Rabu, 24 Agustus 2011
LAPORAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI pada acara PEMBUKAAN HARI KEBANGKITAN TEKNOLOGI NASIONAL KE-16
Kamis, 18 Agustus 2011
Pendidikan Nanoteknologi
Terkadang kita sering putus asa dan nggak yakin akan diri sendiri.
Calm down. Inget kata-kata ini, kalo kita sedang bersiap menerima keberhasilan dan berencana untuk kegagalan kita dan berusaha untuk memperbaikinya dan lebih maju lagi!!
Nanotechnology education is being offered by more and more universities around the world.[1] The first program involving nanotechnology was offered by the University of Toronto's Engineering Science program, where nanotechnology could be taken as an option. Generally, nanotechnology education involves a multidisciplinary natural science education with courses in nanotechnology, physics, chemistry, math and molecular biology.
Rabu, 03 Agustus 2011
Grand Design Penelitian di Indonesia
Atase Pendidikan KBRI Tokyo
Tidak dapat dimungkiri penelitian di hampir sebagian besar perguruan tinggi dan lembaga riset di Indonesia masih sangat lemah. Hal ini terlihat dari rendahnya jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan pada jurnal internasional.
Fenomena rendahnya jumlah publikasi internasional yang diproduksi oleh peneliti Indonesia mendapat sorotan dan telaah yang mendalam sepanjang satu dekade terakhir.
Beberapa perguruan tinggi besar seperti ITB,UGM, UI, Unair, ITS, Unpad, IPB, Undip, Unand, Unhas, dan USU juga telah berusaha meningkatkan jumlah publikasinya pada jurnal internasional dengan impact factor tinggi, namun belum terlihat kemajuan yang berarti.
Jumlah publikasi internasional perguruan tinggi dan lembaga riset lainnya dalam sepuluh tahun terakhir untuk bidang sains terapan termasuk kedokteran dari Indonesia hanya meningkat tiga kali lipat dari 556 artikel pada 2000 menjadi 1.852 artikel pada 2010. Kondisi ini terlihat lebih miris untuk bidang-bidang ilmu sosial, dari hanya 24 pada 2000 menjadi 73 pada 2010.
Hal ini sangat memprihatinkan mengingat kekuatan Indonesia saat ini sebenarnya ada di bidang ilmu-ilmu sosial, mengingat minimnya peralatan laboratorium yang tersedia untuk riset dalam bidang sains terapan. Jika dibandingkan dengan negara tetangga Asia, publikasi ilmiah para peneliti kita pun masih sangat rendah.
Pada 2010 total publikasi internasional Indonesia 1.925 artikel, jauh tertinggal dibanding Singapura (13.419 artikel), Thailand (13.109 artikel), Malaysia (8.822 artikel), bahkan Pakistan (6.843).Masih untung jumlah publikasi ilmiah internasional kita masih unggul sedikit di atas Vietnam (1.854 artikel) dan Bangladesh (1.760 artikel),negara yang notabene baru berkembang.
Namun, jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan para peneliti kita hanya mencapai 7,9 artikel per 1 juta penduduk. Sementara Singapura menghasilkan 2.581 artikel, diikuti oleh Malaysia (300),Thailand (201), Pakistan (39),Vietnam (20,9),Bangladesh (10,7),serta Filipina (9,2).
Kultur Menulis
Rendahnya produktivitas karya peneliti Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor.Dua yang paling utama di antaranya adalah:
Pertama,kebiasaan menulis dan mengarang yang tidak dilatih dan dibiasakan sejak kecil yang mengakibatkan ada mental barrier dalam diri peneliti Indonesia.Ada kekhawatiran bahwa publikasinya akan ditolak. Menulis artikel memang membutuhkan skill atau keterampilan sendiri, sehingga tidak setiap peneliti dapat melakukannya tanpa latihan yang keras.
Kedua, minimnya dana penelitian dan fasilitas riset yang tersedia membuat mandulnya sebahagian besar para peneliti kita. Banyaknya publikasi ilmiah sedikit banyaknya akan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan serta lahirnya inovasi-inovasi baru dalam industri yang berbasis pada hasil penelitian.
Thailand dan Malaysia adalah dua contoh negara yang inovasi teknologinya dalam menunjang pertumbuhan ekonomi rakyatnya mulai tumbuh dari kekuatan sendiri. Hal ini tercermin dari jumlah artikel ilmiah internasional mereka hanya 38% untuk Thailand dan 31% untuk Malaysia yang melibatkan peneliti asing.
Sementara data artikel Indonesia yang melibatkan peneliti asing sepanjang 10 tahun terakhir tetap berada di kisaran 70%.
