Rabu, 03 Agustus 2011

Grand Design Penelitian di Indonesia

EDISON MUNAF Guru Besar Universitas Andalas (Unand),
Atase Pendidikan KBRI Tokyo

Tidak dapat dimungkiri penelitian di hampir sebagian besar perguruan tinggi dan lembaga riset di Indonesia masih sangat lemah. Hal ini terlihat dari rendahnya jumlah publikasi ilmiah yang diterbitkan pada jurnal internasional.

Fenomena rendahnya jumlah publikasi internasional yang diproduksi oleh peneliti Indonesia mendapat sorotan dan telaah yang mendalam sepanjang satu dekade terakhir.
Beberapa perguruan tinggi besar seperti ITB,UGM, UI, Unair, ITS, Unpad, IPB, Undip, Unand, Unhas, dan USU juga telah berusaha meningkatkan jumlah publikasinya pada jurnal internasional dengan impact factor tinggi, namun belum terlihat kemajuan yang berarti.

Jumlah publikasi internasional perguruan tinggi dan lembaga riset lainnya dalam sepuluh tahun terakhir untuk bidang sains terapan termasuk kedokteran dari Indonesia hanya meningkat tiga kali lipat dari 556 artikel pada 2000 menjadi 1.852 artikel pada 2010. Kondisi ini terlihat lebih miris untuk bidang-bidang ilmu sosial, dari hanya 24 pada 2000 menjadi 73 pada 2010.

Hal ini sangat memprihatinkan mengingat kekuatan Indonesia saat ini sebenarnya ada di bidang ilmu-ilmu sosial, mengingat minimnya peralatan laboratorium yang tersedia untuk riset dalam bidang sains terapan. Jika dibandingkan dengan negara tetangga Asia, publikasi ilmiah para peneliti kita pun masih sangat rendah.

Pada 2010 total publikasi internasional Indonesia 1.925 artikel, jauh tertinggal dibanding Singapura (13.419 artikel), Thailand (13.109 artikel), Malaysia (8.822 artikel), bahkan Pakistan (6.843).Masih untung jumlah publikasi ilmiah internasional kita masih unggul sedikit di atas Vietnam (1.854 artikel) dan Bangladesh (1.760 artikel),negara yang notabene baru berkembang.

Namun, jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan para peneliti kita hanya mencapai 7,9 artikel per 1 juta penduduk. Sementara Singapura menghasilkan 2.581 artikel, diikuti oleh Malaysia (300),Thailand (201), Pakistan (39),Vietnam (20,9),Bangladesh (10,7),serta Filipina (9,2).

Kultur Menulis

Rendahnya produktivitas karya peneliti Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor.Dua yang paling utama di antaranya adalah:

Pertama,kebiasaan menulis dan mengarang yang tidak dilatih dan dibiasakan sejak kecil yang mengakibatkan ada mental barrier dalam diri peneliti Indonesia.Ada kekhawatiran bahwa publikasinya akan ditolak. Menulis artikel memang membutuhkan skill atau keterampilan sendiri, sehingga tidak setiap peneliti dapat melakukannya tanpa latihan yang keras.

Kedua, minimnya dana penelitian dan fasilitas riset yang tersedia membuat mandulnya sebahagian besar para peneliti kita. Banyaknya publikasi ilmiah sedikit banyaknya akan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan serta lahirnya inovasi-inovasi baru dalam industri yang berbasis pada hasil penelitian.

Thailand dan Malaysia adalah dua contoh negara yang inovasi teknologinya dalam menunjang pertumbuhan ekonomi rakyatnya mulai tumbuh dari kekuatan sendiri. Hal ini tercermin dari jumlah artikel ilmiah internasional mereka hanya 38% untuk Thailand dan 31% untuk Malaysia yang melibatkan peneliti asing.

Sementara data artikel Indonesia yang melibatkan peneliti asing sepanjang 10 tahun terakhir tetap berada di kisaran 70%.

Keterbatasan

Dengan jumlah perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset yang ada di Indonesia yang mencapai sekitar 3.000 institusi, peralatan penelitian pada institusi riset masih sangat kurang.Di sebagian besar laboratorium peralatan yang tersedia hanyalah peralatan gelas untuk praktikum dasar, sementara peralatan untuk penelitian yang lebih komprehensif sangat terbatas.

