Selasa, 18 Oktober 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Obat-obatan Ajaib dengan Nanoteknologi

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia

"Memiliki mental untuk menjadi yang terbaik atau yang pertama."

~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)

Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano

Ternyata manfaat dan dampak positif teknologi nanosangat banyak ya. Teknologi partikel nano mulai dikembangkan untuk kemajuan dunia kedokteran, farmasi dan obat-obatan. Kemajuan teknologi memang memiliki dua sisi yang berseberangan, bagaikan sisi gelap dan terangnya seorang Jedi. Kita bisa memetik manfaat positifnya atau terkena imbas negatif perkembangan teknologi.

Produk obat yang dihasilkan dari teknologi nano lebih unggul dibanding obat biasa. Obat-obatan hasil teknologi nano tersebut dinilai, lebih mudah diserap tubuh dan tidak mudah rusak.

"Obat teknologi nano sebagian besar obat luar, kan kalau partikel semakin kecil, semakin mudah terserap tubuh," ujar peneliti Pusat Teknologi Farmasi dan Media, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Sjaikhurrizal, dalam pameran Ritech Expo 2010, Jakarta Convention Center, Jumat (20/8/2010).

Produk obat yang dibungkus partikel nano, kata Sjaikhurrizal akan semakin terlindungi, sehingga stabil dan tidak mudah rusak. "Misalnya obat diabetes kan insulin, kan nggak ada yang ditelan, kita kembangin insulin yang bisa ditelan dengan teknologi nano. Karena kalau dengan nano, insulin yang ditelan nggak rusak karena asam lambung," katanya.

Sayangnya, lanjut Sjaikhurrizal, bahan baku nano untuk obat-obatan yang beredar di Indonesia sebagian besar adalah bahan impor. Istilah teknologi nano itu sendiri di Indonesia belum terlalu dikenal. "Baru booming 2-3 tahun lah," ujar Sjaikhurrizal.

Selain itu, biaya pembuatan bahan baku nano bagi laboratorium lokal-pun dinilai masih tinggi. Misalnya, untuk membeli alat ukur partikel nano, kata Sjaikhurrizal dibutuhkan biaya tinggi, dan alat tersebut sulit dicari.

"Kalau sekarang masih dalam perkembangan. Di laboratorium kita, sedang dalam bertahap program-program penelitian bareng, jalin hubungan pemerintah dengan swasta," katanya.

Adapun contoh obat yang menggunakan teknologi nano adalah seperti obat luka bakar yang diolah dari daun pegagan dan kitosan atau limbah udang. Obat-obatan nano tersebut menurut Sjaikhurrizal dapat dijual lebih murah dibanding obat biasa.

"Misalnya kan kalau obat luka bakar biasanya bahannya plasenta. Dengan teknologi nano, kita ciptakan dari daun pegagan yang lebih murah dari plasenta," imbuhnya.

manfaat teknologi, dampak positif negatif perkembangan teknologi, kemajuan teknologi nano di bidang kedokteran, obat berteknologi nano rekayasa farmasi, manfaat teknologi nano, perkembangan teknoligi bagi kehidupan.

Sabtu, 24 September 2011

Opening Speech by Minister of Research and Technology, Republic of Indonesia On the First Indonesian-American Kavli Frontiers of Science Symposium

Novotel Bogor, 9-11 July 2011

His Excellency, Special Science Envoy of President Obama, Dr. Bruce Alberts;
His Excellency, US Ambassador to Indonesia, Dr. Scot Marciel;
My colleagues President of Indonesian Science Academy Professor Sangkot Marzuki, the Director General of Higher Educations, Heads of National Research Institutes, University Rectors;
Distinguished guests, US-National Academy of Science Delegation. Indonesian scientists, Ladies and Gentlemen,

Good Evening to all of you.

It is a great pleasure and an honor to me to give a remark in this meeting of the first Indonesian-American Kavli Frontiers of Sciences Symposium. First of all, I would like to welcome all US participants to Indonesia and to this historical city of Bogor.

In this opportunity, I also would like to especially thank Dr. Bruce Albert for the initiation, and US government for the excellent supports in organizing this meeting. This symposium will contribute a great deal to the development of science and technology in Indonesia, and is very relevant and in line with our priority to further promotes science, technology, and innovation.