Keterbatasan
Dengan jumlah perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset yang ada di Indonesia yang mencapai sekitar 3.000 institusi, peralatan penelitian pada institusi riset masih sangat kurang.Di sebagian besar laboratorium peralatan yang tersedia hanyalah peralatan gelas untuk praktikum dasar, sementara peralatan untuk penelitian yang lebih komprehensif sangat terbatas.
Pengiriman jumlah peneliti untuk mencapai gelar PhD di luar negeri harus diikuti dengan penyediaan dana dan peralatan penelitian di setiap laboratorium. Jika tidak, gelar PhD akan menjadi sia-sia dan tidak produktif.
Malaysia dengan jumlah PhD 8.000 orang pada 2008 mampu menghasilkan karya ilmiah pada jurnal internasional bergengsi sebanyak 8.000 lebih. Jumlah ini pun masih dirasa kurang oleh pemerintah Malaysia untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan inovasi-inovasi baru untuk kemajuan industri mereka.
Melalui MyBrain 15,Pemerintah Malaysia pada 2008 telah mensponsori hampir 4.000 orang untuk mengambil gelar PhD, 60% di antaranya studi di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia,Jepang,dan Selandia Baru.Malaysia juga menargetkan akan mempunyai 60.000 orang PhD pada 2020.
Indonesia dengan jumlah PhD mencapai 23.000 orang hanya menghasilkan 1.233 artikel. Dengan kondisi begini, impian akan lahir pemenang nobel dari Indonesia hanya akan menggantung di awang-awang.
Grand Design
Indonesia yang kaya akan sumber daya alam (SDA) bisa menjadi raksasa dunia dalam bidang ekonomi jika para ilmuannya aktif meneliti dan mengkaji berbagai potensi sumber daya alam (SDA) yang tersedia. Dan juga sebaliknya, ketersediaan SDA Indonesia yang melimpah harus menjadi kekuatan dan tema besar dari peneliti-peneliti Indonesia.
Tanpa pengetahuan yang berbasis riset, akan sulit bagi kita untuk bernegosiasi dengan para pengusaha atau pelaku industri lainnya yang cenderung untuk membeli teknologi yang sudah jadi meskipun mahal. Harus ada satu kesatuan dari kekuatan potensi lokal sebagai sumber atau bahan penelitian dengan ketersediaan para peneliti dan dukungan peralatan dan dana.
Setiap institusi riset sudah harus memetakan kekuatan sumber daya manusia (SDM) dan SDA yang tersedia yang dapat menjadi bahan kajian. Adanya pusat-pusat keunggulan (center of excellence) yang tidak saling tumpang tindih antara satu lembaga riset dan lembaga riset lainnya termasuk tumpang tindih bidang kajian akan menjadi kekuatan raksasa jika bisa dikelola dengan baik.
Dana riset yang mulai dialokasikan dalam APBN dalam jumlah yang cukup besar.Beberapa universitas yang sudah menghasilkan doktor-doktor baru harus sudah berani mewajibkan para penelitinya untuk menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bergengsi.
Mungkin untuk awalnya bisa diterapkan bagi para peneliti yang mendapatkan dana penelitian di atas Rp100 juta,termasuk juga bagi mereka yang akan mendapatkan gelar doktor dari institusi pendidikan di Indonesia.
Memublikasikan hasil penelitian pada jurnal internasional dengan impact factor tinggi merupakan salah satu bukti pertanggungjawaban ilmiah dari penelitian yang dilakukan. Menulis artikel tidak sulit jika kita punya keinginan dan mau berlatih keras. Apalagi saat ini semua proses untuk pemuatan artikel di jurnal internasional dilakukan lewat internet.
Mulai dari proses pengiriman naskah,revisi,jawaban atas pertanyaan, hingga ke penerbitan dilakukan melalui sistem elektronik dan membutuhkan waktu yang tidak begitu lama.●
Sabtu, 23 Juli 2011
SAMBUTAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI pada acara LAUNCHING HARI KEBANGKITAN TEKNOLOGI NASIONAL KE-16
Senin, 18 Juli 2011
Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia
Dalam melakukan sesuatu kita kita harus yakin kita akan berhasil.
Kalo kita yakin 100% akan berhasil, maka kita pasti akan berhasil.
Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.
Misi
* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.
* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).
* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).
* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).
"Nanoteknologi meningkatkan sensitivitas sel surya sehingga konversi cahaya matahari menjadi energi listrik lebih efisien," kata Dosen Fakultas Teknik UI Akhmad Herman Yuwono, peraih hibah Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) untuk risetnya, di Jakarta, Selasa.
Panel surya yang biasa digunakan untuk membangkitkan listrik di daerah terpencil masih diimpor dan sangat mahal, ia mencontohkan, panel surya yang biasa dijual di pasar berbahan baku silikon harganya mencapai Rp5 juta per panel.