Pengiriman jumlah peneliti untuk mencapai gelar PhD di luar negeri harus diikuti dengan penyediaan dana dan peralatan penelitian di setiap laboratorium. Jika tidak, gelar PhD akan menjadi sia-sia dan tidak produktif.

Malaysia dengan jumlah PhD 8.000 orang pada 2008 mampu menghasilkan karya ilmiah pada jurnal internasional bergengsi sebanyak 8.000 lebih. Jumlah ini pun masih dirasa kurang oleh pemerintah Malaysia untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan inovasi-inovasi baru untuk kemajuan industri mereka.

Melalui MyBrain 15,Pemerintah Malaysia pada 2008 telah mensponsori hampir 4.000 orang untuk mengambil gelar PhD, 60% di antaranya studi di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, Australia,Jepang,dan Selandia Baru.Malaysia juga menargetkan akan mempunyai 60.000 orang PhD pada 2020.

Indonesia dengan jumlah PhD mencapai 23.000 orang hanya menghasilkan 1.233 artikel. Dengan kondisi begini, impian akan lahir pemenang nobel dari Indonesia hanya akan menggantung di awang-awang.

Grand Design

Indonesia yang kaya akan sumber daya alam (SDA) bisa menjadi raksasa dunia dalam bidang ekonomi jika para ilmuannya aktif meneliti dan mengkaji berbagai potensi sumber daya alam (SDA) yang tersedia. Dan juga sebaliknya, ketersediaan SDA Indonesia yang melimpah harus menjadi kekuatan dan tema besar dari peneliti-peneliti Indonesia.

Tanpa pengetahuan yang berbasis riset, akan sulit bagi kita untuk bernegosiasi dengan para pengusaha atau pelaku industri lainnya yang cenderung untuk membeli teknologi yang sudah jadi meskipun mahal. Harus ada satu kesatuan dari kekuatan potensi lokal sebagai sumber atau bahan penelitian dengan ketersediaan para peneliti dan dukungan peralatan dan dana.

Setiap institusi riset sudah harus memetakan kekuatan sumber daya manusia (SDM) dan SDA yang tersedia yang dapat menjadi bahan kajian. Adanya pusat-pusat keunggulan (center of excellence) yang tidak saling tumpang tindih antara satu lembaga riset dan lembaga riset lainnya termasuk tumpang tindih bidang kajian akan menjadi kekuatan raksasa jika bisa dikelola dengan baik.

Dana riset yang mulai dialokasikan dalam APBN dalam jumlah yang cukup besar.Beberapa universitas yang sudah menghasilkan doktor-doktor baru harus sudah berani mewajibkan para penelitinya untuk menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bergengsi.

Mungkin untuk awalnya bisa diterapkan bagi para peneliti yang mendapatkan dana penelitian di atas Rp100 juta,termasuk juga bagi mereka yang akan mendapatkan gelar doktor dari institusi pendidikan di Indonesia.

Memublikasikan hasil penelitian pada jurnal internasional dengan impact factor tinggi merupakan salah satu bukti pertanggungjawaban ilmiah dari penelitian yang dilakukan. Menulis artikel tidak sulit jika kita punya keinginan dan mau berlatih keras. Apalagi saat ini semua proses untuk pemuatan artikel di jurnal internasional dilakukan lewat internet.

Mulai dari proses pengiriman naskah,revisi,jawaban atas pertanyaan, hingga ke penerbitan dilakukan melalui sistem elektronik dan membutuhkan waktu yang tidak begitu lama.●

Sabtu, 23 Juli 2011

SAMBUTAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI pada acara LAUNCHING HARI KEBANGKITAN TEKNOLOGI NASIONAL KE-16

Jakarta, 14 Juli 2011
Bismillahirrahmaanirrahim
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Selamat Pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Saudara-Saudara Pimpinan Lembaga Pemerintah Kementerian maupun non-Kementerian, para tamu undangan, serta rekan-rekan wartawan.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita bisa hadir dalam acara peluncuran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-16 tahun 2011.

Dalam kalender kegiatan Peringatan Hakteknas ke-16 tahun 2011, sejak bulan Februari sampai dengan bulan Desember telah dan akan diselenggarakan berbagai kegiatan (event), yang diikuti oleh para pelajar-mahasiswa, dunia usaha, para peneliti dan perekayasa di berbagai lembaga pemerintah, para pemerhati Iptek, serta anggota masyarakat lainnya. Peringatan Hakteknas ke-16 juga diisi dengan berbagai pameran, seminar, maupun kegiatan-kegiatan lain yang menunjukkan keberhasilan kegiatan litbangrap Iptek dari lembaga litbang, perguruan tinggi, maupun pemerintah provinsi, kabupaten dan kota.

