai Kasemo.

"Jika energi surya adalah dipanen mana yang paling melimpah, dan didistribusikan pada jaring global (mudah untuk mengatakan - dan, tapi bukan tidak mungkin tugas yang sulit untuk dilakukan) akan cukup untuk mengganti sebagian besar pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil hari ini, "kata Kasemo. "Hal ini juga akan menyelesaikan hari / masalah malam dan karena itu mengurangi kebutuhan penyimpanan karena matahari selalu bersinar di suatu tempat."

Dalam waktu dekat, teknologi solid state berdasarkan silikon cenderung mendominasi produksi (manufaktur) sel surya, namun DSC dan lainnya "pelari up" kemungkinan untuk menurunkan biaya dalam jangka panjang, menggunakan bahan semikonduktor lebih murah untuk menghasilkan kuat fleksibel contoh lembar cukup kuat untuk menahan hentakan dari hujan es untuk. Walaupun kurang efisien dari yang terbaik silikon sangat atau sel lapisan tipis menggunakan teknologi saat ini, harga mereka lebih baik / kinerja telah memimpin Uni Eropa untuk memprediksi bahwa DSCs akan menjadi kontributor yang signifikan untuk produksi energi terbarukan di Eropa pada tahun 2020.

DSC diciptakan oleh Michael Grätzel, salah satu pembicara dan kursi wakil pada konferensi ESF. Titik kunci untuk muncul dari konferensi ESF, meskipun, adalah bahwa akan ada pilihan yang tumbuh dan kompetisi antar muncul nanoteknologi berbasis teknologi konversi solar. "Saya kira fakta penting adalah bahwa ada persaingan kuat dan yang terpasang tenaga surya berkembang sangat pesat, meskipun dari basis yang kecil," kata Kasemo "." Ini akan mendorong harga turun dan matahari menghasilkan listrik lebih banyak dan lebih kompetitif.

Beberapa yang paling menarik dari alternatif ini terletak pada bidang biomimetika, yang melibatkan proses meniru yang telah disempurnakan dalam organisme biologis melalui ribuan tahun evolusi. Tumbuhan dan kelas bakteri, cyanobacteria, telah berevolusi fotosintesis, yang melibatkan panen cahaya dan pemisahan air menjadi elektron dan proton untuk menyediakan aliran energi yang pada gilirannya menghasilkan molekul kunci kehidupan. Fotosintesis potensial dapat dimanfaatkan baik di-rekayasa genetik organisme, atau benar-benar sistem buatan manusia buatan yang meniru proses, untuk menghasilkan karbon bebas bahan bakar seperti hidrogen,. Atau bisa tweak fotosintesis untuk menghasilkan bahan bakar seperti alkohol atau bahkan hidrokarbon yang memang mengandung molekul karbon tetapi recycle mereka dari atmosfer dan oleh karena itu tidak membuat kontribusi bersih ke tingkat karbon dioksida di atas tanah.

Biomimetika juga bisa memecahkan masalah lama tentang bagaimana untuk menyimpan sejumlah besar tenaga listrik secara efisien. Ini akhirnya bisa membuka jalan bagi kendaraan bertenaga elektrik dengan memungkinkan mereka akhirnya untuk mencocokkan kinerja dan berbagai bensin atau rekan-rekan berbasis diesel. Satu sorot dari konferensi FEE adalah presentasi oleh Angela Belcher, yang memainkan peran utama dalam merintis kawat nano dibuat dari virus di Institut Teknologi Massachusetts (MIT) di Amerika Serikat. Aneh memang kedengarannya, ada jenis virus yang menginfeksi bakteri E.coli (bakteriofag a) lapisan mampu melakukan sendiri di-elektrik bahan seperti emas. Ini dapat digunakan untuk membangun kapasitas baterai tinggi kompak, dengan keuntungan tambahan yang berpotensi dapat merakit sendiri, mengeksploitasi kemampuan mereplikasi alami virus. Kunci untuk kapasitas yang tinggi dalam ruang kecil terletak dalam ukuran mikroskopis dari kawat nano dibangun oleh virus - ini berarti bahwa luas permukaan yang lebih besar dari biaya membawa kapasitas bisa dimasukkan ke dalam volume tertentu.