I also would like to express my appreciation and gratitude to my colleagues from Indonesian Science Academy (AIPI), for the great efforts in organizing this excellent event, which is of great important in facilitating our young scientists with an opportunity to experience a high level world class scientific discussion with their US counterparts. I believe this will lead them to a strong motivation in developing and conducting cutting edge researches.

Distinguished Guests, Ladies and Gentlemen,

One of the defining marks of humanity is our ability to affect and predict our environment. As we are facing the biggest global challenges of humankind to supply foods, fibers and fuels to our world’s growing population, to combat infectious diseases and to mitigate the impact of climate change, young scientists have even bigger responsibilities to search and solve every emerging need.

Climate change requires substantial modification in how we produce and use our energy and natural resources. The reduction of greenhouse gas emissions from the use of energy and our economic activities will need to be realised through technologies based on lower carbon intensity per unit of service than current technologies.

Therefore, I would like to support the topics chosen in this symposium which comprises six topics that include renewable energy, climate change and infectious diseases which are among the very crucial issues we are facing in our live today and in the future.

Distinguished Guests, Ladies and Gentlemen,

All the challenges require strong scientific research and adequate technological change in all our economic sectors. The question is how can we make sure that our research activities and technological innovation linked to ongoing investment cycles will reflect the urgency of coping with these challenges? That will require significant change in our effort in doing researches and developing technologies.

We understand that pursuing a scientific career, especially for bright and young researchers in a developing country like Indonesia is not easy. It requires a strong motivation, needs a certain discipline and professional commitment among many other urgent issues that asking for attention. However, I believe that Indonesian young scientists are as resourceful and passionate about their work and certainly as creative and innovative as their colleagues from abroad.

Especially, in the era of global information today, the world is quite flat. A young student here in Bogor can have equal opportunity as anywhere in the globe to access to the global knowledge needed to pursue his or her scientific career. What is needed is communication, networking and collaboration, to close the knowledge gap and to brigde the information devide, which becomes quite more ordinary today than in the past, thank to the global information and communication technology.

Therefore, this kind of scientific event is essential to our scientists in providing opportunity to communicate with their colleagues from abroad to establish networking and to build a strong collaboration.

Ladies and Gentlemen,

In order to come up with verified scientific solutions for each challenge faced by our society, a continuous endeavor in researches for science and technology development is crucial. In this regards, the linkage and networking between the knowledge development and the effort of utilization are greatly important. If the science and technology generated through researches is not used, the effort will not sustain. Solutions come from innovation, and what is not utilized is not innovation, and thus gives no solution.

Our Ministry of Research and Technology has focused its program on improving the science and technology utilization by the society through the effort of bridging the knowledge gap between the universities and R&D agencies and the industries and the society to promote development of science-technology and product cycles.

I hope this symposium, which is attended by our future leaders in science from both of our countries, not only to discuss the cutting-edge researches but also to exchange brilliant ideas in resolving many problems faced by humanity. I believe our strong partnership between US and Indonesia will generate magnificent benefit not only to Indonesia and US, but also to the world society as a whole, to solve the greatest challenges ever faced by the humankind.

Lastly, in addition to having a fruitful discussion, please do not forget to also enjoy this momentum of visit, to have a good sightseeing around Bogor and other part of Indonesia.

Closing my remarks, I would like to declare that this Symposium is formally opened.

Thank you, and have a good evening.

Suharna Surapranata

Minggu, 18 September 2011

Nanoteknologi


Nanoteknologi

Membiasakan diri bekerja dan berpikir dalam kondisi “terganggu” sehingga walaupun kita mendengar rengekan dan tangisan anak atau sambil diajak bermain oleh anak, kita tetap dapat berpikir dan bekerja. Awalnya ini sangat sulit terutama bagi pekerjaan yang menuntut banyak pemikiran. Namun usaha terus-menerus membuat kita dapat bekerja dan berpikir dalam suasana apa pun.

~Dr.Eng. Mikrajuddin Abdullah, M.Si.~
(Ahli Fisika Nanoteknologi ITB)

Nanoelectronics refer to the use of nanotechnology on electronic components, especially transistors. Although the term nanotechnology is generally defined as utilizing technology less than 100 nm in size, nanoelectronics often refer to transistor devices that are so small that inter-atomic interactions and quantum mechanical properties need to be studied extensively. As a result, present transistors do not fall under this category, even though these devices are manufactured with 45 nm or 32 nm technology.