Puncak acara Peringatan Hakteknas ke-16 tahun 2011 ini, Insyaallah, akan dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2011 di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan.

Peringatan Hakteknas kali ini, mengambil tema “Inovasi untuk Kesejahteraan Rakyat”. Tema ini dipilih dengan harapan, agar SDM dan litbang Iptek mampu menghasilakan riset yang lebih aplikatif, memberi solusi nyata dan inovatif terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat dan dunia usaha, dan pemerintah, untuk meningkatkan kontribusi Iptek bagi kesejahteraan rakyat, daya saing produk industri, dan kemandirian bangsa.


Di samping itu Hakteknas merupakan wahana untuk menampilkan berbagai capaian kegiatan litbangrap Iptek sebagaimana diamanatkan UU No. 18 Tahun 2002 sekaligus menunjukkan tekad dan komitmen yang tinggi untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa inovasi (innovation nation).

Hadirin yang Saya hormati,

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, sebagai bagian yang terintegrasi dan berkelanjutan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2024. diarahkan untuk “Memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta penguatan daya saing perekonomian”.

Hadirin Sekalian,
Kita perlu melihat potret Daya Saing Indonesia, seperti yang disampaikan dalam Laporan WEF (World Economic Forum), mengenai Indeks Daya Saing Global Indonesia tahun 2010, di mana ranking daya saing kita terus mengalami peningkatan cukup tajam, dari ranking ke-54 di tahun 2009 meningkat menjadi ranking ke-44 di tahun 2010.

Laporan WEF 2010 juga menunjukkan bahwa ranking kemampuan inovasi kita cukup tinggi yaitu 36, Ini menunjukkan bahwa kapasitas lembaga litbang kita untuk mengembangkan teknologi dan inovasi dinilai cukup tinggi.

Sementara itu, ranking Indonesia untuk aspek kesiapan teknologi, atau technological readiness, yang merupakan indikator dari penggunaan teknologi, oleh industry dan masyarakat, masih sangat rendah yaitu berada di posisi 91.

Ini menunjukan bahwa kemampuan inovasi itu ternyata belum diiringi oleh pendayagunaannya secara optimal terutama oleh sektor industri kita yang merupakan motor penggerak ekonomi utama.

Data lain, hasil survey yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), pada bulan desember tahun 2010, terhadap lebih dari 29.000 perusahaan sedang dan besar, juga menunjukkan bahwa hanya 2% perusahaan melakukan inovasi teknologi secara intensif.

Hadirin yang Saya hormati,
Selama sektor industri kita belum memanfaatkan inovasi teknologi secara intensif untuk mengembangkan produk-produk nasional yang kompetitif di pasar global, maka daya saing kita sulit diharapkan untuk naik.

Untuk itu kita perlu meningkatkan interaksi antara lembaga penelitian dan perguruan tinggi –sebagai penyedia teknologi–dengan industri–sebagai pengguna teknologi.

Inilah yang menjadi fokus kebijakan Pembangunan IPTEK kita untuk menciptakan ruang agar terjadi kolaborasi yang baik antar aktor-aktor inovasi nasional dengan melakukan koordinasi dan intermediasi antara penyedia dan pengguna teknologi, memberikan insentif, mendorong pemanfaatan hasil litbang guna menyelesaikan permasalahan pembangunan, meningkatkan daya saing, memberikan layanan kepada masyarakat serta mencapai kemandirian bangsa.

Oleh karena itu kita perlu mengoptimalkan lembaga intermediasi ,untuk menjadi pusat-pusat kolaborasi dan inovasi, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Hadirin yang Saya hormati,
Kementerian Ristek juga akan mendorong upaya peningkatan kegiatan kreatifitas dan inovasi pemuda, menumbuhkan wirausahawan berbasis teknologi atau technopreneur-ship melalui training intermediator teknologi dan technopreneruship, serta pemanfaatan dan pendayagunaan hasil litbang nasional, untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional berbasis Iptek.

Diharapkan dengan siklus pengembangan dan pemanfaatan hasil litbang seperti ini, peningkatan kemampuan teknologi nasional akan meningkat secara siginifikan, dan secara bersamaan akan diiringi oleh peningkatan daya saing perekonomian kita secara kokoh.