Namun, realisasi komersial lainnya muncul teknologi dan biomimetik terletak jauh di masa depan. Tapi Sementara itu, sebagai delegasi mendengar dari beberapa pembicara pada konferensi ESF, nanoteknologi memiliki kontribusi penting untuk membuat, meningkatkan efisiensi sistem energi yang menghasilkan ada selama transisi dari bahan bakar fosil. Sebagai contoh, Robert Schlögl dijelaskan bagaimana skala katalis nano dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dari mesin atau sistem mengkonsumsi bahan bakar fosil.

Terinspirasi oleh presentasi tersebut, delegasi di konferensi dengan suara bulat menyerukan tindak lanjut. "Konferensi ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan nyata dan proposal baru untuk konferensi di 2010 (diketuai oleh Grätzel) akan segera disampaikan," kata Kasemo. "Secara khusus konferensi terinspirasi dan terpelajar orang-orang muda, seperti dokter, mahasiswa, postdocs, peneliti muda, yang akan menjadi orang-orang untuk menyadari potensi nanoteknologi untuk energi yang berkelanjutan."

The-FWF konferensi ESF dalam Kemitraan dengan LFUI pada nanoteknologi UNTUK ENERGI BERKELANJUTAN diadakan di Obergurgl Universitätszentrum, dekat Innsbruck di Austria selama bulan Juni 2008.


Sumber:

http://www.azonano.com/news.aspx?newsID=8044&lang=id (22-11-2010)

Selasa, 18 Oktober 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Obat-obatan Ajaib dengan Nanoteknologi

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

"Memiliki mental untuk menjadi yang terbaik atau yang pertama."

~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)

Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano

Ternyata manfaat dan dampak positif teknologi nanosangat banyak ya. Teknologi partikel nano mulai dikembangkan untuk kemajuan dunia kedokteran, farmasi dan obat-obatan. Kemajuan teknologi memang memiliki dua sisi yang berseberangan, bagaikan sisi gelap dan terangnya seorang Jedi. Kita bisa memetik manfaat positifnya atau terkena imbas negatif perkembangan teknologi.

Produk obat yang dihasilkan dari teknologi nano lebih unggul dibanding obat biasa. Obat-obatan hasil teknologi nano tersebut dinilai, lebih mudah diserap tubuh dan tidak mudah rusak.

"Obat teknologi nano sebagian besar obat luar, kan kalau partikel semakin kecil, semakin mudah terserap tubuh," ujar peneliti Pusat Teknologi Farmasi dan Media, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Sjaikhurrizal, dalam pameran Ritech Expo 2010, Jakarta Convention Center, Jumat (20/8/2010).

Produk obat yang dibungkus partikel nano, kata Sjaikhurrizal akan semakin terlindungi, sehingga stabil dan tidak mudah rusak. "Misalnya obat diabetes kan insulin, kan nggak ada yang ditelan, kita kembangin insulin yang bisa ditelan dengan teknologi nano. Karena kalau dengan nano, insulin yang ditelan nggak rusak karena asam lambung," katanya.

Sayangnya, lanjut Sjaikhurrizal, bahan baku nano untuk obat-obatan yang beredar di Indonesia sebagian besar adalah bahan impor. Istilah teknologi nano itu sendiri di Indonesia belum terlalu dikenal. "Baru booming 2-3 tahun lah," ujar Sjaikhurrizal.

Selain itu, biaya pembuatan bahan baku nano bagi laboratorium lokal-pun dinilai masih tinggi. Misalnya, untuk membeli alat ukur partikel nano, kata Sjaikhurrizal dibutuhkan biaya tinggi, dan alat tersebut sulit dicari.

"Kalau sekarang masih dalam perkembangan. Di laboratorium kita, sedang dalam bertahap program-program penelitian bareng, jalin hubungan pemerintah dengan swasta," katanya.