Nanoelectronics are sometimes considered as disruptive technology because present candidates are significantly different from traditional transistors. Some of these candidates include: hybrid molecular/semiconductor electronics, one dimensional nanotubes/nanowires, or advanced molecular electronics.

Although all of these hold promise for the future, they are still under development and will most likely not be used for manufacturing any time soon.


Part of a series of articles on

Nanoelectronics

Single-molecule electronics

Molecular electronics
Molecular logic gate
Molecular wires

Solid state nanoelectronics

Nanocircuitry
Nanowires
Nanolithography
NEMS
Nanosensor

Related approaches

Nanoionics
Nanophotonics
Nanomechanics

See also
Nanotechnology
v d e

Contents


Fundamental concepts

The volume of an object decreases as the third power of its linear dimensions, but the surface area only decreases as its second power. This somewhat subtle and unavoidable principle has huge ramifications. For example the power of a drill (or any other machine) is proportional to the volume, while the friction of the drill's bearings and gears is proportional to their surface area. For a normal-sized drill, the power of the device is enough to handily overcome any friction. However, scaling its length down by a factor of 1000, for example, decreases its power by 10003 (a factor of a billion) while reducing the friction by only 10002 (a factor of "only" a million). Proportionally it has 1000 times less power per unit friction than the original drill. If the original friction-to-power ratio was, say, 1%, that implies the smaller drill will have 10 times as much friction as power. The drill is useless.

For this reason, while super-miniature electronic integrated circuits are fully functional, the same technology cannot be used to make working mechanical devices beyond the scales where frictional forces start to exceed the available power. So even though you may see microphotographs of delicately etched silicon gears, such devices are currently little more than curiosities with limited real world applications, for example, in moving mirrors and shutters [1]. Surface tension increases in much the same way, thus magnifying the tendency for very small objects to stick together. This could possibly make any kind of "micro factory" impractical: even if robotic arms and hands could be scaled down, anything they pick up will tend to be impossible to put down. The above being said, molecular evolution has resulted in working cilia, flagella, muscle fibers and rotary motors in aqueous environments, all on the nanoscale. These machines exploit the increased frictional forces found at the micro or nanoscale. Unlike a paddle or a propeller which depends on normal frictional forces (the frictional forces perpendicular to the surface) to achieve propulsion, cilia develop motion from the exaggerated drag or laminar forces (frictional forces parallel to the surface) present at micro and nano dimensions. To build meaningful "machines" at the nanoscale, the relevant forces need to be considered. We are faced with the development and design of intrinsically pertinent machines rather than the simple reproductions of macroscopic ones.

All scaling issues therefore need to be assessed thoroughly when evaluating nanotechnology for practical applications.


Jumat, 16 September 2011

Nuklir Indonesia

Masyarakat Nuklir Indonesia


Indonesian Nuclear Society


The Indonesian Nuclear Society was launched in the mid-1960s,

(when first reactor in Indonesia launched [Triga Mark II at Bandung] a time of growing interest in employing peaceful applications of nuclear science and technology for bettering the lives of people in the Indonesian and around the world.

Diaktifkan kembali karena kebutuhannya untuk memenuhi tantangan sekarang dan di masa depan khususnya penyediaan energi dan pemanfaatan ilmu seta teknologi Nuklir untuk Perdamaian



Visi


Pendukung dan Pengembang Program IPTEK Nuklir untuk Perdamaian di Indonesia

18 Reaktor Nuklir Indonesia tahun 2040

Tersedianya sarana pendamping disetiap reaktor

1. Pusat Pendidikan dan Latihan

2. Pusat Inovasi, Penelitian dan Pengembangan


Misi


1. Wahana Edukasi masyarakat mengenai IPTEK Nuklir

2. Sarana penampung aspirasi masyarakat mengenai IPTEK Nuklir


Program

1. Pertemuan Rutin Pertahun

2. Publikasi dan Edukasi Masyarakat


Fokus


5 Tahun Pertama

(2010-2015)



5 Tahun Kedua

(2015-2020)


5 Tahun Ketiga

(2020-2025)


5 Tahun Keempat

(2025-2030)


5 Tahun Kelima

(2030-2035)


5 Tahun Keenam

(2035-2040)

KESEHATAN & OBAT-OBATAN

In nuclear medicine procedures, elemental radionuclides are combined with other elements to form chemical compounds, or else combined with existingpharmaceutical compounds, to form radiopharmaceuticals. These radiopharmaceuticals, once administered to the patient, can localize to specific organs or cellular receptors. This property of radiopharmaceuticals allows nuclear medicine the ability to image the extent of a disease-process in the body, based on the cellular function and physiology, rather than relying on physical changes in the tissue anatomy. In some diseases nuclear medicine studies can identify medical problems at an earlier stage than other diagnostic tests.

Treatment of diseased tissue, based on metabolism or uptake or binding of a particular ligand, may also be accomplished, similar to other areas of pharmacology. However, the treatment effects of radiopharmaceuticals rely on the tissue-destructive power of short-range ionizing radiation.

In the future, nuclear medicine may provide added impetus to the field known as molecular medicine. As our understanding of biological processes in the cells of living organism expands, specific probes can be developed to allow visualization, characterization, and quantification of biologic processes at the cellular and subcellular levels.[1] Nuclear medicine is an ideal specialty to adapt to the new discipline of molecular medicine, because of its emphasis on function and its utilization of imaging agents that are specific for a particular disease process.




  • 2 Interventional nuclear medicine
  • 3 History
  • 4 Source of radionuclides, with notes on a few radiopharmaceuticals
  • 5 Radiation dose
  • 6 See also
  • 7 Notes
  • 8 Further reading
  • 9 External links

  • List of Radiopharmaceuticals

    Tabel Bermacam Radiofarmaka
    Radiopharmaceutical Kits
    Kit Radiofarmaka
    Application
    Kegunaan

    MIBI Kit
    Kit MIBI

    Myocardial perfusion diagnosis
    Diagnosis perfusi darah jantung

    MAG-3 Kit
    Kit MAG-3

    Kidney filtration diagnosis
    Diagnosis fungsi filtrasi ginjal

    HMPAO Kit
    Kit HMPAO

    Celebral blood flow diagnosis
    Diagnosis perfusi darah otak

    HYNIC-UBI Kit
    Kit HYNIC-UBI

    Cancer diagnosis
    Diagnosis kanker

    HYNIC-TOC Kit
    Kit HYNIC-TOC

    Infection diagnosis
    Diagnosis infeksi

    153Sm-EDTMP Solution
    Larutan 153SM-EDTMP

    Bone cancer palliative theraphy
    Terapi paliatif kanker tulang

    153Sm-particulates
    153SM-partikulat

    Theraphy for rheumatoid arthritis
    Terapi rheumatois arthritis

    131I-MIBG
    131I-MIBG

    Theraphy for neuroblastoma
    Terapi neuroblastoma

    131I-LipidolSolution
    131LarutanI-Lipidol

    Hepatoma therapy
    Terapi hepatoma

    186Re-HEDPSolution
    Larutan 186Re-HEDP

    Bone cancer palliative therapy
    Terapi paliatif kanker tulang

    RIA Kit Hepatitis B
    Ki RIA Hepatiti B

    Hepatitis B, HbsAg and anti Hbs detection
    Deteksi Hepatitis B, HbsAG dan Anti HBS

    RIA Kit Hepatitis C
    Kit RIA Hepatitis C

    Hepatitis C detection
    Deteksi Hepatitis C

    RIA KitT3, T4, TSH
    Kit RIA T3, T4, TSH

    Thyroid function detection
    Deteksi fungsi tiroid

    RIA Kit Mikro albuminuria
    Kit RIA Mikro albuminuria

    Heart failure early detection
    Deteksi dini kegagalan hati

    RIA Kit Progesteron
    Kit RIA Progesteron

    cattle fertility detection
    Deteksi kesuburan

    IRMA Kit AFP & CEA
    Kit IRMA AFP & CEA

    Diagnosis for tumor of the breast and digestive tract
    Diagnosis tumor payudara dan saluran pencernaan






    Further reading

    • Mas JC: A Patient's Guide to Nuclear Medicine Procedures: English-Spanish. Society of Nuclear Medicine, 2008. ISBN 978-0972647892
    • Taylor A, Schuster DM, Naomi Alazraki N: A Clinicians' Guide to Nuclear Medicine, 2nd edition. Society of Nuclear Medicine, 2000. ISBN 978-0932004727
    • Mark J. Shumate MJ, Kooby DA, Alazraki NP: A Clinician's Guide to Nuclear Oncology: Practical Molecular Imaging and Radionuclide Therapies. Society of Nuclear Medicine, January 2007. ISBN 978-0972647885
    • Ell P, Gambhir S: Nuclear Medicine in Clinical Diagnosis and Treatment. Churchill Livingstone, 2004. (1950 pages) ISBN 978-0443073120

    Rabu, 24 Agustus 2011

    LAPORAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI pada acara PEMBUKAAN HARI KEBANGKITAN TEKNOLOGI NASIONAL KE-16

    Jakarta, 10 Agustus 2011

    Bismillahirrahmaanirrahiim,

    Yang terhormat Presiden RI, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
    Yang terhormat Ibu Negara Hj. Any Bambang Yudhoyono
    Yang terhormat Presiden RI ketiga, Bapak Prof.Dr.Baharudin Jusuf Habibie
    Yang terhormat Pimpinan Lembaga-lembaga Tinggi Negara.
    Yang terhormat Bapak/Ibu Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Panglima TNI,Kapolri. Mantan Menristek, Ketua KEN, Ketua KIN.
    Yang terhormat para duta besar dan wakil negara-negara sahabat.
    Yang saya hormati para kepala daerah: Gubernur, Bupati dan Walikota, atau yang mewakili
    Yang saya hormati para Pimpinan LPNK, para Rektor Perguruan Tinggi, wakil dari organisasi internasional
    Yang saya hormati Pimpinan KADIN, badan usaha, organisasi profesi
    Yang saya hormati para pejabat sipil dan militer, tokoh agama dan tokoh masyarakat
    Yang saya banggakan saudara-saudara cendekiawan, para inovator, akademisi, peneliti, perekayasa wirausaha, wartawan, dan mahasiswa yang menjadi tumpuan harapan masa depan bangsa
    Hadirin yang berbahagia

    Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
    Salam sejahtera untuk kita semua
    Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua, sehingga hari ini kita bisa hadir pada acara Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-16 tahun 2011.

    Peringatan Hakteknas ke-16, mengambil tema “Inovasi untuk Kesejahteraan Rakyat”. Tema ini dipilih dengan harapan, agar hasil-hasil litbang Iptek dapat terus dikembangkan, diadopsi dan dimanfaatkan, menjadi sebuah produk inovatif, berdampak sosial dan ekonomi yang luas, guna membangun kemandirian, meningkatnya produktivitas dan daya saing, untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Ini merupakan misi besar bersama bagi para stake-holder atau insan Iptek nasional.

    Bapak Presiden yang saya hormati dan hadirin sekalian,
    Kesadaran tentang pentingnya peran teknologi dalam memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi telah semakin dipahami secara global. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 juga telah menetapkan pengembangan SDM dan iptek sebagai salah satu dari tiga strategi utama.

    Teknologi dan ekonomi tak lagi dapat dipisahkan. Pembangunan teknologi dan ekonomi harus bersifat mutualistik. Dari perspektif ekonomi, telah lama dikenal pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Demikian pula dari perpektif teknologi telah lama didorong untuk mewujudkan Sistem Inovasi Nasional (SINas), yang bermakna bahwa pembangunan teknologi perlu diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Fokus kebijakan Pembangunan IPTEK diarahkan untuk penguatan sistem inovasi nasional (SINas) dalam rangka meningkatkan kontribusi IPTEK terhadap pembangunan nasional. SINas ini akan: (1) menciptakan ruang yang berfungsi sebagai “panggung inovasi”, agar terjadi interaksi dan kolaborasi yang baik antar aktor-aktor inovasi nasional dalam suasana yang kondusif; (2) mempercepat koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi, (3) mendorong pemanfaatan hasil litbang guna menyelesaikan permasalahan pembangunan, meningkatkan daya saing, memberikan layanan kepada masyarakat serta mencapai kemandirian bangsa.

    Bapak Presiden yang saya hormati dan hadirin sekalian,
    Pemilihan PUSPIPTEK Serpong sebagai lokasi Peringatan Hakteknas tahun ini mengandung arti yang penting dalam upaya membangun Model SINas. PUSPIPTEK mempunyai potensi dan merupakan aset yang sangat besar yang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu Kementerian Ristek telah mencanangkan upaya revitalisasi PUSPIPTEK menjadi Sience Techno Park.

    Selain itu Kementerian Ristek juga terus mendorong upaya membangun pusat-pusat inovasi di daerah melalui program pengembangan sistem inovasi daerah (SIDA) untuk menciptakan ruang bagi para pengembang teknologi di daerah dan pelaku usaha agar bisa berkolaborasi dengan baik untuk mengembangkan produk-produk unggulan daerah yang berbasis teknologi. Kami meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi nasional ke depan akan lebih banyak tertumpu pada sumber-sumber pertumbuhan baru di daerah.

    Bapak Presiden yang saya hormati dan hadirin sekalian,
    Peringatan Hakteknas ini bisa dijadikan momentum untuk membangun semangat kebersamaan dan unjuk kesiapan untuk penguatan kemampuan SDM dan Iptek nasional

    Pagi ini telah dibuka ‘Ritech Expo 2011’ yang memamerkan berbagai produk teknologi yang dihasilkan oleh lembaga riset pemerintah, lembaga riset swasta, perguruan tinggi, dan badan litbang kementerian. Pameran ini diharapkan menjadi ajang interaksi antara pengembang teknologi dengan calon pengguna potensialnya, selain sebagai wahana edukasi publik.

    Upaya untuk memfasilitasi komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi juga dilaksanakan dengan menyediakan forum seminar dan talk show, yang menempatkan aktor pengembang dan pengguna teknologi dalam satu forum.

    Bapak Presiden yang saya hormati dan hadirin sekalian
    Formalisasi dari wujud keinginan para aktor inovasi untuk mengintensifkan kolaborasi difasilitasi melalui penandatanganan MoU dari berbagai Kementerian dan Lembaga, Perguruan Tinggi, Pemda dan Dunia Usaha, yang telah dilaksanakan pagi tadi, termasuk dengan KISTEP Korea dan GRIPS Jepang.

    Sebagai tindak lanjut dari semangat kebersamaan ini, akan dilaksanakan Rakornas Ristek yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk merumuskan agenda nasional berkaitan dengan peningkatan kemampuan SDM dan Iptek untuk mendukung MP3EI.

    Pada Peringatan Hakteknas ke-16 kali ini juga dilaksanakan kegiatan ‘Open Lab’, yakni membuka kesempatan bagi pihak industri dan pengguna teknologi potensial lainnya untuk melihat fasilitas riset di berbagai pusat penelitian di kawasan Puspiptek.

    Bapak Presiden yang saya hormati dan hadirin sekalian,
    Pada puncak acara Peringatan Hakteknas ke-16 hari ini diberikan “Anugerah Iptek” kepada Daerah, Tokoh Iptek, peneliti/perekayasa, dan masyarakat yang menjadi panutan dalam litbangrap Iptek sebagai tanda penghargaan kami kepada mereka yang telah mendedikasikan hidupnya dan memberikan kontribusi yang terbaik terhadap pembangunan Iptek nasional.
    Penerima Anugerah IPTEK 2011:

    Pemerintah Kabupaten/Kota
    1. Kota Megelang
    2. Kabupaten Sumenep
    3. Kabupaten Sleman

    Kreativitas Inovasi Masyarakat
    4. H. Burlian Topo
    5. I Gusti Nyoman Buleleng

    Pranata Litbang
    6. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPSK)
    7. Balitbang Provinsi Sumatera Selatan
    8. PT. Semen Gresik Tbk.

    Duta Iptek
    9. DR. Nurul Taufik Rahman, Ph.D. M.Eng
    10. DR. Eng. Ferry Iskandar
    11. DR.Dyah Iswantini Pradono, M.Agr.

    Bapak Presiden yang saya hormati dan hadirin sekalian,
    Mengakhiri laporan ini maka izinkan kami menyampaikan terima kasih yang tulus kepada panitia dan seluruh pihak yang telah berkontribusi nyata terhadap keberhasilan penyelenggaraan Peringatan Hakteknas ke 16 ini, dan secara khusus kami menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak Presiden RI, DR H. Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ibu Negara Hj. Any Bambang Yudhoyono, yang telah berkenan hadir di sini, serta kami menyampaikan permohonan ma’af atas segala keterbatasan yang ada. Selanjutnya kami mohon kepada Bapak untuk dapat memberikan arahan pada kami berkaitan dengan pembangunan Iptek nasional demi peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.

    Demikian Laporan kami, Wabillahi Taufik Wal Hidayah, Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

    Jakarta, 10 Agustus 2011
    Menteri Negara Riset dan Teknologi,
    Suharna Surapranata

    Kamis, 18 Agustus 2011

    Pendidikan Nanoteknologi


    Pendidikan Nanoteknologi

    “Prepare for the best, plan for the worst and expect to be surprised.”
    Terkadang kita sering putus asa dan nggak yakin akan diri sendiri.
    Calm down. Inget kata-kata ini, kalo kita sedang bersiap menerima keberhasilan dan berencana untuk kegagalan kita dan berusaha untuk memperbaikinya dan lebih maju lagi!!

    Kita Pasti Bisaaa!

    Nanotechnology education is being offered by more and more universities around the world.[1] The first program involving nanotechnology was offered by the University of Toronto's Engineering Science program, where nanotechnology could be taken as an option. Generally, nanotechnology education involves a multidisciplinary natural science education with courses in nanotechnology, physics, chemistry, math and molecular biology.

    Here is a list of universities offering nanotechnology education, and the degrees offered in nanotechnology, Bachelor of Science in Nanotechnology, Master of Science in Nanotechnology, and PhD in Nanotechnology.


    Rabu, 03 Agustus 2011

    Grand Design Penelitian di Indonesia

    EDISON MUNAF Guru Besar Universitas Andalas (Unand),
    Atase Pendidikan KBRI Tokyo

    Tidak dapat dimungkiri penelitian di hampir sebagian besar perguruan tinggi dan lembaga riset di Indonesia masih sangat lemah. Hal ini terlihat dari rendahnya jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan pada jurnal internasional.

    Fenomena rendahnya jumlah publikasi internasional yang diproduksi oleh peneliti Indonesia mendapat sorotan dan telaah yang mendalam sepanjang satu dekade terakhir.
    Beberapa perguruan tinggi besar seperti ITB,UGM, UI, Unair, ITS, Unpad, IPB, Undip, Unand, Unhas, dan USU juga telah berusaha meningkatkan jumlah publikasinya pada jurnal internasional dengan impact factor tinggi, namun belum terlihat kemajuan yang berarti.

    Jumlah publikasi internasional perguruan tinggi dan lembaga riset lainnya dalam sepuluh tahun terakhir untuk bidang sains terapan termasuk kedokteran dari Indonesia hanya meningkat tiga kali lipat dari 556 artikel pada 2000 menjadi 1.852 artikel pada 2010. Kondisi ini terlihat lebih miris untuk bidang-bidang ilmu sosial, dari hanya 24 pada 2000 menjadi 73 pada 2010.

    Hal ini sangat memprihatinkan mengingat kekuatan Indonesia saat ini sebenarnya ada di bidang ilmu-ilmu sosial, mengingat minimnya peralatan laboratorium yang tersedia untuk riset dalam bidang sains terapan. Jika dibandingkan dengan negara tetangga Asia, publikasi ilmiah para peneliti kita pun masih sangat rendah.

    Pada 2010 total publikasi internasional Indonesia 1.925 artikel, jauh tertinggal dibanding Singapura (13.419 artikel), Thailand (13.109 artikel), Malaysia (8.822 artikel), bahkan Pakistan (6.843).Masih untung jumlah publikasi ilmiah internasional kita masih unggul sedikit di atas Vietnam (1.854 artikel) dan Bangladesh (1.760 artikel),negara yang notabene baru berkembang.

    Namun, jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan para peneliti kita hanya mencapai 7,9 artikel per 1 juta penduduk. Sementara Singapura menghasilkan 2.581 artikel, diikuti oleh Malaysia (300),Thailand (201), Pakistan (39),Vietnam (20,9),Bangladesh (10,7),serta Filipina (9,2).

    Kultur Menulis

    Rendahnya produktivitas karya peneliti Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor.Dua yang paling utama di antaranya adalah:

    Pertama,kebiasaan menulis dan mengarang yang tidak dilatih dan dibiasakan sejak kecil yang mengakibatkan ada mental barrier dalam diri peneliti Indonesia.Ada kekhawatiran bahwa publikasinya akan ditolak. Menulis artikel memang membutuhkan skill atau keterampilan sendiri, sehingga tidak setiap peneliti dapat melakukannya tanpa latihan yang keras.

    Kedua, minimnya dana penelitian dan fasilitas riset yang tersedia membuat mandulnya sebahagian besar para peneliti kita. Banyaknya publikasi ilmiah sedikit banyaknya akan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan serta lahirnya inovasi-inovasi baru dalam industri yang berbasis pada hasil penelitian.