Hadirin Sekalian Yang Saya Hormati,
Penciptaan ruang untuk kolaborasi bagi para aktor inovasi harus dilakukan secara sistematis melalui perwujudan sistem inovasi nasional (SINas) yang merupakan “panggung inovasi” yang menjadi tempat interaksi aktor-aktor inovasi dalam suasana yang kondusif untuk pembangunan ekonomi berbasis iptek.

Adalah hal yang sangat menggembirakan dengan diluncurkannya MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) 2011-2025 belum lama ini, maka pembangunan pilar-pilar dasar untuk menciptakan ruang yang optimal bagi berlangsungnya pembangunan ekonomi berbasis IPTEK itu telah menjadi agenda rencana aksi pemerintah secara nasional untuk mencapai VISI 2025, mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur.

Dalam hal ini penguatan sistem inovasi nasional (SINas) yang merupakan “panggung” kolaborasi bagi para aktor inovasi menjadi salah satu MISI utama untuk mencapai daya saing global yang berkelanjutan, menuju pembangunan ekonomi berbasis inovasi, untuk kesejahteraan rakyat. Ini merupakan misi besar bersama bagi para pemangku kepentingan atau insan Iptek nasional.

Akhirnya, dgn mengucap Bismillahirrohmaanirrohiim, secara resmi kami luncurkan (launching) Peringatan Hakteknas ke-16. Semoga seluruh rangkaian acara dapat berjalan lancar, aman dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jakarta, 14 Juli 2011
Menteri Negara Riset dan Teknologi,

Suharna Surapranata

Senin, 18 Juli 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Menangkap Cahaya dengan Nanoteknologi

“I cannot fail”
Dalam melakukan sesuatu kita kita harus yakin kita akan berhasil.
Kalo kita yakin 100% akan berhasil, maka kita pasti akan berhasil.

Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano

Dengan membuat sel surya berbahan baku Titanium Dioksida (TiO2) yang diproses hingga seukuran nano (10 pangkat minus sembilan meter), konversi cahaya matahari menjadi listrik menjadi sangat efisien.

"Nanoteknologi meningkatkan sensitivitas sel surya sehingga konversi cahaya matahari menjadi energi listrik lebih efisien," kata Dosen Fakultas Teknik UI Akhmad Herman Yuwono, peraih hibah Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) untuk risetnya, di Jakarta, Selasa.

Panel surya yang biasa digunakan untuk membangkitkan listrik di daerah terpencil masih diimpor dan sangat mahal, ia mencontohkan, panel surya yang biasa dijual di pasar berbahan baku silikon harganya mencapai Rp5 juta per panel.

"Jika penggunaan panel surya untuk menghasilkan listrik ini bisa lebih efisien, tentu dana pembelian panel ini bisa lebih diirit," kata Akhmad yang mengajukan proposal riset tersebut bersama dua rekannya dalam satu tim.

Saat ini, urainya, bahan baku sel surya TiO2 sudah mulai sering diriset untuk menggantikan bahan baku silikon, karena pembuatannya sederhana dan investasi pabriknya tak perlu dana besar seperti halnya pabrik silikon.

Pengembangan struktur nano, lanjut dia, secara khusus ditujukan untuk memperoleh perilaku transpor elektron dan penghasil muatan yang diinginkan sel surya sehingga mampu meningkatkan daya sensitivitas konversi cahaya matahari menjadi listrik hingga 8%.

Ia berharap, ke depan Indonesia yang merupakan negeri kepulauan dan membutuhkan banyak pembangkit listrik tenaga surya segera mampu membangun pabrik sel surya sendiri setelah mulai ditemukannya bahan baku pengganti yang proses pembuatannya lebih murah.

"Bersamaan dengan itu tentu saja perlu menggunakan nanoteknologi yang membuat sel surya lebih efisien," katanya.

Saat ini, ujarnya, juga sedang mulai dirintis riset-riset yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai zat pewarna yang digunakan untuk meliputi TiO2 sehingga makin sensitif menangkap cahaya matahari untuk dikonversi sebagai listrik. (kpl/roc)


Sumber:

Sabtu, 16 Juli 2011

Engineering Science

SCOPE OF WORK

Food Security and Safety
Food is a crucial matter for human being. Our research in food security and safety has become high priority and is always one of the main focuses of the research centers and technical implementation units (UPT). Development, engineering, and diversification of food products based on highly potential local commodities those are rich in nutrition, and function as additive properties. Activity performed in food area is an accomplishment effort to fulfill public nutrition need.

New and Renewable Energy
More people use more energy. Therefore, invention and development of alternative energy resources (contoh: solar, wind, geothermal, and bio-fuels) and energy conservation are very important as a substitution of limited fossil fuel. Alternative fuel for engine can be made from plants and animal's oil that has great advantages such as increasing engine life, reducing pollutant, and toxic waste; micro-hydro developed as source of energy for electrifying remote villages as well as using fuel cell, that utilizes hydrogen for generating electricity with high efficiency.

Applied Technology
Technology for transport and transportation management, IT and communication and defense and security as well as for environment are the key goals. Researchers are designing transportation system, carriage transmission system, and electrical automobile. Meanwhile, development of information technology and communications is in with development of information technology that include: data-mining based on real time analysis system, system information based on dynamic web, supervision system and real time commemoration for dissociation energy of diatomic generator, biometric technology for presence engine, the application of smart card based on java technology card for storage of medical data, and expansion of radar technology.

On the other hand, research and developments in defense and security technology concentrates on the replacement of imported defense technology with locally produced and to optimize defense and security management, meanwhile research in the environment area optimized environmental management by reducing environmental waste.

Health and Drugs
Healthy country and healthy people are important in building a healthy nation. In order to keep in line with the goals, our health and drugs researchers are based on the utilization of local commodities that highly potential for medical and therapeutics properties. Packaging of products yielded is also the main concern. Better package such as compact (soap), powder, liquid, and capsules gives amenity in usage or consumption. Thus, it will be able to increase their economic value.

Address:
Sasana Widya Sarwono LIPI, Lt. Ill
Jl.Jend. Gatot Subroto 10,Jakarta 12710.
Telp. (021) 5251586
Fax. (021) 5262376
e-mail: dep.ipt@lipi.go.id

Jumat, 24 Juni 2011

Indonesian National Laboratories and Technology Centers

Indonesian National

Laboratories and Technology Centers



A laboratory (pronounced /ləˈbɒrətəri, ˈlæbərətri/; informally, lab) is a facility that provides controlled conditions in which scientific research, experiments, and measurement may be performed. The title of laboratory is also used for certain other facilities where the processes or equipment used are similar to those in scientific laboratories. These notably include:

In recent years government and private centers for innovation in learning, leadership and organization have adopted "lab" in their name to emphasize the experimental and research-oriented nature of their work.

Scientific laboratories can be found in schools and universities, in industry, in government or military facilities, and even aboard ships and spacecraft. A new concept developed by a UK based lab is Lab Time Share which provides start up businesses with access to high quality laboratories and staff at a reduced cost[1] . A laboratory might offer work space for just one to more than thirty researchers depending on its size and purpose.

Sabtu, 18 Juni 2011

Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Menumpas Penyakit dengan Nanoteknologi

“If I never try, I’ll never know.”

Jangan takut bila kita dihadapkan pada suatu kesempatan dan kita bingung untuk mencobanya atau tidak.
Walau pun hasil dari mencoba ternyata mengecewakan,, tak usah sedih. at least kita punya pengalaman baru dan pelajaran yang akan membuat kita lebih dewasa.


Himpunan Mahasiswa Nanoteknologi Indonesia


Visi

Menjadikan Mahasiswa Indonesia berkemampuan iptek yang berdaya saing secara global melalui jejaring nanoteknologi.

Misi


* Melakukan pelatihan, seminar, kerjasama di tingkat nasional maupun internasional, dan kegiatan lain yang mendukung pengembangan nanosains dan nanoteknologi di Indonesia.

* Mengoordinasi dan mengkomunikasi penelitian lintas institusi keilmuan dalam bidang nano sehingga terjadi sinergisitas untuk memajukan IPTEK yang berdaya saing melalui jejaring nano (Nano-Network).

* Melakukan studi roadmap untuk penguasaan dan implementasi nanosains dan nanoteknologi, juga untuk isu-isu strategis dalam nanosains dan nanoteknologi, dan memberi masukan/saran kepada pemegang kepentingan terkait (Nano-Strategy).
* Kajian trend penelitian nano di dunia untuk menjaga kesinambungan informasi dalam hal IPTEK nano (Nano-Trend).

* Meningkatkan sosialisasi dan membangun kesadaran akan pentingnya penguasaan nanosains dan nanoteknologi dalam skala yang lebih besar melalui diskusi dan kurikulum sekolah (Nano-Education).





Program-program

1. Membangun jaringan penelitian nano teknologi di indonesia

2. Membangun Pusat Pendidikan Nanoteknologi Indonesia

3. 10 Tahun Kedepan tiap Provinsi mempunyai SMK Nano Teknologi Indonesia

4. 18 Tahun Mendatang Indonesia Mempunyai 800 Orang Peneliti Profesional Bidang Nano Teknologi

5. Memasyarakatkan Teknologi Nano

University researchers have built nanoparticles designed to cling to artery walls and slowly release medicine - a breakthrough that could help fight heart disease.

Scientists at MIT and Harvard Medical School yesterday announced that they teamed up to create what they're calling "nanoburrs," nanotechology that sticks to arteries the way that pesky burrs in the woods stick to your clothes. Researchers are hoping the nanoburrs can offer an alternative to surgically implanting arterial stents that, over time, release drugs to treat or prevent plaque build up on artery walls.

Plaque build-up, also known as atherosclerosis, is the leading cause of heart attacks and stroke. According to the American Heart Association, 831,272 people died in the United States in 2006 because of heart disease. That adds up to about one in three deaths.

"This is a very exciting example of nanotechnology and cell targeting in action that I hope will have broad ramifications," said MIT Institute Professor Robert Langer who is working on the project.

The nanoburrs, according to MIT, are designed to target a specific part of the artery, known as the basement membrane. The membrane lines the arterial wall but is only exposed when the artery is damaged. With the nanoburrs honing in on the membrane, they will only go after the damaged parts of the arteries.

Nanotechnology has been a key part of a lot of medical research in the past few years.

A team of British researchers announced earlier this month that they are set to begin a trial program by planting nanotechnology-based artificial arteries into humans. The artificial arteries are made of a polymer material that's combined with nanomaterials. Together, the materials can closely mimic natural vessels by pulsing along with the beating of the patient's heart.

Last October, Stanford University researchers reported that they had used nanotechnology and magnetics to create a biosensor designed to detect cancer in its early stages, making a cure more likely.

A month earlier, researchers at the University of Toronto announced that they had used nanomaterials to develop a microchip they say is also sensitive enough to detect early stage cancer. The chip is designed to detect the type of cancer and its severity.

In this latest research, the nanoburrs, which have been tested on rats so far, are injected intravenously.

"This technology could have broad applications across other important diseases, including cancer and inflammatory diseases where vascular permeability or vascular damage is commonly observed," said Omid Farokhzad, associate professor at Harvard Medical School and a researcher on the project.

Sources:

http://www.computerworld.com/s/article/9146078/Scientists_use_nanotech_to_prevent_heart_disease

Kamis, 16 Juni 2011

RESEARCH CENTER FOR LIFE SCIENCES


  1. To Guide the development of science and technology that rooted in Indonesia to be contributive for human welfare in general and Indonesian people in particular.
  2. To Find out the scientific truth, in which scientific freedom is recognized and guaranteed, as long as not in contrary to Pancasila and the 1945 Constitution.
  3. To prepare the establishment of Indonesian Academy of Sciences (Academy of Science)






To define the vision, the Deputy for Life Sciences then set the mission as follows:
  1. Providing scientific basis for policy making to keep composed and upheld the law supremacy related to the management of natural resources and environment while paying respect to the local and indigenous wisdom to strengthen the national unity as well as the competitiveness;
  2. Mastering science and technology in connection to the management of natural resources in order to conserve and empower Indonesia’s biodiversity assets as the driver for a fair sustainable development;
  3. Participating in the national intellectual life through the availability of a trusted institution, professional researchers, capable and reliable analysts and other technicians and supporting staff, the accredited research infrastructures, and being a center of excellence in the field of conservation and potential disclosure as well as the improvement of value-added natural resources;
  4. Strengthening cooperation and establishing networking among stakeholders both nationally and internationally in research, conservation, and biodiversity use from the level of ecosystems, populations, species and genes for the prosperity of the people of Indonesia and for the benefit of humanity;
  5. Building a strategic partnership by increasing the community and private sector participation and encouraging local government's role in conservation efforts, potential exploration, increasing the added value, and harnessing the potential of natural resources optimally, fairly, competitively and sustainably through a responsible management to improve the community welfare.