Adapun contoh obat yang menggunakan teknologi nano adalah seperti obat luka bakar yang diolah dari daun pegagan dan kitosan atau limbah udang. Obat-obatan nano tersebut menurut Sjaikhurrizal dapat dijual lebih murah dibanding obat biasa.

"Misalnya kan kalau obat luka bakar biasanya bahannya plasenta. Dengan teknologi nano, kita ciptakan dari daun pegagan yang lebih murah dari plasenta," imbuhnya.

manfaat teknologi, dampak positif negatif perkembangan teknologi, kemajuan teknologi nano di bidang kedokteran, obat berteknologi nano rekayasa farmasi, manfaat teknologi nano, perkembangan teknoligi bagi kehidupan.

Minggu, 18 September 2011

Nanoteknologi


Nanoteknologi

Membiasakan diri bekerja dan berpikir dalam kondisi “terganggu” sehingga walaupun kita mendengar rengekan dan tangisan anak atau sambil diajak bermain oleh anak, kita tetap dapat berpikir dan bekerja. Awalnya ini sangat sulit terutama bagi pekerjaan yang menuntut banyak pemikiran. Namun usaha terus-menerus membuat kita dapat bekerja dan berpikir dalam suasana apa pun.

~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)

Nanoelectronics refer to the use of nanotechnology on electronic components, especially transistors. Although the term nanotechnology is generally defined as utilizing technology less than 100 nm in size, nanoelectronics often refer to transistor devices that are so small that inter-atomic interactions and quantum mechanical properties need to be studied extensively. As a result, present transistors do not fall under this category, even though these devices are manufactured with 45 nm or 32 nm technology.

Nanoelectronics are sometimes considered as disruptive technology because present candidates are significantly different from traditional transistors. Some of these candidates include: hybrid molecular/semiconductor electronics, one dimensional nanotubes/nanowires, or advanced molecular electronics.

Although all of these hold promise for the future, they are still under development and will most likely not be used for manufacturing any time soon.


Part of a series of articles on

Nanoelectronics

Single-molecule electronics

Molecular electronics
Molecular logic gate
Molecular wires

Solid state nanoelectronics

Nanocircuitry
Nanowires
Nanolithography
NEMS
Nanosensor

Related approaches

Nanoionics
Nanophotonics
Nanomechanics

See also
Nanotechnology
v d e

Contents


Fundamental concepts

The volume of an object decreases as the third power of its linear dimensions, but the surface area only decreases as its second power. This somewhat subtle and unavoidable principle has huge ramifications. For example the power of a drill (or any other machine) is proportional to the volume, while the friction of the drill's bearings and gears is proportional to their surface area. For a normal-sized drill, the power of the device is enough to handily overcome any friction. However, scaling its length down by a factor of 1000, for example, decreases its power by 10003 (a factor of a billion) while reducing the friction by only 10002 (a factor of "only" a million). Proportionally it has 1000 times less power per unit friction than the original drill. If the original friction-to-power ratio was, say, 1%, that implies the smaller drill will have 10 times as much friction as power. The drill is useless.

For this reason, while super-miniature electronic integrated circuits are fully functional, the same technology cannot be used to make working mechanical devices beyond the scales where frictional forces start to exceed the available power. So even though you may see microphotographs of delicately etched silicon gears, such devices are currently little more than curiosities with limited real world applications, for example, in moving mirrors and shutters [1]. Surface tension increases in much the same way, thus magnifying the tendency for very small objects to stick together. This could possibly make any kind of "micro factory" impractical: even if robotic arms and hands could be scaled down, anything they pick up will tend to be impossible to put down. The above being said, molecular evolution has resulted in working cilia, flagella, muscle fibers and rotary motors in aqueous environments, all on the nanoscale. These machines exploit the increased frictional forces found at the micro or nanoscale. Unlike a paddle or a propeller which depends on normal frictional forces (the frictional forces perpendicular to the surface) to achieve propulsion, cilia develop motion from the exaggerated drag or laminar forces (frictional forces parallel to the surface) present at micro and nano dimensions. To build meaningful "machines" at the nanoscale, the relevant forces need to be considered. We are faced with the development and design of intrinsically pertinent machines rather than the simple reproductions of macroscopic ones.