"Jika penggunaan panel surya untuk menghasilkan listrik ini bisa lebih efisien, tentu dana pembelian panel ini bisa lebih diirit," kata Akhmad yang mengajukan proposal riset tersebut bersama dua rekannya dalam satu tim.
Saat ini, urainya, bahan baku sel surya TiO2 sudah mulai sering diriset untuk menggantikan bahan baku silikon, karena pembuatannya sederhana dan investasi pabriknya tak perlu dana besar seperti halnya pabrik silikon.
Pengembangan struktur nano, lanjut dia, secara khusus ditujukan untuk memperoleh perilaku transpor elektron dan penghasil muatan yang diinginkan sel surya sehingga mampu meningkatkan daya sensitivitas konversi cahaya matahari menjadi listrik hingga 8%.
Ia berharap, ke depan Indonesia yang merupakan negeri kepulauan dan membutuhkan banyak pembangkit listrik tenaga surya segera mampu membangun pabrik sel surya sendiri setelah mulai ditemukannya bahan baku pengganti yang proses pembuatannya lebih murah.
"Bersamaan dengan itu tentu saja perlu menggunakan nanoteknologi yang membuat sel surya lebih efisien," katanya.
Saat ini, ujarnya, juga sedang mulai dirintis riset-riset yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai zat pewarna yang digunakan untuk meliputi TiO2 sehingga makin sensitif menangkap cahaya matahari untuk dikonversi sebagai listrik. (kpl/roc)
Sumber:
Sabtu, 16 Juli 2011
Engineering Science
SCOPE OF WORK
Food Security and Safety
Food is a crucial matter for human being. Our research in food security and safety has become high priority and is always one of the main focuses of the research centers and technical implementation units (UPT). Development, engineering, and diversification of food products based on highly potential local commodities those are rich in nutrition, and function as additive properties. Activity performed in food area is an accomplishment effort to fulfill public nutrition need.
New and Renewable Energy
More people use more energy. Therefore, invention and development of alternative energy resources (contoh: solar, wind, geothermal, and bio-fuels) and energy conservation are very important as a substitution of limited fossil fuel. Alternative fuel for engine can be made from plants and animal's oil that has great advantages such as increasing engine life, reducing pollutant, and toxic waste; micro-hydro developed as source of energy for electrifying remote villages as well as using fuel cell, that utilizes hydrogen for generating electricity with high efficiency.
Applied Technology
Technology for transport and transportation management, IT and communication and defense and security as well as for environment are the key goals. Researchers are designing transportation system, carriage transmission system, and electrical automobile. Meanwhile, development of information technology and communications is in with development of information technology that include: data-mining based on real time analysis system, system information based on dynamic web, supervision system and real time commemoration for dissociation energy of diatomic generator, biometric technology for presence engine, the application of smart card based on java technology card for storage of medical data, and expansion of radar technology.
On the other hand, research and developments in defense and security technology concentrates on the replacement of imported defense technology with locally produced and to optimize defense and security management, meanwhile research in the environment area optimized environmental management by reducing environmental waste.
Health and Drugs
Healthy country and healthy people are important in building a healthy nation. In order to keep in line with the goals, our health and drugs researchers are based on the utilization of local commodities that highly potential for medical and therapeutics properties. Packaging of products yielded is also the main concern. Better package such as compact (soap), powder, liquid, and capsules gives amenity in usage or consumption. Thus, it will be able to increase their economic value.
Address:
Sasana Widya Sarwono LIPI, Lt. Ill
Jl.Jend. Gatot Subroto 10,Jakarta 12710.
Telp. (021) 5251586
Fax. (021) 5262376
e-mail: dep.ipt@lipi.go.id
Jumat, 24 Juni 2011
Indonesian National Laboratories and Technology Centers
Indonesian National
Laboratories and Technology Centers
A laboratory (pronounced /ləˈbɒrətəri, ˈlæbərətri/; informally, lab) is a facility that provides controlled conditions in which scientific research, experiments, and measurement may be performed. The title of laboratory is also used for certain other facilities where the processes or equipment used are similar to those in scientific laboratories. These notably include:
- the film laboratory or darkroom
- the computer lab
- the media lab
- the medical lab
- the public health lab
- the clandestine lab for the production of illegal drugs
In recent years government and private centers for innovation in learning, leadership and organization have adopted "lab" in their name to emphasize the experimental and research-oriented nature of their work.
Scientific laboratories can be found in schools and universities, in industry, in government or military facilities, and even aboard ships and spacecraft. A new concept developed by a UK based lab is Lab Time Share which provides start up businesses with access to high quality laboratories and staff at a reduced cost[1] . A laboratory might offer work space for just one to more than thirty researchers depending on its size and purpose.