    Thailand dan Malaysia adalah dua contoh negara yang inovasi teknologinya dalam menunjang pertumbuhan ekonomi rakyatnya mulai tumbuh dari kekuatan sendiri. Hal ini tercermin dari jumlah artikel ilmiah internasional mereka hanya 38% untuk Thailand dan 31% untuk Malaysia yang melibatkan peneliti asing.

    Sementara data artikel Indonesia yang melibatkan peneliti asing sepanjang 10 tahun terakhir tetap berada di kisaran 70%.

    Keterbatasan

    Dengan jumlah perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset yang ada di Indonesia yang mencapai sekitar 3.000 institusi, peralatan penelitian pada institusi riset masih sangat kurang.Di sebagian besar laboratorium peralatan yang tersedia hanyalah peralatan gelas untuk praktikum dasar, sementara peralatan untuk penelitian yang lebih komprehensif sangat terbatas.

    Pengiriman jumlah peneliti untuk mencapai gelar PhD di luar negeri harus diikuti dengan penyediaan dana dan peralatan penelitian di setiap laboratorium. Jika tidak, gelar PhD akan menjadi sia-sia dan tidak produktif.

    Malaysia dengan jumlah PhD 8.000 orang pada 2008 mampu menghasilkan karya ilmiah pada jurnal internasional bergengsi sebanyak 8.000 lebih. Jumlah ini pun masih dirasa kurang oleh pemerintah Malaysia untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan inovasi-inovasi baru untuk kemajuan industri mereka.

    Melalui MyBrain 15,Pemerintah Malaysia pada 2008 telah mensponsori hampir 4.000 orang untuk mengambil gelar PhD, 60% di antaranya studi di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia,Jepang,dan Selandia Baru.Malaysia juga menargetkan akan mempunyai 60.000 orang PhD pada 2020.

    Indonesia dengan jumlah PhD mencapai 23.000 orang hanya menghasilkan 1.233 artikel. Dengan kondisi begini, impian akan lahir pemenang nobel dari Indonesia hanya akan menggantung di awang-awang.

    Grand Design

    Indonesia yang kaya akan sumber daya alam (SDA) bisa menjadi raksasa dunia dalam bidang ekonomi jika para ilmuannya aktif meneliti dan mengkaji berbagai potensi sumber daya alam (SDA) yang tersedia. Dan juga sebaliknya, ketersediaan SDA Indonesia yang melimpah harus menjadi kekuatan dan tema besar dari peneliti-peneliti Indonesia.

    Tanpa pengetahuan yang berbasis riset, akan sulit bagi kita untuk bernegosiasi dengan para pengusaha atau pelaku industri lainnya yang cenderung untuk membeli teknologi yang sudah jadi meskipun mahal. Harus ada satu kesatuan dari kekuatan potensi lokal sebagai sumber atau bahan penelitian dengan ketersediaan para peneliti dan dukungan peralatan dan dana.

    Setiap institusi riset sudah harus memetakan kekuatan sumber daya manusia (SDM) dan SDA yang tersedia yang dapat menjadi bahan kajian. Adanya pusat-pusat keunggulan (center of excellence) yang tidak saling tumpang tindih antara satu lembaga riset dan lembaga riset lainnya termasuk tumpang tindih bidang kajian akan menjadi kekuatan raksasa jika bisa dikelola dengan baik.

    Dana riset yang mulai dialokasikan dalam APBN dalam jumlah yang cukup besar.Beberapa universitas yang sudah menghasilkan doktor-doktor baru harus sudah berani mewajibkan para penelitinya untuk menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bergengsi.

    Mungkin untuk awalnya bisa diterapkan bagi para peneliti yang mendapatkan dana penelitian di atas Rp100 juta,termasuk juga bagi mereka yang akan mendapatkan gelar doktor dari institusi pendidikan di Indonesia.

    Memublikasikan hasil penelitian pada jurnal internasional dengan impact factor tinggi merupakan salah satu bukti pertanggungjawaban ilmiah dari penelitian yang dilakukan. Menulis artikel tidak sulit jika kita punya keinginan dan mau berlatih keras. Apalagi saat ini semua proses untuk pemuatan artikel di jurnal internasional dilakukan lewat internet.

    Mulai dari proses pengiriman naskah,revisi,jawaban atas pertanyaan, hingga ke penerbitan dilakukan melalui sistem elektronik dan membutuhkan waktu yang tidak begitu lama.●