All scaling issues therefore need to be assessed thoroughly when evaluating nanotechnology for practical applications.


Kamis, 18 Agustus 2011

Pendidikan Nanoteknologi


Pendidikan Nanoteknologi

“Prepare for the best, plan for the worst and expect to be surprised.”
Terkadang kita sering putus asa dan nggak yakin akan diri sendiri.
Calm down. Inget kata-kata ini, kalo kita sedang bersiap menerima keberhasilan dan berencana untuk kegagalan kita dan berusaha untuk memperbaikinya dan lebih maju lagi!!

Kita Pasti Bisaaa!

Nanotechnology education is being offered by more and more universities around the world.[1] The first program involving nanotechnology was offered by the University of Toronto's Engineering Science program, where nanotechnology could be taken as an option. Generally, nanotechnology education involves a multidisciplinary natural science education with courses in nanotechnology, physics, chemistry, math and molecular biology.

Here is a list of universities offering nanotechnology education, and the degrees offered in nanotechnology, Bachelor of Science in Nanotechnology, Master of Science in Nanotechnology, and PhD in Nanotechnology.


Senin, 18 Juli 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Menangkap Cahaya dengan Nanoteknologi

“I cannot fail”
Dalam melakukan sesuatu kita kita harus yakin kita akan berhasil.
Kalo kita yakin 100% akan berhasil, maka kita pasti akan berhasil.

Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano

Dengan membuat sel surya berbahan baku Titanium Dioksida (TiO2) yang diproses hingga seukuran nano (10 pangkat minus sembilan meter), konversi cahaya matahari menjadi listrik menjadi sangat efisien.

"Nanoteknologi meningkatkan sensitivitas sel surya sehingga konversi cahaya matahari menjadi energi listrik lebih efisien," kata Dosen Fakultas Teknik UI Akhmad Herman Yuwono, peraih hibah Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) untuk risetnya, di Jakarta, Selasa.

Panel surya yang biasa digunakan untuk membangkitkan listrik di daerah terpencil masih diimpor dan sangat mahal, ia mencontohkan, panel surya yang biasa dijual di pasar berbahan baku silikon harganya mencapai Rp5 juta per panel.

"Jika penggunaan panel surya untuk menghasilkan listrik ini bisa lebih efisien, tentu dana pembelian panel ini bisa lebih diirit," kata Akhmad yang mengajukan proposal riset tersebut bersama dua rekannya dalam satu tim.

Saat ini, urainya, bahan baku sel surya TiO2 sudah mulai sering diriset untuk menggantikan bahan baku silikon, karena pembuatannya sederhana dan investasi pabriknya tak perlu dana besar seperti halnya pabrik silikon.

Pengembangan struktur nano, lanjut dia, secara khusus ditujukan untuk memperoleh perilaku transpor elektron dan penghasil muatan yang diinginkan sel surya sehingga mampu meningkatkan daya sensitivitas konversi cahaya matahari menjadi listrik hingga 8%.

Ia berharap, ke depan Indonesia yang merupakan negeri kepulauan dan membutuhkan banyak pembangkit listrik tenaga surya segera mampu membangun pabrik sel surya sendiri setelah mulai ditemukannya bahan baku pengganti yang proses pembuatannya lebih murah.

"Bersamaan dengan itu tentu saja perlu menggunakan nanoteknologi yang membuat sel surya lebih efisien," katanya.

Saat ini, ujarnya, juga sedang mulai dirintis riset-riset yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai zat pewarna yang digunakan untuk meliputi TiO2 sehingga makin sensitif menangkap cahaya matahari untuk dikonversi sebagai listrik. (kpl/roc)


Sumber: